More

    Limbah Botol dan Perjuangan Agung Meraih Master

    ENCEP SUKONTRA

    Agung Pramudya Wijaya berhasil membawakan konser musik “Suara Limbah” untuk meraih gelar master pada Ujian Akhir Penciptaan Seni Musik di Program Pascasarjana Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), Bandung. Ia lulus dengan nilai tertinggi.

    Agung Pramudya Wijaya
    Agung Pramudya Wijaya

    “Alhamdulillah nilainya paling maksimal, 4 dari sekala 4,” ungkap Agung Pramudya Wijaya, kepada KabarKampus, usai pertunjukkan yang berlangsung di Gedung Kesenian Dewi Asri ISBI, Kamis (08/09/2016) malam.

    - Advertisement -

    Dosen desain produk Institut Teknologi Nasional (Itenas), Bandung, ini menempuh Program Pascasarjana ISBI, Bandung, sejak dua tahun lalu. Sejak itu ia menggeluti riset musik dari limbah botol.

    Dari bahan botol bekas, ia membuat beragam alat musik mulai alat tiup, pukul, gesek, petik yang semuanya berbahan dasar botol bekas. Misalnya gittol (gitar botol) dan basstol (bass botol), yang dibuatnya hasil kerja sama dengan perusahaan gitar Secco.

    “Untuk gitar penggarapannya sangat serius, dalam pengertian untuk bikin gitar dan bass botol saya dua bulan diam di Secco,” kata pria kelahiran Seragen 1974 ini.

    Semua alat musik yang ia buat dipentaskan dalam konser “Suara Limbah”. Konser ini lahir dari keprihatinannya terhadap kondisi lingkungan yang makin hari makin tercemar sampah, termasuk sampah botol.

    Selain menggelar konser, Ujian Akhir Penciptaan Seni Musik di Program Pascasarjana ISBI Bandung menuntut mahasiswanya membuahkan tesis. Sehingga ada tugas pertunjukkan dan ada tugas membuat tesis sebagai pertangungjawaban karya pertunjukkan.

    Judul tesisnya sama dengan judul konser, yakni “Suara Limbah.” “Tesis ini sebagai dasar ilmiah pertunjukkan,” jelas bassis band Cherry Bombshell itu.

    Ia mengungkapkan garis besar tesisnya, bahwa konser nontematik eksperimental itu termasuk penemuan (invention)-nya di bidang petunjukkan seni musik. Umumnya seorang musisi sebelum mencipta karya terlebih dahulu menuliskan notasi musiknya, setelah itu masuk pada sesi latihan hingga pertunjukkan.

    Sedangkan Agung Pramudya Wijaya melakukan proses terbalik. Ia mengumpulkan botol-botol bekas, kemudian merisetnya, lalu masuk pada proses pembuatan alat musik dengan cara trial and error. Setelah alat musik jadi, ia dan band yang dibentuknya, The Muslim (Musik Limbah), terlibat dalam proses latihan mengeksplorasi alat musik.

    “Setelah pertunjukkan baru ditulis notasinya. Jadi prosesnya terbalik. Inti tesisnya sebuah penelitian yang bermuara pada penemuan baru, yakni alat musik alternatif dari limbah botol dan penemuan konsep pertunjukkan musik,” terangnya.

    Agung Pramudya Wijaya mengatakan, meski musik dari limbah botolnya sebagai penemuan baru, namun pendekatan eksperimental yang digunakan dalam penelitiannya sudah lama dilakukan musisi dunia. Pendekatan ini misalnya dipakai komponis Amerika Serikat, John Cage, yang merupakan pelopor musik baru.

    Pada konser “Suara Limbah”, pendekatan eksperimental menghasilkan enam komposisi. Komposisi pertama berupa beragam bunyi dari botol yang dihasilkan dengan cara ditepuk, dipukul, ditiup, digesek, dipetik.

    Namun pada nomor berikutnya terdapat komposisi berjudul Galindeng Asmarandana. Berbeda dengan komposisi sebelumnya yang lebih menekankan pada eksplorasi bunyi, Galindeng Asmarandana menghadirkan musik yang harmoni yang mengiringi vokal.

    “Lirik Galindeng Asmarandana ditulis sarjana filologi Unpad, Sinta Ridwan. Liriknya diartikan sebagai penggambaran sebuah pencarian, bahwa proses yang saya lakukan ini sebagai proses pencarian. Dari mulai nyari botol sampai pada akhirnya menemukan harmoni,” ungkapnya.

    Menurutnya, masa depan musik limbah botol masih sangat panjang. Masih banyak yang bisa digali, masih luas eksplorasi untuk menghasilkan karakter suara limbah botol.

    Di luar kesibukannya sebagai dosen, Agung aktif di band Cherry Bombshell sejak 1995. Rencananya, Cherry Bombshell siap-siap rekaman album keempat. Ia mengaku, aktivitas ngebandnya sempat terhambat kuliah.

    “Selama ini saya fokus dulu kuliah, walau manggung-manggung masih tetap jalan,” kata ayah satu anak ini. []

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here