More

    Masjid di Perth Diserang, Tembok Dicoret dan Mobil Dibom

    AUSTRALIA PLUS INDONESIA
    David Weber dan Nikki Roberts

    Senada dengan para pemuka masyarakat Islam, Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull mengutuk pemboman dan serangan grafiti anti Islam di luar masjid dan sekolah di Perth tenggara.

    Mobil yang terparkir di depan sekolah Islam di Perth hangus terbakar diduga akibat bom, Selasa (28/06/2016) malam. FOTO : Kimberley Howie/ABC PLUS
    Mobil yang terparkir di depan sekolah Islam di Perth hangus terbakar diduga akibat bom, Selasa (28/06/2016) malam. FOTO : Kimberley Howie/ABC PLUS

    Polisi memastikan sebuah mobil yang terparkir di depan masjid di daerah Perth tenggara, Australia, hangus terbakar akibat api yang menggunakan accelerant atau zat pemicu api. Peristiwa ini terjadi di Australian Islamic College dan masjid di daerah Tonbridge Way, Thornlie, sekitar pukul 8:00 malam, Selasa (28/06/2016).

    - Advertisement -

    Selain satu mobil hangus, empat mobil lainnya juga rusak akibat panas.

    Selain itu, sebuah tulisan anti Islam yang bernada penghinaan dituliskan di tembok pagar dekat lokasi kejadian namun telah dihapus.

    Tiga pria terlihat melarikan diri dari lokasi setelah serangan itu.

    Seorang imam masjid bernama Yahya Adel Ibrahim mengatakan ratusan jamaah sedang shalat di dalam gedung di saat terjadi serangan yang diperkirakan bom bensin, namun tak satu pun yang cedera.

    “Komunitas Perth didatangi kebencian malam ini,” kata Yahya Adel Ibrahim melalui akun Facebook.

    “Syukurnya komunitas kita tidak akan memulai kebencian dan saling menyalahkan dan menyasar kelompok tertentu dalam masyarakat,” tambahnya.

    “Ini tidak diragukan lagi merupakan kejahatan kebencian, namun merupakan tindakan perseorangan atau kelompok, bukan (masyarakat) lebih luas,” katanya.

    “Terlepas dari apa yang terjadi, semua orang tetap tinggal menyelesaikan shalat dan menolak tunduk pada teror yang barusan terjadi,” ujar Yahya Ibrahim lagi.

    PM Malcolm Turnbull juga mengecam serangan itu.

    “(Australia) dibangun di atas sebuah fundamental, sebuah pondasi saling menghargai. Itu aturan baku… saya menyesalkan dan saya tak punya kutukan lebih keras atas serangan semacam ini,” katanya kepada Macquarie Radio.

    Kepada ABC Perth, Yahya Ibrahim mengaku keterkejutan ini lebih diperberat lagi dengan kenyataan bahwa serangan terjadi di dalam bulan Ramadan.

    “Ada yang tidak beres di antara segelintir orang yang menyasar warga muslim dengan kebencian seperti itu,” katanya.

    Dia mengatakan grafiti bernada sama juga terlihat di masjid lainnya di Perth.

    Orangtua Murid: “Kami mengalami banyak kebencian”

    Orangtua murid di sekolah itu menyatakan kekhawatiran mengenai anak-anak mereka, namun salah satu di antaranya mengatakan serangan ini tinggal menunggu waktu.

    “Kami mengalami banyak kebencian, sebenarnya berupa rasisme,” kata seorang ibu bernama Zahra Alasadi.

    “(Tadi malam) merupakan salah satu malam paling suci dalam bulan Ramadan… orang parkir di luar sini untuk ke masjid, bisa saja mereka memang menyasar (muslim),” katanya.

    “Namun sisi sini adalah sisi sekolah, sisi sebelah adalah sisi masjid. Saya tidak tahu apa yang ingin mereka sampaikan (dengan serangan ini),” kata Zahra.

    Saksi mata bernama John mengatakan, dia dan sepupunya mendengar bunyi ledakan dan datang untuk melihat.

    “Kami berhenti dan melihat, dan sekitar 10, 15 detik kemudian, kami melihat tiga orang lari menyeberang jalan,” kata John.

    “Mereka akhirnya lari melalui jalan kecil,” ujarnya.

    “Langsung setelah kami melihat orang-orang itu melarikan diri, kami melihat api berkobar dari belakang rumah dan kelihatannya seperti ledakan besar… kelihatan seperti rumah yang terbakar,” tuturnya.

    “Ada mobil warna putih yang terbakar dan kami pikir, semoga tidak ada orang di dalamnya, dan syukurnya memang tidak ada,” kata John lagi.

    Pihak sekolah kecewa tapi terharu atas dukungan warga

    Kepala Sekolah Australian Islamic College Abdullah Khan kepada ABC Perth mengaku kaget dan kecewa atas serangan itu namun mengaku diyakinkan oleh dukungan yang diterima.

    “Saya menerima banyak telepon dari para politisi, kepolisian negara bagian, dari anggota komunitas lainnya tadi malam dan pagi ini,” ujarnya, Rabu (29/06/2016).

    “Saya ditelepon hampir sepanjang waktu, dan mereka menyampaikan dukungan dan mengutuk serangan ini,” kata Khan.

    “Hal itu sangat menggembirakan dan membuat kami percaya bahwa para pelaku tidak mewakili masyarakat Australia Barat yang cinta damai,” ujar Abdullah Khan.
    Dia mengatakan, sebelumnya telah bebarapa ada grafiti, namun bukan dalam waktu satu tahun. Dia menambahkan bahwa sekolah akan tetap buka hari ini.

    “Kami mengumumkan bahwa sekolah berjalan sebagaimana biasa dan murid-murid harus datang ke sekolah seperti yang mereka lakukan tiap hari,” kata Khan.

    “Para jamaah yang shalat tadi malam, tentu saja mereka keluar saat mendengar hal ini namun beberapa saat kemudian mereka melihat petugas tanggap darurat dan polisi sudah ada di situ, mereka pun kembali ke masjid dan melanjutkan ibadah shalat,” jelasnya.

    “Itulah pesan kami kepada orang-orang itu bahwa kami tidak akan menjadi bagian untuk mendukung agenda mereka,” katanya.

    Sementara itu Yahya Ibrahim menyatakan juga menerima banyak tawaran bantuan dan dukungan dan percaya bahwa “kekejaman yang dipicu kebencian” justru akan mempersatukan masyarakat, bukan memecah-belah mereka.

    “Australia dibangun di atas persekutuan dan persahabatan dan memberi kesempatan sama bagi semua orang dan penerimaan dan kasih sayang… kami tak akan membiarkan hal itu berubah di tangan segelintir kriminal,” ujarnya.

    Polisi meminta semua pihak yang memiliki informasi untuk menghubungi layanan Crime Stoppers. []

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here