More

    Logika Simbolis : Perihal P IFF p

    Foto: “Double Swirling Winds (2003)”, madake and rattan (h. 29 3/4 in, w. 12 in, d. 14 1/2 in), by Honma Hideaki, Japan. Collection: Mr. and Mrs. Charles Diker, USA. (Sumber: craftcouncil.org)

    1 /

    Apakah pengertian kata “dan” dalam bahasa sehari-hari (natural language) sama dengan pengertian operator konjungsi (disimbolkan dengan lambang “∧”) di dalam logika simbolis? Kata “dan” dalam bahasa sehari-hari tak berkorespondensi dengan realitas empiris dan kita bisa menggunakan teori gambar dari pemikiran “Wittgenstein I” untuk membuktikannya. Namun, apakah operator “∧” juga bisa ditafsirkan sama dengan pengertian kata “dan”‘dalam bahasa sehari-hari? Orang lalu dengan gegabah menyatakan bahwa operator logika tak berkorespondensi dengan realitas empiris dan menyitir pendapat Bertrand Russell perihal teori kebenaran koherensi yang sudah gagal ketika Kurt Godel mengajukan teori ketaklengkapan. Alfred Tarski kemudian membuktikan lebih jauh bahwa pandangan koherensi teoritik yang tertutup dari Bertrand Russell itu keliru dengan mengemukakan argumennya yang terkenal, yaitu: “P IFF p”.

    Bertrand Russell menyatakan bahwa sebuah proposisi simbolis menjadi benar tanpa perlu memverifikasinya dengan realitas empiris, tetapi cukup dengan aturan-aturan logika yang disepakati. Dasar dari teori koherensi itu adalah aksioma idealistis yang menyatakan bahwa kebenaran muasalnya semata dari pikiran manusia yang sudah ada sebelum manusia lahir dan terlepas dari realitas empiris, seperti pandangan Plato. Namun, Aristoteles menyatakan bahwa dasar dari pikiran manusia bukanlah dari dalam pikiran manusia itu sendiri, tetapi dari realitas empiris yang dipersepsi dan kemudian diabstraksi. Pandangan Aristoteles itu kemudian menjadi aksioma materiil dalam teori kebenaran korespondensi. Ketika seorang menyatakan bahwa teori korespondensi tak berhubungan dengan realitas empiris, maka berarti ia menyetujui pandangan idealistik bahwa kebenaran semata berasal dari pikiran manusia dan tak berkorespondensi dengan realitas empiris.

    - Advertisement -

    Teori kebenaran korespondensi kemudian diselamatkan oleh “teori kebenaran semantik” dari Alfred Tarski. Mengapa? Untuk menjawab pertanyaan itu, maka Anda mesti paham dulu apa yang dimaksud pembuktian P IFF p. Tarski menyatakan bahwa logika bukan semata urusan sintaksis tanpa makna, yang berarti bukan semata urusan ketiadaan relasi korespondensi. Apa itu P IFF p?

    2/

    Apa artinya P IFF p (dibaca: jika dan hanya jika proposisi p adalah benar, maka kalimat P juga benar)?

    Mari kita kutip definisi soal tersebut dari pandangan Alfred Tarski sendiri:

    In convention T, a formally correct definition of the symbol “Tr”, formulated in the metalanguage, will be called an adequate definition of truth if the deductive system of the metatheory proves the following: All sentences which are obtained from the expression “Tr(x) if and only if p” by substituting for the symbol “x” a structural-descriptive name of any sentence of the language in question and for the symbol “p” the expression which forms the translation of this sentence into the metalanguage; the sentence “for any x, if Tr(x) then x is a sentence of the language of the calculus of classes (LCC).” –From: “The Concept of Truth in Formalized Languages”, translation of Tarski 1935 by J.H. Woodger in Tarski 1983.

    Pendefinisian Tarski tersebut mengandung makna bahwa proposisi p yang menyatakan kalimat P adalah benar jika, dan hanya jika, (1) proposisi p itu adalah sebuah fakta tentang kalimat P, dan (2) proposisi p tersebut identik dengan fakta itu.

    Sekarang, mari kita coba terapkan definisi Tarski di atas. Jika ada yang menyatakan bahwa “teori korespondensi sama sekali tak berkorespondensi dengan realitas”, apakah pernyataan itu benar? Jika benar, apa buktinya? Jika salah, apa buktinya? Saya menyatakan bahwa pernyataan itu salah. Apa buktinya? Begini buktinya:

    P IFF p

    Teori korespondensi adalah “teori yang menyatakan sebuah proposisi mesti berkorespondensi dengan realitas empiris untuk menjadi benar (kalimat P) ADALAH BENAR jika, dan hanya jika, teori korespondensi adalah teori yang menyatakan sebuah proposisi mesti berkorespondensi dengan realitas empiris untuk menjadi benar (proposisi p).

    Atau,

    Teori korespondensi adalah “teori yang menyatakan sebuah proposisi mesti berkorespondensi dengan realitas empiris untuk menjadi benar (kalimat P) ADALAH BENAR, jika dan hanya jika proposisi S = P (teori korespondensi adalah “teori yang menyatakan sebuah proposisi mesti berkorespondensi dengan realitas empiris untuk menjadi benar” atau “p”).

    Atau,

    Proposisi p yang menyatakan bahwa kalimat “teori korespondensi” adalah benar jika, dan hanya jika, (1) proposisi p itu adalah sebuah fakta tentang kalimat “teori korespondensi”, dan (2) proposisi p tersebut identik dengan fakta itu.

    Jadi, bila teori korespondensi mengandung makna yang tak berkorespondensi dengan “fakta” empiris, maka itu bukan teori korespondensi lagi namanya. Kenapa? Jika teori korespondensi per definisi adalah satu teori yang menyatakan bahwa sebuah proposisi harus berkorespondensi dengan fakta empiris, sementara teori korespondensi itu sendiri bukan fakta empiris (yang berarti satu proposisi), maka hal sedemikian secara fakta semantik bukan berarti teori korespondensi tersebut tak berkorespondensi dengan fakta empiris, tetapi justru sebaliknya. Kita juga dapat menyatakan bahwa teori korespondensi itu timbul dari sebuah aksioma yang dikenal sebagai aksioma material. Aksioma material itu diuji dengan cara memverifikasi apakah “makna” sebuah teori itu bisa diuji dengan fakta empiris. Bagaimana mengujinya? Caranya adalah dengan menguji proposisi yang dibangun oleh aksioma material itu sendiri, bukan mengujinya dengan aksioma atau ingkarannya. Itu yang dimaksud P IFF p. Jika P adalah aksioma material yang mau diuji kebenarannya, maka alat ujinya adalah proposisi p, bukan aksioma P. Aksioma P (termasuk ingkarannya) tidak bisa menguji dirinya sendiri. Sebab bila alat ujinya adalah aksioma P atau negasi aksioma P, maka yang terjadi adalah paradoks pembohong.

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here