More

    Tentang Logika Aristoteles

    Penulis : Ahmad Yulden Erwin

    Foto : Patung Aristoteles

     

     

    - Advertisement -

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    1. HUKUM-HUKUM LOGIKA KLASIK

    Kita sering sekali gagal untuk bernalar dengan benar dan sering pula mencampuradukkan segalanya, sehingga yang terjadi adalah kekacauan berpikir. Belum lagi ditambah dengan “sesat pikir secara material”, sesat pikir yang penalarannya diakibatkan bukan berdasarkan argumen dan bukti-bukti, tetapi semata berdasarkan personalitas orang yang berargumen (bisa dalam bentuk menghina, minta dikasihani, menggunakan kharisma tokoh, mengancam, dan seterusnya).

    Untuk mencegah kekacauan berpikir itu, seorang filsuf Yunani telah menetapkan hukum-hukum untuk bernalar dengan benar, yang sekarang dikenal sebagai logika klasik. Aristoteles (384 SM – 322 SM), nama filsuf Yunani itu, mendasarkan logika pada empat prinsip sebagai berikut:

    1. Hukum Identitas (Law of Identity)
    Hukum ini berbunyi: “Suatu hal adalah hal itu sendiri, tak mungkin yang lain. Dan jika disimbolkan akan berbunyi “A adalah A, tak mungkin B”. Jadi, arti yang benar dari suatu benda atau hal adalah sama selama benda atau hal itu dibicarakan atau dipikirkan. Kita tak boleh mengubah atribut-atribut dari benda atau hal itu sendiri, karena jika kita mengubah atribut-atribut itu sendiri berarti konsep dari benda atau hal itu pun akan berubah pula.

    2. Hukum Kontradiksi (Law of Contradiction)
    Hukum ini menyatakan bahwa dua sifat yang berlawanan tidak mungkin ada pada suatu benda atau hal pada waktu dan tempat yang sama. Atau jika kita analogikan, “meja itu berwarna hijau dan pasti berwarna hijau”, tidak mungkin berbunyi “meja itu berwarna hijau dan tidak berwarna hijau”, atau contoh yang lainnya, “benda itu bentuknya besar dan kecil”.

    3. Hukum Jalan Tengah (Law of Ecluded Middle).
    Sekilas, prinsip atau hukum ini terlihat sama. Hukum Jalan Tengah menyatakan bahwa dua sifat yang berlawanan tidak mungkin dimiliki satu benda, hanya satu sifat yang bisa dimiliki oleh suatu benda. Contoh, “A” harus “B”, atau “bukan B”. Pada hukum kontradikisi, dua sifat tidak mungkin benar pada suatu benda, salah satunya haruslah bernilai salah. Dan pada hukum penyisihan jalan tengah, dua sifat yang berbeda tak mungkin bernilai salah pada suatu benda, salah satunya harus ada yang bernilai benar. Jadi, jika kedua prinsip ini digabungkan, maka kebenaran salah satu dari dua hal yang berkontradikisi, menunjukan kesalahan yang lainya dan kesalahan yang satu menunjukan kebenaran yang lainya.

    4. Hukum Cukup Alasan
    Hukum ini sebenarnya adalah hukum tambahan dari hukum identitas. Hukum ini mengatakan, “Jika ada sesuatu kejadian pada suatu benda, hal itu harus mempunyai alasan yang cukup.” Demikian juga jika ada perubahan pada suatu benda itu”. Contoh, “air membeku”, air membeku karena adanya suhu di bawah titik beku di sekitar air itu, dan suhu itu bertahan dengan waktu yang cukup lama untuk membekukan air tersebut. Kenapa hukum ini merupakan hukum tambahan dari hukum identitas? Karena secara tidak langsung, hukum ini menyatakan bahwa suatu benda haruslah tetap, tidak berubah. Adapun jika ada perubahan/penambahan, harus ada sesuatu yang mendahuluinya, yang cukup untuk menyebabkan perubahan tersebut.

    2. TENTANG SESAT PIKIR (LOGICAL FALLACY)

    Fallacy berasal dari bahasa Yunani fallacia yang berarti ‘sesat’. Logical Fallacy didefinisikan secara akademis sebagai kerancuan pikir yang diakibatkan oleh ketidakdisiplinan pelaku nalar dalam menyusun data dan konsep, secara sengaja maupun tidak sengaja. Hal ini juga bisa diterjemahkan dalam bahasa sederhana sebagai berpikir ‘ngawur’.

