More

    Putri Bahari dan Semangat Konservasi Laut Indonesia

    ENCEP SUKONTRA

    Sampah di Indonesia menjadi persoalan serius bukan hanya di darat tetapi juga di laut. Sayangnya laut Indonesia yang luas itu berubah menjadi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) raksasa. Ironisnya, sampah – terutama sampah plastik – menjadi makanan hewan laut yang kemudian kembali ke darat untuk dikonsumsi manusia.

    Adithiyasanti Sofia, Putri Bahari 2012. FOTO : ENCEP SUKONTRA
    Adithiyasanti Sofia, Putri Bahari 2012. FOTO : ENCEP SUKONTRA

    Sea food yang kita makan bisa jadi sudah tercemar mikroplastik yang berbahaya bagi tubuh,” kata Adithiyasanti Sofia, Putri Bahari 2012, saat berbincang dengan KabarKampus di Bandung baru-baru ini.

    - Advertisement -

    Perempuan 27 tahun yang akrab disapa Titi menegaskan betapa berbahayanya jika kita tak peduli dengan laut, meskipun di daerah kita tidak ada laut. Contohnya, orang Bandung memang tidak memiliki laut, tetapi tetap saja harus peduli dan prihatin dengan kondisi laut Indonesia.

    “Buat saya bumi kan bulat, darat dan laut itu jadi satu. Mungkin kita dari darat berpikirnya buat apa mikirin laut karena kita tinggal di darat, jauh dengan laut. Tapi sadar tidak sadar kita suka makan sea food yang itu semua sumbernya dari laut,” ungkapnya.

    Tanpa kesadaran bumi itu bulat, tanpa dikotomi darat dan laut, manusia tidak akan memiliki kepedulian pada lautan. Kesadaran tersebut penting agar orang tidak larut dalam budaya konsumtif yang melahirkan sampah-sampah untuk dialirkan ke sungai dan bermuara ke laut.

    “Ketika kita tidak menjaga pola konsumsi bisa saja sampah-sampah kita di darat terhempas ke laut, dimakan hewan-hewan laut yang kemudian hewan-hewan itu kita makan kembali,” ungkap dara kelahiran Jakarta, 7 November 1988.

    Masa kecil Titi banyak dihabiskan di laut. Perjalanan hidupnya banyak dilalui secara berpindah-pindah, dari Jakarta pindah ke Bandung untuk menamatkan SD dan SMP, lalu pindah ke Batam, menghirup udara laut di sana. Lama di laut membuatnya ia tidak nyaman tinggal di kota, meski akhirnya di usia dewasa saat ini aktivitasnya menuntut kehadirannya di kota.

    Titi kemudian aktif di Savesharks Indonesia sebelum terpilih menjadi Putri Bahari 2012. Savesharks Indonesia merupakan organisasi yang konsen dalam penyelamatan hewan laut juga terumbu karang. Ia pernah melakukan penyelamatan penyu di Bali 2013. Dalam penyelamatan itu, perempuan jago diving ini harus lomba renang dengan penyu yang sedang memburu sampah plastik.

    Bentuk plastik yang transparan bagi hewan laut adalah ubur-ubur. “Saat plastik itu saya ambil, penyu itu menatap saya. Kalau orang mungkin dia akan ngomong kenapa makanan saya diambil,” katanya.

    Suatu pagi Titi dan komunitasnya melakukan operasi bersih di Kepulauan Seribu. Pagi itu kondisi pantai masih bersih dengan air yang jernih. Tetapi sore harinya ia mulai menyaksikan aliran sampah plastik yang berasal dari 13 sungai yang mengalir dari Jakarta.

    “Itu hanya di Indonesia barat, belum di daerah lainnya. Jadi laut dianggap muara sampah terbesar,” ujar alumnus Universitas Indonesia dan S2 London School Of Public Relations, Jakarta.

    Sumber-sumber sampah laut lainnya berasal dari para turis, para atlet yang melakukan olahraga air seperti diving dan snorkeling, termasuk kapal-kapal laut. Ciri pantai yang menjadi “TPA” adalah pantai yang ramai dikunjungi wisatawan. Parahnya, pantai-pantai tersebut kurang dilengkapi dengan tempat sampah.

    “Ternyata saya melihat kenapa ujung-ujungnya ketika main di pantai dan traveler membuang sampahnya ke laut karena memang di sana tidak ada tempat sampah, minim tempat sampah.”

    Ia yakin hal serupa terjadi di gunung-gunung yang biasa dikunjungi para pecinta alam. Di gunung sudah pasti tidak ada tong sampah. Tidak heran jika banyak pemberitaan pendaki gunung yang meninggalkan sampahnya di gunung.

    Titi dan rekan-rekannya kemudian membuat tas sampah portable yang bentuknya mirip jaring ikan. Ia mengkampanyekan penggunaan tas sampah portable tersebut kepada para traveler.

    “Memang ketersediaan tong sampah di area wisata terutama di pantai itu sangat kurang. Jadi kita sekarang mengedukasi untuk membawa tas sampah kita. Kita mengajak mereka membawa tas dalam bentuk apa pun ketika mereka sedang traveling,” katanya seraya menunjukkan tas sampah buatannya.

    Baginya, tugas Putri Bahari tidak lepas dengan konservasi bahari. Jauh sebelum terpilih Putri Bahari, sejak 2007 ia sudah konsen melakukan konservasi penyu, hiu, terumbu karang.

    Salah satu kampanyenya adalah mengingatkan para pecinta olahraga laut agar memerhatikan etika saat diving dan snorkeling. Karena salah satu penyebab kerusakan ekologi di laut adalah aktivitas diving dan snorkling yang kurang ramah lingkungan.

    Misalnya ketika snorkeling banyak injak karang; padahal saat menginjak atau menyentuh terumbu karang banyak sekali partikel atau ekosistem di dalamnya yang tidak terlihat mata tapi terganggu.

    Menurutnya ada teknik atau skill tertentu yang ramah lingkungan. Misalnya berusaha menjaga daya apung supaya tidak menyentuh karang. Skill tersebut bisa dilakukan dengan adanya kesadaran menjaga ekologi laut dan latihan. []

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here