More

    Termotivasi Paman, Bapak, dan Sensasi JAF

    Sejak kecil Elgea Balzarie “terpapar” dengan praktek seni dan budaya. Membuatnya banyak bergaul dengan seniman. Meski menyukai seni, ia lebih memilih kuliah psikologi.

    Elgea Balzarie, mahasiswi Psikologi Unisba. FOTO : IMAN HERDIANA
    Elgea Balzarie, mahasiswi Psikologi Unisba. FOTO : IMAN HERDIANA

    Elgea Balzarie ingin mengikuti jejak paman dan bapaknya yang merintis komunitas seni di kampung halamannya, Jatiwangi. Minat ini membuat Gea—demikian dara berkerudung ini disapa—harus sering pulang kampung di sela kuliahnya.

    “Saya suka seni, terus suka disuruh bapak juga,” kata Gea, saat berbincang dengan KabarKampus, baru-baru ini.

    - Advertisement -

    Gea, mahasiswi Universitas Islam Bandung (Unisba), ialah generasi muda Jatiwangi. Ia lahir dan tumbuh di lingkungan seni yang kental. Paman Gea, yakni Arif Yudi Rahman dan bapaknya, Ginggi Syarif Hasyim, bukan orang sembarangan.

    Baik Arif Yudi Rahman maupun Ginggi Syarif Hasyim, merupakan tokoh-tokoh pendiri komunitas seni Jatiwangi Art Factory (JAF). Sepak terjang kedua bersaudara ini membuat nama JAF dikenal baik di kalangan seniman maupun pecinta seni Tanah Air, bahkan luar negeri.

    Sejak kecil ia menyaksikan fase demi fase perubahan di kampungnya. Ketika JAF didirikan pada 27 September 2005, Gea baru berusia 7 tahun, sehingga pendirian komunitas yang fokus terhadap kajian kehidupan lokal pedesaan lewat seni dan budaya itu sedikit banyak memengaruhinya.

    JAF memberi warna baru bagi peta kesenian di Indonesia. Mereka menyikapi perubahan Jatiwangi akibat pembangunan dengan festival, pertunjukan, seni rupa, musik, video, keramik, pameran, residensi seniman, diskusi bulanan, pendidikan, siaran radio dan televisi.

    Dalam perkembangan berikutnya, JAF menjadi tempat residensi bagi seniman dalam dan luar negeri, dari Inggris, Belanda, Polandia, dan lain-lain. Di mata Gea, paman dan bapaknya dua sosok yang “bertentangan”. Pembawaan Arif Yudi Rahman kalem dan banyak gagasan, sedangkan Ginggi Syarif Hasyim tegas dan pekerja keras.

    “Keduanya sama-sama inspiratif,” kata dia.

    JAF yang memiliki seabrek agenda membutuhkan partisipasi masyarakat khususnya warga Jatiwangi. Gea sendiri sering diminta membantu-bantu beragam acara.

    “Kalau lagi kosong kuliah, diminta balik dulu sama bapak,” katanya. Baru-baru ini ia ikut sibuk menggarap Village Video Festival (VVF) 2016. Salah satu video yang turut ia buat bersama bapaknya adalah tentang profil desa. Uniknya, video ini menceritakan kiprah ibu-ibu PKK di Desa Sindangwangi, Kecamatan Jatiwangi.

    Video tersebut diberi judul “The Power of Ibu-ibu PKK”. Sebagaimana judulnya, vodeo ini menceritakan ibu-ibu PKK desa. Desa Sindangwangi dipilih karena memiliki potensi sumber daya manusia maupun alam. Di situ juga tumbuh budaya lokal yang harus dikembangkan.

    “Kata bapak, ibu-ibu itu punya kekuatan tangan magis. Kalau laki-laki kan punya gagasan, nah perempuan punya cekatan buat menjalankan gagasan itu,” kata Gea, menirukan ucapan sang bapak.

    Beruntung, respons warga dalam membuat video cukup bagus, juga didukung camat di sana yang sebelumnya menjadi camat Jatiwangi. Jika desa Jatiwangi sudah menjadi desa pariwisata, diharapkan menular ke Desa Sindangwangi.

    Meski bercita-cita mengikuti jejak paman dan bapaknya sebagai seniman, Gea mengambil kuliah ilmu psikologi. Pilihan jurusan ini tak lepas dari pengaruh lingkungan juga, terutama ibunya.

    “Awalnya mau ngambil seni,” kata perempuan kelahiran 18 Juli 1997, “terlebih ibu saya tidak begitu suka seni. Katanya seni terlalu bebas. Jam kerja juga nggak jelas.”

    Anak pertama dari empat bersaudara ini memaklumi pandangan ibunya, Ana Merliana, yang awam terhadap seni. “Saya suka seni mungkin karena terbawa lingkungan juga.”

    Mahasiswa yang hobi musik dan bernyanyi ini merasa bangga ketika berada di tengah masyarakat Jatiwangi yang terlibat perhelatan Festival Musik Keramik, festival musik tiga tahunan yang pertama kali digelar 2012. Ribuan warga Jatiwangi selalu tumplek di festival yang dihelat di lapangan bekas pabrik genteng di Kecamatan Jatiwangi itu.

    Untuk membayangkan sensasi festival Festival Musik Keramik, tentu kamu harus ke sana. []

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here