    Ada dua pelaku fallacy yang terkenal dalam sejarah filsafat, yaitu mereka yang menganut Sofisme dan Paralogisme. Disebut demikian karena yang pertama-tama mempraktekkannya adalah kaum sofis, nama suatu kelompok cendekiawan yang mahir berpidato pada zaman Yunani kuno. Mereka melakukan sesat pikir dengan cara sengaja menyesatkan orang lain, padahal si pengemuka pendapat yang diserang sebenarnya justru tidak sesat pikir. Mereka selalu berusaha memengaruhi khalayak ramai dengan argumentasi-argumentasi yang menyesatkan yang disampaikan melalui pidato-pidato mereka agar terkesan kehebatan mereka sebagai orator-orator ulung. Umumnya yang sengaja ber-fallacy adalah orang menyimpan tendensi pribadi. Sedangkan yang berpikir ngawur adalah orang yang tidak menyadari kekurangan dirinya atau kurang bertanggungjawab terhadap setiap pendapat yang dikemukakannya atau biasa disebut dengan istilah paralogisme.

    Fallacy sangat efektif dan manjur untuk melakukan sejumlah aksi tak bermoral, seperti mengubah opini publik, memutar balik fakta, pembodohan publik, fitnah, provokasi sektarian, pembunuhan karakter, memecah belah, menghindari jerat hukum, dan meraih kekuasaan dengan janji palsu.

    Begitu banyak manusia yang terjebak dalam lumpur “fallacy”, sehingga diperlukan sebuah aturan baku yang dapat memandunya agar tidak terperosok dalam sesat pikir yang berakibat buruk terhadap pandangan dunianya. Seseorang yang berpikir tanpa mengikuti aturan logika yang ada, terlihat seperti berpikir benar dan bahkan bisa memengaruhi orang lain yang juga tidak mengikuti aturan berpikir yang benar.

    Dalam sejarah perkembangan logika terdapat berbagai macam tipe kesesatan dalam penalaran.Secara sederhana kesesatan berpikir dapat dibedakan dalam dua kategori, yaitu kesesatan formal dan kesesatan material.

    1. Kesesatan formal adalah kesesatan yang dilakukan karena bentuk (forma) penalaran yang tidak tepat atau tidak sahih. Kesesatan ini terjadi karena pelanggaran terhadap prinsip-prinsip logika mengenai term dan proposisi dalam suatu argumen (hukum-hukum silogisme).

    2. Kesesatan material adalah kesesatan yang terutama menyangkut isi (materi) penalaran. Kesesatan ini dapat terjadi karena faktor bahasa (kesesatan bahasa) yang menyebabkan kekeliruan dalam menarik kesimpulan, dan juga dapat teriadi karena memang tidak adanya hubungan logis atau relevansi antara premis dan kesimpulannya (kesesatan relevansi).

    Berikut ini adalah beberapa jenis fallacy yang dikategorikan sebagai “Kesesatan Relevansi” (Kesesatan Material). Fallacy jenis ini sejak dahulu sering dilakukan oleh kaum sofis sejak masa Yunani kuno, jadi sama sekali bukan hal baru:

    1. Fallacy of Dramatic Instance, yaitu kecenderungan dalam melakukan analisa masalah sosial dengan menggunakan satu-dua kasus saja untuk mendukung argumen yang bersifat general atau umum (over generalisation).

    Contoh: “Semua yang menentang hukuman mati para terpidana narkoba berarti adalah pelaku atau pendukung kejahatan narkoba. Saya melihat sendiri dengan mata kepala saya bahwa tetangga saya kemarin begitu ngotot menentang hukuman mati bagi pengedar narkoba, eh, ternyata seminggu kemudian ia tertangkap polisi karena mengedarkan narkoba.”

    Pembuktian Sesat Pikir: Satu-dua kasus yang terjadi terkait pengalaman pribadi kita dalam satu lingkungan tertentu tidak bisa dengan serta merta dapat ditarik menjadi satu kesimpulan umum yang berlaku di semua tempat.

    2. Argumentum ad Hominem Tipe I (Abuse): Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi ketika argumentasi yang diajukan tidak tertuju pada persoalan yang sesungguhnya, tetapi justru menyerang pribadi yang menjadi lawan bicara.

    Contoh: Saya tidak ingin berdiskusi dengan Anda, karena cara berpikir Anda seperti seorang anak kecil yang bodoh dan tidak tahu apa-apa.

    Pembuktian Kesesatan Berpikir: Argumen Anda menjadi benar, bukan dengan membodohi atau menganggap remeh orang lain, tetapi karena argumen Anda disusun berdasarkan kaidah logika yang benar dan bukti-bukti atau teori yang telah diakui kebenarannya secara ilmiah.

    3. Argumentum ad Hominem Tipe II (Sirkumstansial): Berbeda dari argumentum ad hominem tipe I, maka sesat pikir jenis ad hominem tipe II ini menyerang pribadi lawan bicara sehubungan dengan keyakinan seseorang dan atau lingkungan hidupnya, seperti: kepentingan kelompok atau bukan kelompok tertentu, juga hal-hal yang berkaitan dengan SARA.

