More

    Tarian Bertema Agama Lebih Personal dan Dalam

    Selama mengeluti dunia tari, Lena Guslina jarang membawakan tarian bertema religi. Sekali membawakan tari sufistik menimbulkan kesan mendalam.

    Lena Guslina, seniman tari kontemporer asal Bandung. FOTO : IMAN HERDIANA

    Tarian itu ia bawakan ketika seniman Jeihan Sukmantoro menggelar pameran tunggal bertema religi: “Sufi/Suwung”, di Studio Jeihan, Bandung, awal Ramadan lalu. Lena membawakan tari berjudul “Suwung”. Tari ini didominasi gerakan berputar diiringi lagu sufi khas Timur Tengah.

    Usai menari, Lena mengaku mendapat pengalaman baru. Sebelumnya dia lebih banyak mengolah tarian bertemakan alam atau lingkungan.

    - Advertisement -

    Ia mengatakan, tariannya berusaha menggambarkan puisi karya Jeihan yang juga berjudul Suwung, bahwa segala sesuatunya akan kembali ke Ilahi. Dalam tari tersebut, ia mengelilingi bambu yang berdiri di di tengah panggung sebagai poros. Mengenakan kain serba putih, ia berputar-putar seperti tawaf.

    “Bahwa perputaran akan tetap pada porosnya, akan kembali ke Ilahi. Intinya apa pun yang manusia lakukan pasti akan kembali ke yang Maha Kuasa. Suwung itu kosong, tapi yang kosong itu adalah isi, sebenarnya,” terang Lena, kepada KabarKampus.

    Meski secara pribadi mendapat pengalaman mendalam, ia merasa banyak kekurangan dalam membawakan tari religi. Menurutnya, tarian sufistik lebih dari menyajikan gerak, tetapi berusaha menyajikan kedalaman tarian.

    Faktor Ramadan juga memberi pengaruh. Suasana puasa menuntutnya bekerja keras dalam berimajinasi. “Bagaimana nuansa Islaminya lebih kental, apalagi dalam suasana Ramadan,” ujar perempuan kelahiran Bandung ini.

    Beruntung ia dibantu tim penata musik dan artistiknya yang mampu menghadirkan suasana Ramadan selama pertunjukan.

    Ke depan, lulusan STSI Bandung (kini ISBI) 2001yang mengelola Legus Studio mungkin akan mengolah tarian dengan tema agama. Apalagi akhir-akhir ini tema agama yang dibumbui unsur politik menguat. Lena mengaku tidak suka politik, tetapi ia akan mempertimbangkan tarian dengan tema agama dalam perform selanjutnya.

    “Politik tidak, saya nggak tertarik. Agama baru kali ini, tapi ternyata kesannya dalam, lebih ke personal,” ujarnya.

    Bagaimana ia menyikapi isu agama yang lagi ramai belakangan ini? “Kalau isu agama mungkin mensikapinya mesti lebih cantik bukan memperkeruh kan, ya. Kalau sudah keruh kita harus mempercantik.” []

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here