More

    Bekerja di UN Berkat Pengalaman Volunter Saat Mahasiswa

    dr Ridwan Gustiana, international staff di UN. Foto : Ahmad Fauzan
    dr Ridwan Gustiana, international staff di UN. Foto : Ahmad Fauzan

    Rambutnya gondrong dan kerap menggunakan celana pendek. Namun pria ini mengaku itulah pakaiannya bekerja sehari-hari. Namanya adalah dr. Ridwan Gustiana Msc-IPPHA, seorang dokter yang bekerja pada badan internasional United Nation (UN).

    Pria yang akrab disapa dr. Jack ini telah bergabung dengan UN sejak tahun 2005 hingga sekarang. Ia mengawali karirnya di UN sebagai Health and Nutrition Officer, UNICEF Nias, Sumatera Utara pada tahun 2005 dan sejak 2013 hingga sekarang bertugas di UNICEF Vanuatu sebagai Expanded Program of Immunization Officer.

    dr. Jack mengaku, apa yang membuatnya bisa bekerja di UN adalah pengalaman menjadi volunter sejak mahasiswa. Ia pernah bergabung dengan Mitra Citra Remaja yang merupakan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia di Kota Bandung. Tugasnya adalah membantu memberikan pendidikan kesehatan untuk anak jalanan, pekerja seksual komersil remaja, dan sebagainya.

    - Advertisement -

    “Saya masuk kuliah tahun 94, awal-awal tentu berkegiatan di kampus. Setelah dua hingga tiga tahun, kampus ternyata ngga cukup untuk melakukan kegiatan. Saya kemudian mulai mencari kegiatan di luar,” ungkap dr Jack yang pernah menempuh pendidikan S1 di Fakultas Kedoteran Universitas Padjajaran (Unpad).

    Sejak itu, selain kuliah dr. Jack melakukan kegiatan volunterisme bersama Mitra Citra Remaja. Ia berkegiatan berkeliling sampai Pantura untuk memberikan konseling kepada PSK agar mencegah penyakit seksual yang menular. Hal ini dilakukannya sampai lulus kuliah tahun 1999.

    Bagi pria yang ketika kuliah juga aktif di kelompok mahasiswa pecinta alam di Atlas Medical Pioneer FK Unpad ini, menjadi mahasiswa itu enak. Dia tidak perlu mikirin uang. Waktu luang yang dimiliki pun banyak dan terjadwal.

    “Saya jam 7 sampai jam 2 kuliah. Kemudian selanjutnya ngga ada apa apa. Waktu luang ini mau dipakai untuk apa. Saya kemudian memilih berkegiatan di luar dan terjun di masyarakat,” katanya.

    Dr. Jack bercerita, ia sebenarnya, tidak kepikiran untuk terus bekerja menjadi volunter. Namun setelah menyelesaikan coas pada tahun 2002, ia diajak sebuah LSM international untuk menjadi dokter di Pulau Hoga, Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Selama beberapa tahun tinggal di sana, ia juga membantu para peneliti dari Inggris yang melakukan penelitian.

    Di selang bekerja sebagai dokter di Wakatobi, dr. Jack juga sempat ke Ambon saat terjadi konflik Horisontal. Ketika itu, dr Jack harus berlayar seorang diri selama 20 hari untuk memberikan pengobatan kepada pengungsi konflik. Kemudian setelah dari Wakatobi, Ia pun langsung berangkat ke Aceh untuk menjadi relawan.

    “Dari sana, saya mulai ditawarin bekerja di UN untuk program Malaria di Nias,” terang dr. Jack menceritakan pengalamannya pertamanya ditawari bekerja oleh UN.

    dr. Jack mengaku, UN tertarik kepada dirinya, karena sejak kuliah ia terbiasa menjadi relawan, kemudian memiliki dasar ilmu kesehatan, dan pernah bekerja di Maluku. Dari sana juga, ia baru menyadari, kalau setiap orang bisa bekerja di UN.

    Meski banyak mendapat tawaran kerja, setelah selesai mengerjakan program Malaria di Nias, dr. Jack memutuskan untuk membesarkan IBU Foundation, yaitu sebuah organisasi yang didirikannya ketika Tsunami di Aceh. Sebuah organisasi yang bertujuan melatih para orang muda yang  ingin mempunyai keterampilan dan skill agar bisa bekerja maksimal dalam keadaan bencana.

    Kemudian baru pada tahun 2013, ia dipanggil lagi kembali oleh UN untuk bekerja di Vanuatu sebagai ahli imunisasi. Hingga sekarang, ia masih mengerjakan program yang sama di Vanuawatu.

    Menurutnya, bekerja di UN sebenarnya tidak membutuhkan IPK besar, karena yang akan selalu ditanya adalah, pengalaman bekerja di masyarakat dan tentunya kompetensi. Selain itu adalah multikultural, integritas, dan teamwork.

    “Hal itu hanya diajarkan atau didapatkan di organisasi atau langsung ke masyarakat,” ungkap dr. Jack yang saat ini ia sudah menjadi PNS di UN alias telah menjadi international civil serpent.

    Pria yang lulus gelas S1 dengan IPK PMDK alias Persatuan Mahasiswa Dua Koma ini menamatkan gelar masternya di Liverpool School of Tropical Medicine, Liverpool International Public Health and Humanitarian Assistance. Selain itu ia juga merupakan Co-Founder Rumah Solusi,. Training and consultancy enterprise, menjadi dosen tamu Disaster Management, Public Health Department, di FK Unpad, serta menjadi LSTM-DGHS, Ministry of Health Punjab Province, Pakistan July 2010 – May 2011.[]

     

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here