    Contoh: “Saya tidak setuju dengan apa yang dikatakan olehnya terkait agama Islam, karena ia bukan orang Islam.”

    Pembuktian Kesesatan Berpikir: Ketidaksetujuan tersebut bukan karena hasil penalaran dari argumentasi yang logis, tetapi karena lawan bicara berbeda agama.

    4. Argumentum Auctoritatis: Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi ketika nilai penalaran ditentukan semata oleh keahlian atau kewibawaan orang yang mengemukakannya. Jadi suatu gagasan diterima sebagai gagasan yang benar hanya karena gagasan tersebut dikemukakan oleh seorang yang sudah terkenal keahliannya.

    Contoh: “Saya meyakini bahwa pendapat dosen itu benar karena ia seorang guru besar.”

    Pembuktian Sesat Pikir: Kebenaran suatu pendapat bukan tergantung pada siapa yang mengucapkannya, meski ia seorang guru besar sekalipun, tetapi karena ketepatan silogisme yang digunakan berdasarkan aturan logika tertentu dan atau berdasarkan verifikasi terhadap fakta atau teori ilmiah yang ada.

    5. Kesesatan Non Causa Pro Causa (Post Hoc Ergo Propter Hoc): Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi ketika terjadi kekeliruan penarikan kesimpulan berdasarkan sebab-akibat. Orang yang mengalami sesat pikir jenis ini biasanya keliru menganggap satu sebab sebagai penyebab sesungguhnya dari suatu kejadian berdasarkan dua peristiwa yang terjadi secara berurutan. Orang lalu cenderung berkesimpulan bahwa peristiwa pertama merupakan penyebab bagi peristiwa kedua, atau peristiwa kedua adalah akibat dari peristiwa pertama–padahal urutan waktu saja tidak dengan sendirinya menunjukkan hubungan sebab-akibat.

    Contoh: Anda membuat surat untuk seseorang yang anda cintai dengan menggunakan pena A, dan ternyata cinta Anda diterima. Kemudian pena A itu anda gunakan untuk ujian, dan Anda lulus. “Ini bukan sembarang pena!” kata Anda. “Pena ini mengandung keberuntungan.”

    Pembuktian Sesat Pikir: Cinta Anda diterima oleh sebab orang yang Anda cintai juga menerima cinta Anda, bukan karena pena yang Anda gunakan untuk menulis surat cinta. Anda lulus ujian, bukan karena pena yang Anda gunakan mengandung keberuntungan, tetapi karena Anda menguasai dengan baik materi yang diujikan dan dapat menjawab dengan benar sebagian besar materi ujian secara tepat waktu.

    6. Argumentum ad Baculum: Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi ketika argumen yang diajukan berupa ancaman dan desakan terhadap lawan bicara agar menerima suatu konklusi tertentu, dengan alasan bahwa jika menolak akan berdampak negatif terhadap dirinya

    Contoh: “Jika Anda tidak mengakui kebenaran apa yang saya katakan, maka Anda akan terkena azab Tuhan. Karena yang saya ungkapkan ini bersumber dari ayat-ayat suci agama yang kita yakini.”

    Pembuktian Sesat Pikir: Tuhan tidak mengazab seseorang hanya karena orang itu tidak menyetujui pendapat Anda atau tafsir Anda terhadap ayat-ayat kitab suci. Sebab, berdasarkan ajaran berbagai agama yang Anda anut, Tuhan hanya menghukum ketika Anda berbuat dosa sementara belum sungguh-sungguh bertobat menyesalinya. Jadi, tidak benar jika dikatakan Tuhan akan mengazab lawan bicara Anda hanya karena ia tak menyetujui pendapat Anda.

    7. Argumentum ad Misericordiam: Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi ketika argumen sengaja diarahkan untuk membangkitkan rasa belas kasihan lawan bicara dengan tujuan untuk memperoleh pengampunan atau keinginan tertentu.

    Contoh: “Hukuman mati terhadap pengedar narkoba itu harus dilakukan, karena alangkah sedihnya perasaan mereka yang keluarganya menjadi korban narkoba. Betapa beratnya hidup yang harus ditanggung oleh keluarga korban narkoba untuk menyembuhkan dan merawat korban narkoba, belum lagi bila keluarga mereka yang kecanduan narkoba itu meninggal. Betapa hancur hati mereka. Oleh sebab itu hukuman mati bagi pengedar narkoba adalah hukuman yang sudah semestinya.”

    Pembuktian Sesat Pikir: Hukuman mati bagi penjahat narkoba itu tidak dijatuhkan berdasarkan penderitaan keluarga korban, tetapi karena pelaku tersebut terbukti melanggar perundangan-undangan yang berlaku di dalam satu proses pengadilan yang sah, bersih, dan adil.

    8. Argumentum ad Ignorantiam: Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi ketika seseorang memastikan bahwa sesuatu itu tidak ada oleh sebab kita tidak mengetahui apa pun juga mengenai sesuatu itu atau karena belum menemukannya.

