More

    Apakah Teror dan Terorisme Adalah “The Other”

    Ilustrasi: “Lelaki tua di tempat tidur di Suriah” (Mohammad Mohiedine Anis, 70 tahun). Foto: (Sumber: Joseph Eid-AFP via Time.com)

    Dalam wacana postmodernisme–baik menurut Derrida, Lacan, Foucault, Julia Kristeva, Baudrillard, Luce Irigaray, Lyotard, maupun Richard Rorty–konsep “the other” tidak ditafsirkan sebagai “liyan”, sebagai musuh, sebagai antitesis, sebagai lawan. Coba telisik lagi perihal konsep “the other” dalam teks-teks para filsuf postmodernisme tersebut berdasarkan kerangka epistemologi mereka. Tak ada tafsir “the other” sebagai liyan dalam pandangan mereka. Dan, karenanya, saya setuju dengan pandangan Nuruddin Asyhadie, dalam salah satu catatan facebook-nya, bahwa pemaknaan kata yang tepat dari “the other” dalam konteks postmodernisme–bila hendak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia–adalah “antara” atau “ruang antara”, bukan liyan (satu kata yang diambil dari bahasa Jawa kuno atau Sansekerta yang berarti lawan). Bila pemaknaan dari konsep “the other” adalah “antara”, barulah kemudian bisa ditemukan koherensi teoritik dengan konsep-konsep utama lainnya dari postmodernisme, seperti: “dekonstruksi”, “difference”, “oposisi biner”, “logosentrisme”, “phallus sebagai simbol kehilangan, sebagai muasal bahasa, sebagai pralingual”, “spectres”, “chora”, “void”, dll.

    Konsep mengenai “yang lain” sebagai ruang antara dari subjek dan objek itu, jangan pula tergesa ditafsirkan sebagai ruang kosong, melainkan ruang yang memungkinkan kreativitas untuk hadir. Baudrillard menyatakan bahwa yang lain adalah yang menghentikan aku dari terus-menerus mengulangi diriku sendiri. Ini sebenarnya sangat mirip dengan konsep satori atau sunyata dalam spiritualitas Zen atau Vedanta. Yang lain sebagai yang tak terpermanai, namun “mengada” di dalam tanda, di dalam benda-benda, di dalam segala hal yang sehari-hari. Yang lain adalah yang saat ini hadir dan sekaligus belum hadir, seperti argumen Derrida, dan karenanya adalah yang misterius itu sendiri–tidak dalam arti negatif, tetapi sebagai kekaguman ekstatif, sebagai jouissance. Yang lain, bagi Derrida, bukanlah yang telah ada, tetapi perihal yang berada antara tapal batas masa kini dan masa depan, yang karenanya memungkinkan harapan dan mendekonstruksi pandangan Fukuyama perihal sejarah yang telah berakhir dengan kemenangan kapitalisme dan ide liberalismenya. Yang lain bukanlah yang dominan atau memiliki rencana untuk menjadi dominan, memiliki keinginan untuk menghagemoni, menjadi kuasa metafora bagi liyan, pula atau memusnahkan yang lain. Yang lain bisa jadi adalah yang tertindas, yang direpresi, namun bukan yang menindas atau merepresi atau memiliki hasrat untuk itu. Yang lain adalah yang diduga akan merepresi oleh liyannya, tetapi faktanya justru adalah yang direpresi. Yang lain tidak hendak menjadi liyan, karena tujuan dari “ke-meng-Ada-an-nya” bukanlah penaklukan, melainkan Pembebasan.

    Pertanyaan saya: Apakah konsep “yang lain” atau “alteritas” itu bisa diterapkan untuk “teror” dan atau “terorisme”? Kenapa setelah perang dunia kedua, tak satu pun filsuf postmodernisme yang beragumen bahwa pandangan neonazi adalah perihal yang lain itu, tetapi justru pandangan etnik atau multietnik–seperti yang ditafsirkan oleh Richard Rorty–diterima sebagai perihal yang lain itu, alteritas itu? Kenapa Luce Irigaray menyatakan bahwa feminisme dan neosensualisme bisa diidentifikasi sebagai yang lain itu? Dan kini, pertanyaan pentingnya, apakah doktrin yang mengajarkan, menganjurkan, dan menghalalkan membunuh yang lain dengan segala cara oleh sebab perbedaan pandangan–seperti terorisme ISIS misalnya–bisa “ditoleransi” dan ditafsirkan sebagai “the other” dalam sebuah negara demokrasi? Apakah konsep “abjeksi”–keadaan emosi melankolik yang ekstrim–dalam fase semiotik atau pralingual pada konsep psikologi Julia Kristeva bisa ditafsirkan sebagai fobia terhadap terorisme bila dan hanya bila terorisme ditafsirkan sebagai “the other”?

    - Advertisement -

    Pertanyaan-pertanyaan filosofis soal teror dan terorisme, setahu saya, sampai saat ini belum bisa terjawab oleh kalangan penganut postmodernisme (dengan segala varian pemikirannya) di Indonesia, atau, jangan-jangan kita saja yang salah mengoperasikan konsep “the other” dari posmodernisme abad ke-20 ke dalam pengertian tentang teror dan terorisme? Namun, apa pun argumennya, persoalan teror dan terorisme merupakan tantangan “etis” terbesar terhadap konsep-konsep dasar postmodernisme pada abad ke-21 ini.

    Konsep abjeksi dari Kristeva merupakan konsep yang kontras terhadap konsep “objek keinginan” atau “objet petit a” dari Lacan. Konsep “objet petit a” memungkinkan subjek untuk mengkoordinasikan keinginannya, sehingga memungkinkan tatanan simbolik makna dan masyarakat intersubjektif untuk bertahan. Dalam relasi kontras terhadap konsep “objet petit a” itulah kemudian Kristeva membangun posisi konsep objeksi yang “secara radikal dikecualikan dan,” seperti dijelaskan Kristeva, “menarik saya ke tempat di mana pemaknaan runtuh “(lihat: Powers of Horrors, 2).

    Benar bahwa abjeksi ini bukanlah objek atau subjek, menurut Kristeva, karena abjeksi hadir di tempat sebelum kita masuk ke dalam tatanan simbolik dalam tahapan psikoseksual sebagaimana yang dimaksudkan oleh Lacan. Seperti yang dikatakan sendiri oleh Kristeva, “Abjeksi mempertahankan apa yang ada dalam arkaisme hubungan pra-objek, dalam kekerasan masa lalu, ketika tubuh menjadi terpisah dari tubuh lainnya.” (Powers of Horrors, 10). Semiotika dari abjeksi inilah apa yang dimaksud di dalam terma Kristeva sebagai “represi primal,” salah satu yang mendahului pembentukan hubungan subjek dengan objek keinginan dan representasinya, bahkan sebelum pembentukan oposisi biner antara konsep sadar dan tidak sadar.

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here