More
    Home UTAMA PERISTIWA Kodam III Siliwangi Anggap Perpustakaan Jalanan Meresahkan

    Kodam III Siliwangi Anggap Perpustakaan Jalanan Meresahkan

    Kegiatan Perpustakaan Jalanan di Taman Cikapayang, Bandung. Foto : Frans
    Kegiatan Perpustakaan Jalanan di Taman Cikapayang, Bandung. Foto : Frans

    BANDUNG, KabarKampus – Kodam III Siliwangi menegaskan akan tetap melaksanakan penertiban terhadap komunitas geng motor dan komunitas yang berkumpul serta tidak mengikuti aturan yang berlaku. Termasuk kegiatan Perpustakaan Jalanan yang dianggap menjurus kepada aktivitas negatif dan meresahkan.

    “Kegiatan penertiban yang dilaksanakan oleh Kodam III Siliwangi pada saat itu dilaksanakan dikarenakan petugas di lapangan melihat bahwa aktivitas yang mereka lakukan dapat menjurus kepada aktivitas negatif dan meresahkan,” kata Desi Arianto, Kepala Penerangan Kodam III Siliwangi dalam keterangannya kepada media terkait pembubaran paksa dan pemukulan terhadap pegiat Perpustakaan Jalanan, Senin, (22/08/2016).

    Menurut Desi Arianto, mereka menganggap Perpustakaan Jalanan menjurus ke arah yang meresahkan dengan sejumlah alasan. Alasan pertama, mengapa kegiatan membaca buku – buku tersebut harus dilaksanakan dengan berkumpul di suatu tempat pada malam hari?

    “Bukankan penerangan pada malam hari tidaklah sebaik pada siang hari, bukankah hal ini menjadi suatu yang aneh? Dan mengapa menambah ilmu membaca buku dilaksanakan malam hari di taman – taman yang penerangannya tidak baik, apakah tidak ada lagi tempat di bandung ini yang lebih baik?” kata Desi Arianto.

    Kemudian alasan kedua, mengapa kegiatan ini harus dilakukan lebih dari pukul 23.00 WIB. Bukankah waktu tersebut sudah cukup larut untuk melakukan kegiatan berkumpul, bahkan bisa jadi bukanlah kegiatan berkumpul untuk sesuatu yang positif tetapi malah nantinya menjadi suatu yang negatif.

    “Contoh sudah ada yaitu komunitas atau geng motor yang selama ini berkumpul untuk kegiatan positif malah melakukan kegiatan yang mengarah kepada kriminalitas,” tambahnya.

    Selanjutnya, Kodam III Siliwangi juga mempertanyakan kredibilitas dari buku-buku yang dibawa perpustakaan jalanan. Apakah sudah terlebih dahulu diketahui kredibilitasnya, apakah benar buku – buku tersebut adalah buku – buku yang diijinkan untuk dibaca oleh kaum muda, atau malah buku – buku yang di dalamnya berisi topik yang tidak sesuai.

    “Tentu saja akan lebih baik bila komunitas ini berlapor dahulu kepada instansi pemerintah terkait seperti pemda, pemkot atau dinas pendidikan dan kebudayaan setempat,” terang Desi Arianto.

    Perpustakaan Jalanan Bandung berdiri sejak tahun 2010. Gerakan literasi yang digagas mahasiswa dan anak muda Bandung ini bertujuan untuk memberikan kesempatan warga yang ada di Taman Cikapayang untuk membaca buku secara gratis. Pada Sabtu malam sekitar pukul 23.00 WIB, Perpus Jalananan ini dibubarkan paksa oleh sekitar 30 Anggota TNI Kodam III Siliwangi.[]

    - Advertisement -

    8 COMMENTS

    1. DIANGGAP menjurus ke arah yang tidak disukai lalu disikat.
      Berkumpul di malam hari untuk baca buku DICURIGAI dan disamaratakan dengan geng motor.
      PENERANGAN buruk? Semangat membaca perlu diapresiasi karena tidak semua orang punya akses ke perpustakaan yang ber ac dan berlampu terang. Perilaku jemput bola untuk MENCERDASKAN anak bangsa dipandang remeh. KREDIBILITAS BUKU dari sisi pandang penguasa selalu bermakna ganda, baik buruknya bukan pada ILMU PENGETAHUAN tapi lebih pada pemakaiannya. Melakukan hal yang diamanatkan UUD harus melapor? Bagaimana kalau pegawai (yang digaji) negara yang proaktif berkeliling dan duduk bersama masyarakat, sebagaimana mereka digaji negara untuk melayani masyarakat. Kalau bilangnya berdasarkan aturan yang berlaku, tolong dicantumkan aturan yang mana, supaya bisa kita telaah beramai ramai.
      Terimakasih, salam damai untuk dunia yang lebih baik

    2. Lah, ngapain juga kalian patroli dan penertiban. Itu kan urusan satpol pp.
      Mendingan kamu cari pelaku pemukulannya dan serahkan ke polisi.
      Tolak Militerisasi Kota.

    3. Saran saya, coba oleh Kodam III Siliwangi di monitor dulu kegiatan yang mereka lakukan sebelum mengambil kesimpulan seperti yang diatas. Walaupun memang benar bahwa membaca di malam hari sangatlah tidak masuk akal, tapi coba lihat dari sisi positifnya juga. Misalkan, mungkin mereka mengadakan kegiatan tersebut dimalam hari karena di siang hari mereka bekerja. Saya kurang setuju apabila Kodam III Siliwangi langsung membubarkan dan mencurigai kegiatan tersebut tanpa ada bukti fisik bahwa kegiatan tersebut bersifat negatif. Dengan niat menyediakan buku gratis untuk dibaca saja menurut saya itu sudah harus di apresiasi positif

    4. Karena ini bukan dalam situasi darurat perang dan hanya lingkup masalah kamtibmas bukan masalah pertahanan, maka sebaiknya yg menangani adalah institusi kepolisian dan pemda melalui aparat satpol pp, bukan wilayah tugas dan kewenangan tentara.

    5. Sesuaikan saja job description nya cuy, jangan terlalu jauh masuk ke ranah instansi lain biar ada wibawa anda sebagai pilar bangsa ini. Masyarakat butuh pengayoman bukan penindasan, cari tau kebenaran Nya dulu bukan sekedar prediksi yg gak beralasan Dari laporan intelijen anda yg gak akurat. Semoga di kemudian hari anda bisa lebih bijak dan santun dalam menghadapi masyarakat krn gaji, pakaian. Atribut senjata dan alutsista itu di beli Pakai uang rakyat.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here