    Contoh: “Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu tak ada gunanya, karena sampai sekarang korupsi masih terus terjadi.”

    Pembuktian Sesat Pikir: KPK dibutuhkan bukan ketika korupsi sudah berhasil diberantas, tetapi justru saat korupsi masih merajalela di tingkat aparat penegak hukum lainnya (mafia peradilan), aparat birokrasi, dan pejabat politik.

    9. Argumentum ad Populum: Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi ketika seseorang berpendapat bahwa sesuatu pernyataan adalah benar karena dibenarkan oleh banyak orang.

    Contoh: “Semua orang yang saya kenal sebagai tokoh-tokoh berintergritas bersikap pro presiden, itu berarti kritik terhadap presiden hanya dilemparkan oleh sebagian kecil orang yang tidak puas karena tidak mendapat jabatan dalam kabinet Jokowi.”

    Pembuktian Sesat Pikir: Kebenaran atau kesalahan suatu kritik tidak tergantung pada seberapa banyak orang yang mendukung atau menentang orang yang dikritik, tetapi terkait dengan ketepatan argumen dari kritik yang dilontarkan–baik dalam konteks silogisme maupun pembuktian argumen dan atau koherensinya dengan teori-teori ilmiah yang sudah diuji kebenarannya.

    10. Appeal To Emotion: Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi akibat argumentasi sengaja tidak diarahkan kepada persoalan yang sesungguhnya, tetapi dibuat sedemikian rupa untuk menarik respon emosi si lawan bicara. Respon emosi bisa berupa rasa malu, takut, bangga, atau sebagainya.

    Contoh: “Mana mungkin orang baik seperti dia melakukan korupsi. Lihat saja kedermawanannya di masyarakat selama ini.”

    Pembuktian Sesat Pikir: Terbukti atau tidak terbuktinya kesalahan seorang yang diduga melakukan korupsi adalah melalaui proses hukum di dalam satu persidangan yang sah dan adil, bukan dari kebaikan atau kedermawanannya di masa lalu.

    11. lgnoratio Elenchi: Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi saat seseorang menarik kesimpulan yang tidak relevan dengan premisnya. Loncatan dari premis ke kesimpulan semacam ini umum dilatarbelakangi prasangka, emosi, dan perasaan subjektif. Ignoratio elenchi juga dikenal sebagai kesesatan “red herring”.

    Contoh: Para penganut Ahmadiyah itu sesat, telah kafir dari agama Islam, maka mereka halal dibunuh.

    Pembuktian Sesat Pikir: Kasus penghakiman umat minoritas seperti penganut Ahmadiyah hanya difokuskan pada pandangan agamanya, bukan pada pelanggaran hukum yang mereka lakukan misalnya. Seseorang tidak bisa dihukum oleh sebab pandangan atau pikirannya, tetapi karena ia terbukti telah melanggar hukum.

    12. Kesesatan Aksidensi: Ini adalah jenis kesesatan berpikir yang dilakukan oleh seseorang bila ia memaksakan aturan-aturan/cara-cara yang bersifat umum pada suatu keadaan atau situasi yang bersifat aksidental–situasi yang bersifat kebetulan.

    Contoh:

    1. Guru yang baik adalah guru yang tidak mencubit. Karena guru yang mencubit telah melakukan kekerasan struktural ala orde baru, tidak bermoral, dan sakit jiwa.

    2. Kritikus yang benar adalah kritikus yang berkata santun.

    Pembuktian Sesat Pikir 1: Guru yang baik bagi muridnya adalah guru yang mampu mengajar dengan benar, bukan karena tidak mencubit. Guru yang mencubit adalah situasi aksidental, situasi khusus, yang terjadi untuk merespon kesalahan muridnya dalam kerangka mendidik. Itu tidak berhubungan dengan kekerasan struktural ala orde baru, dan tidak pula membuktikan bahwa ia telah melanggar etika umum, juga tidak menunjukkan bukti bahwa ia sakit jiwa. Kekerasan struktural adalah kekerasan yang dilakukan oleh negara terhadap rakyat tertentu (ini sebuah kasus umum/publik dan perlu pembuktian lewat pengadilan untuk menjadi sebuah kebenaran umum), tidak pula melanggar etika (sebab harus ditunjukkan etika umum yang mana atau aturan hukum yang mana yang telah dilanggarnya), serta tidak pula sakit jiwa (harus ada test psikiatri untuk membuktikan hal ini agar didapat sebuah kesimpulan umum menurut sains). Kekerasan struktural, tidak bermoral, dan sakit jiwa adalah hal yang berkaitan dengan “kebenaran umum”. Untuk membuktikan kebenaran umum, maka perlu dilakukan dengan cara atau prinsip tertentu yang diakui secara umum, tidak bisa ditarik langsung sebagai kesimpulan dari satu kasus khusus. Ketika sebuah kejadian khusus dipaksa dikaitkan dengan kebenaran umum, maka sesat pikir aksidensi pun terjadi.

    Pembuktian Sesat Pikir 2: Seorang kritikus dinilai kebenaran kritiknya bukan dari caranya berkata yang santun (sebuah kasus khusus), tetapi dari kebenaran argumennya (silogisme yang tepat, koherensi teoritik, bukti yang mendukung) yang merupakan sebuah prinsip umum. Cara berkata yang santun (kasus khusus) bukan kriteria yang tepat untuk menilai kebenaran argumen (prinsip umum) dari sebuah kritik. Kritik harus berlandaskan pada kebenaran, bukan kesantunan berkata. Seorang koruptor sering terlihat berkata amat santun (kasus khusus) di televisi, tetapi hal itu tidak membatalkan vonis pengadilan bahwa ia terbukti bersalah dalam satu kasus korupsi (yang dibuktikan berdasarkan prinsip hukum umum di dalam pengadilan).

    13. Kesesatan karena Komposisi dan Divisi: Sesat pikir jenis ini terbagi ke dalam dua jenis, yaitu:

    A. Kesesatan karena komposisi terjadi bila seseorang berpijak pada anggapan bahwa apa yang benar (berlaku) bagi individu atau beberapa individu dari suatu kelompok tertentu, pasti juga benar (berlaku) bagi seluruh kelompok secara kolektif.

    Contoh: Joni ditilang oleh polisi lalu lintas di sekitar Jl. Radin Intan. Polisi itu meminta uang sebesar Rp. 100.000 bila Joni tidak ingin ditilang, maka semua polisi lalu lintas di sekitar Jl. Radin Intan adalah pasti pelaku pemalakan.

    Pembuktian Sesat Pikir: Satu kasus khusus tidak bisa ditarik menjadi satu kesimpulan, tanpa melalui pembuktian penalaran induktif secara ketat. Polisi yang melakukan pemalakan seperti contoh di atas adalah satu kasus khusus, dan itu sama sekali tidak membuktikan bahwa semua polisi di Republik Indonesia juga melakukan pemalakan.

    B. Kesesatan karena divisi terjadi bila seseorang beranggapan bahwa apa yang benar (berlaku) bagi seluruh kelompok secara kolektif pasti juga benar (berlaku) bagi individu-individu dalam kelompok tersebut.

    Contoh: Banyak anggota DPR yang ditangkap KPK akhirnya terbukti korupsi dalam pengadilan Tipikor. Joni Gudel adalah anggota DPR, maka Joni Godel juga korupsi.

    Pembuktian Sesat Pikir: Bila beberapa anggota DPR ada yang terbukti melakukan korupsi, maka hal itu tidak bisa langsung dianggap sebagai bukti bahwa seorang anggota DPR yang tidak melakukan korupsi dituding telahikut melakukan korupsi. Penarikan kesimpulan secara deduktif (dari umum ke khusus) harus dilakukan secara formal dan material, tidak bisa sembarangan.

    14. Petitio Principii: Sesat pikir jenis ini pertama kali dikemukakan oleh Aristoteles, perumus logika formal yang kita kenal sekarang. Kesesatan Petitio principii adalah semacam tautologis, semacam pernyataan berulang, yang terjadi karena pengulangan prinsip dengan prinsip. Sehingga meskipun rumusan (teks/kalimat) yang digunakan berbeda, sebetulnya sama maknanya.

    Contoh:Siapakah aku? Aku adalah saya.

    Pembuktian Sesat Pikir: Ini adalah satu pernyataan berulang yang tidak bisa menjelaskan makna dari satu konsep. Pertanyaan “siapa aku” mestinya dijawab dengan menjelaskan “konsep aku” menurut pandangan filosofis atau pandangan psikologis.

    Tujuan dari belajar logika dengan benar (termasuk soal “fallacy”) bukanlah untuk memenangkan setiap perdebatan dan mengalahkan setiap lawan diskusi, tetapi semata-mata untuk menemukan kebenaran–tergantung pada kriteria kebenaran apa yang digunakan.

    Dalam konteks Indonesia, benarlah pendapat Tan Malaka, salah satu pendiri Republik Indonesia, bahwa sebagian besar Bangsa Indonesia belum bisa berpikir logis, apalagi mau berdialektika. Karena itu di dalam bukunya yang berjudul “Madilog” (Materialisme, Dialektika, Logika), Tan Malaka menyarankan agar bangsa Indonesia bertekun mempelajari logika hingga tuntas dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Mungkin kita pernah mendengar ungkapan begini: “Tidak semua bisa dilogikakan.” Maksud dari pernyataan itu, mungkin, begini: “Berhentilah belajar logika, tak ada gunanya.” Jika ada orang yang bicara begitu, maka saya anjurkan Anda untuk merespon ungkapan itu dengan satu pertanyaan saja: “Bagaimana Anda bisa bicara begitu, bila tanpa logika?” Maksudnya, ungkapan “tidak semua bisa dilogikakan” itu sendiri merupakan sebuah proposisi dalam logika yang bisa diuji dengan kriteria kebenaran tertentu.

    3. TENTANG SILOGISME KATEGORIS DAN HIPOTETIS

    Dalam logika klasik (Logika Aristoteles), dikenal istilah silogisme atau proses bernalar. Ada dua jenis silogisme, yaitu: silogisme kategoris (premisnya tanpa bersyarat) dan silogisme hipotetis (premisnya bersyarat). Baik silogisme kategoris maupun hipotetis masing-masing terdiri dari empat jenis silogisme.

    A. Silogisme Kategoris

    Silogisme Kategoris adalah struktur suatu deduksi berupa suatu proses logis yang terdiri dari tiga bagian, dan masing-masing bagiannya berupa pernyataan kategoris (pernyataan tanpa syarat).

    Sebagai suatu bentuk logis yang sudah baku, silogisme kategoris bermakna sekali dalam percakapan sehari-hari, diskusi, dan tulisan. Jalan pikiran kita jarang dirumuskan dalam bentuk silogisme. Namun, begitu masalah dipersoalkan, maka orang akan mencari alasan-alasannya. Di sinilah bentuk silogisme kategoris dapat membantu menunjukkan jalan atau tahap-tahap penalarannya. Misalnya, apabila seseorang ditanya: “Mengapa korupsi itu haram?” Maka, kemungkinan besar orang yang ditanya itu akan mencari alasannya, dan kemudian berkata: “Karena korupsi adalah mencuri.” Jika kemudian diberi bentuk logis, maka dapat diperoleh silogisme kategoris sebagai berikut:

    Mencuri itu haram.
    Korupsi adalah mencuri.
    Maka korupsi adalah haram.

    Dengan memperhatikan kedudukan “term pembanding (M)” dalam premis pertama maupun dalam premis kedua, maka silogisme kategoris dapat dibedakan antara empat bentuk atau empat pola sebagai berikut:

    1. Silogisme Sub-Pre: suatu bentuk silogisme yang term pembandingnya (M) dalam premis (pernyataan) pertama sebagai subjek (S) dan dalam premis kedua sebagai predikat (P).

    Polanya:
    M P (Premis Universal Positif)
    S M (Premis Partikular Positif)
    S P (Konklusi Partikular Positif)

    Contoh:
    Premis Universal Positif: Semua manusia (M) akan mati (P).
    Premis Partikular Positif: Socrates (S) adalah manusia (M).
    Konklusi Partikular Positif : Jadi, Socrates akan mati. (S P)

    2. Silogisme Bis-Pre: suatu bentuk silogisme yang term pembandingnya (M) menjadi predikat (P) dalam kedua premis.

    Polanya:
    P M (Premis Universal Positif)
    S M (Premis Partikular Positif)
    S P (Konklusi Partikular Positif)

    Contoh:
    Premis Universal Positif: Semua orang yang berjasa terhadap negara (P) adalah pahlawan (M).
    Premis Partikular Positif: Sukarno (S) adalah pahlawan (M).
    Konklusi Partikular Positif : Jadi, Sukarno (S) adalah orang yang berjasa terhadap negara (P).

    3. Silogisme Bis-Sub: suatu bentuk silogisme yang term pembandingnya (M) menjadi subjek (S) dalam kedua premis.

    Polanya:

    M P (Premis Universal Positif)
    M S (Premis Partikular Positif)
    S P (Konklusi Partikular Positif)

    Contoh:
    Premis Universal Positif: Semua manusia (M) adalah mahluk berbudaya (P).
    Premis Partikular Positif: Sebagian manusia (M) itu mahluk yang berakal budi (S).
    Konklusi Partikular Positif : Jadi, sebagian mahluk yang berakal budi (S) adalah mahluk berbudaya (P).

    4. Silogisme Pre-Sub: suatu bentuk silogisme yang term pembandingnya (M) dalam premis pertama sebagai predikat (P) dan dalam premis kedua sebagai subjek (S).

    Polanya:
    P M (Premis Universal Positif)
    M S (Premis Partikular Positif)
    S P (KonklusiPartikular Positif)

    Contoh:
    Premis Universal Positif: Semua influenza (P) adalah penyakit (M).
    Premis Partikular Positif: Sebagian penyakit (M) adalah mengganggu kesehatan (S).
    Konklusi Partikular Positif : Jadi, sebagian hal yang mengganggu kesehatan (S) adalah influenza (P).

    Dalam menyusun suatu silogisme kategoris haruslah diingat aturan-aturan perihal isi dan luas subjek serta predikat agar jalan pikiran itu sah.

    1. Term S, P, dan M dalam satu pemikiran harus tetap sama artinya. Dalam silogisme S dan P dipersatukan atas dasar pembanding masing-masing dengan M, jika M sebagai term mayor (Universal) dan minor (partikular) tidak sama artinya maka tidak dapat ditarik kesimpulan. Berikut contoh kesimpulan yang keliru:

    Yang bersinar di langit (S) itu bulan (P)
    Nah, bulan itu (S) tiga puluh hari (P).
    Jadi, tiga puluh hari bersinar di langit.

    2. Kalau S dan P dalam premis partikular (sebagian), maka dalam kesimpulan tidak boleh universal (keseluruhan). Sebab kita tidak boleh menarik kesimpulan mengenai keseluruhan, jika premis hanya memberi katerangan tentang sebagian hal. Berikut contoh kesimpulan yang keliru:

    Semua lingkaran (S) itu bulat (P)
    Nah, sebagian lingkaran (S) itu gambar (P).
    Jadi semua gambar itu bulat.

    3. Term M sekurang-kurangnya harus satu kali universal (keseluruhan). Berikut contoh kesimpulan yang keliru:

    Anjing itu binatang.
    Kucing itu binatang.
    Jadi kucing itu anjing.

    4. Kesimpulan harus sesuai dengan premis yang paling lemah. Jika kalimat universal dibandingkan dengan kalimat partikular, maka yang partikular disebut yang lemah. Begitu pula kalimat negatif itu lebih lemah dibandingkan dengan kalimat positif (afirmatif.) Berikut contoh kesimpulan yang benar:

    Semua cerita penuh kekerasan (M) tak baik buat mendidik anak (-P). (Term Universal dan Negatif)

    Film animasi Tom & Jerry (S) penuh adegan kekerasan (M). (Term Partikular dan Positif)

    Jadi, film animasi Tom & Jerry tak baik buat mendidik anak. (Term Partikular dan Positif)

    B. Silogisme Hipotetis

    Berikut ini adalah jenis pertama dari silogisme hipotetis. Jenis pertama dari silogisme hipotetis ini adalah jenis silogisme yang premis minornya mengakui bagian antesedent (sebab) di dalam premis mayornya, sehingga kesimpulan ditarik dari pengakuan atas konsekuen (akibat) di dalam premis mayornya.

    Contoh:
    a) Premis Mayor: Jika hujan (anteseden), maka bumi basah (konsekuen)
    b) Premis Minor: Sekarang hujan (premis minor mengakui anteseden)
    c) Konklusi: Jadi bumi basah (kesimpulan ditarik dengan mengakui konsekuen).

    Rumusnya:
    Premis Mayor: Jika A, maka B
    Premis Minor: + A (A diakui)
    Konklusi: + B

    Contoh lainnya:
    a) Jika pengedar narkoba dihukum mati, maka koruptor juga harusnya dihukum mati.
    b) Sekarang ada pengedar narkoba dihukum mati.
    c) Maka, koruptor juga harusnya dihukum mati.

    Benarkah silogisme di atas? Sekilas penalaran di atas terlihat memenuhi hukum penalaran dalam konteks silogisme hipotetis. Tapi, coba teliti kausalitas pada tingkat premis mayornya: “Jika pengedar narkoba dihukum mati (jika A), maka koruptor juga harusnya dihukum mati (maka B).” Sekilas premis mayor itu memang sudah sesuai rumus: “Jika A, maka B”. Pertanyaannya: Benarkah premis mayor itu memiliki relasi kausalitas atau hubungan sebab-akibat antara proposisi A dan proposisi B? Jawabnya: Tidak ada hubungan sebab-akibat. Hukuman mati atas pengedar narkoba, tidak mengakibatkan hukuman mati bagi koruptor. Hukuman mati bagi koruptor, bukan merupakan akibat dari hukuman mati bagi pengedar narkoba.

    Jadi, apa yang menjadi sebab dari hukuman mati bagi koruptor atau pengedar narkoba? Jawabnya adalah putusan peradilan yang sah dan adil berdasarkan perundang-undangan yang berlaku.

    Maka, jelaslah, silogisme hipotetis bahwa “jika pengedar narkoba dihukum mati, maka koruptor juga harusnya dihukum mati” adalah bentuk “sesat pikir formal” dalam proses bernalar yang diakibatkan oleh kekeliruan menerapkan hubungan kausalitas.

    Sekarang, mari kita cari logika bagi hukuman mati. Kenapa? Karena jelas hukuman mati itu memiliki logikanya sendiri, sehingga dibuat menjadi produk hukum. Setiap hukum pastilah mempunyai logika, tak ada hukum yang tidak berdasarkan pada logika. Pertanyaannya: Apakah yang menjadi dasar logika sehingga pemerintah suatu negara merasa berhak menjatuhkan hukuman mati kepada seorang terpidana, merasa berhak mencabut nyawa seseorang yang tidak diciptakannya? Siapakah yang telah menciptakan nyawa manusia: Tuhan atau pemerintah suatu negara? Atas dasar apa pemerintah suatu negara merasa berhak memindahkan hak Tuhan atas nyawa manusia ke tangan hakim atau presiden misalnya? Mari kita uji persoalan di atas dengan menggunakan ketiga jenis bentuk silogisme hipotetis dari empat jenis yang ada, sebagai berikut:

    Silogisme hipotetis jenis kedua (premis minor mengakui konsekuen, konklusi mengakui anteseden) dengan rumus:

    Premis Mayor: Jika A, maka B
    Premis Minor: + B (B diakui)
    Konklusi: + A

    Contoh:
    a) Premis Mayor: Jika Tuhan adalah Yang Maha Pencipta adalah pemilik nyawa setiap manusia, maka pastilah Tuhan juga berhak untuk melepaskan atau mencabut nyawa setiap manusia.
    b) Premis Minor: Tuhan memang Yang Maha Pencipta yang memiliki nyawa setiap manusia.
    c) Konklusi: Jadi, Tuhan berhak untuk melepaskan atau mencabut nyawa setiap manusia.

    Silogisme hipotetis jenis ketiga (premis minor mengingkari konsekuen, konklusi mengingkari anteseden) dengan rumus:

    Premis Mayor: Jika A, maka B
    Premis Minor: – B (B diingkari)
    Konklusi: – A

    Contoh:
    a) Premis Mayor: Jika manusia adalah Tuhan Yang Maha Pencipta, maka ia bisa menciptakan nyawa manusia lainnya.
    b) Premis Minor: Manusia tidak bisa menciptakan nyawa manusia lainnya.
    c) Konklusi: Jadi, manusia bukan Tuhan Yang Maha Pencipta.

    Silogisme hipotetis jenis keempat (premis minor mengingkari anteseden, konklusi mengingkari konsekuen) dengan rumus:

    Premis Mayor: Jika A, maka B
    Premis Minor: – A (A diingkari)
    Konklusi: – B

    Contoh:
    a) Premis Mayor: Jika seorang manusia menciptakan nyawa manusia lainnya, maka (seperti Tuhan) ia berhak mencabut nyawa manusia lainnya.
    b) Premis Minor: Seorang manusia tidak menciptakan nyawa manusia lainnya (karena ia bukan Tuhan).
    c) Konklusi: Jadi, seorang manusia tidak berhak mencabut nyawa manusia lainnya.

    Dari silogisme hipotetis yang saya buat berdasarkan logika klasik Aristoteles (dan juga sahih secara logika preposisional atau logika simbolis Bertrand Russel, khususnya berdasarkan prinsip koherensi untuk implikasi logis), maka hukuman mati terhadap individu oleh suatu rezim pada suatu negara memang tak memiliki dasar logika.

    Bila antesedent kita lambangkan A dan kosekuen kita lambangkan K, maka hukum dari silogisme hipotetik adalah:

    1) Bila A terlaksana, maka K terlaksana (sah = benar), seperti:

    Bila terjadi peperangan, maka harga bahan makanan membubung tinggi.

    Nah, peperangan terjadi.

    Jadi, harga bahan makanan membubung tinggi.

    2) Bila A tidak terlaksana, maka K tidak terlaksana (tidak sah = salah), seperti:

    Bila terjadi peperangan, maka harga bahan makanan membubung tinggi.

    Nah, peperangan tidak terjadi.

    Jadi, harga bahan makanan tidak membubung tinggi. (tidak sah = salah).

    3) Bila K terlaksana, maka A terlaksana (sah = benar), seperti:

    Bila terjadi peperangan, maka harga bahan makanan membubung tinggi.

    Nah, sekarang harga makanan membubung tinggi.

    Jadi, peperangan terjadi (sah = benar).

    4) Bila K tidak terlaksana (tidak sah = salah), maka A tidak terlaksana (tidak sah = salah), seperti:

    Bila peperangan terjadi, maka harga bahan makanan membubung tinggi.

    Nah, harga makanan tidak membubung tinggi.

    Jadi, peperangan tidak terjadi.

    Penerapan logika luas sekali, bukan hanya di bidang ilmu pengetahuan saja, tetapi hampir di seluruh bidang kehidupan, termasuk di dalam seni dan spiritualitas.

    Menurut pendapat saya, sebagai makhluk yang berakal, kita harus lebih banyak menggunakan akal sehat di segala bidang kehidupan, serta mendasarkan tindakan-tindakan kita atas pertimbangan yang masuk akal–bukan cara berpikir dan tindakan yang ngawur.[]

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here