More
    Home KREASI SENI BUDAYA Bentuk "San-Qu" pada Puisi-puisi Cina Klasik, Teknik "Run-on Sentences, dan Jukstaposisi

    Bentuk “San-Qu” pada Puisi-puisi Cina Klasik, Teknik “Run-on Sentences, dan Jukstaposisi

    Photo: https://www.tate.org.uk/art/artworks/lewis-ezra-pound-n05042

    Dalam sejarah konsep estetika puisi dunia, khusunya imajisme, Ezra Pound terinspirasi oleh huruf-huruf piktograf Cina sewaktu merumuskan teknik ideogramik yang menjadi dasar dari sintaksis puitik imajisme. Teknik ini diuraikan oleh Ezra Pound, pendiri gerakan puisi imajisme dan inspirator gerakan puisi objektivis, gerakan pertama dan kedua dari puisi modern di AS pada awal abad ke-20. Metode ideogramik ini memungkinkan penyair mengekspresikan hal-hal yang abstrak melalui imaji (gambaran atau citraan) konkret.

    Ide ini timbul setelah Ezra Pound membaca esai-esai Ernest Fenollosa, terutama yang ada dalam buku “Penulisan Huruf Cina sebagai Medium bagi Puisi”—buku yang ditulis oleh Fenollosa, tetapi kemudian diedit oleh Pound setelah kematian penulisnya pada tahun 1908. Pound memberikan penjelasan singkat tentang ideogramik dalam bukunya “The ABC of Reading” (1934). Di dalam buku itu ia menjelaskan pemahamannya tentang cara satu kata Cina terbentuk, dengan contoh kata “Timur” (東), yang terbentuk dari gabungan kata “pohon” (木) dan kata “matahari” (日), yaitu gambaran sinar matahari yang ada di cabang-cabang suatu pohon, yang menunjukkan matahari telah terbit di “Timur”. Ia kemudian menyarankan, berdasarkan contoh pembentukan huruf Cina di atas, bahwa konsep-konsep abstrak dapat dibangun dari imaji-imaji konkret dalam penulisan puisi. Konsep “merah” (abstrak) amat dimungkinkan untuk dituliskan dengan menempatkan bersama kata-kata benda (imaji konkret) yang memiliki sifat “merah” tanpa menghadirkan kata “merah” ke dalam teks puitik.

    Puisi-puisi Cina klasik dalam struktur sintaksisnya sangatlah ritmis, sangat berirama, karena memang awalnya puisi-puisi Cina klasik itu dinyanyikn dengan diiringi alat musik. Para penyair Cina klasik sangat menghitung metrum berbasis silabel (pengertian silabel dalam Cina, bukanlah suku kata tetapi kata). Misalnya, metrum tetrasilabel (puisi yang setiap larik atau barisnya terdiri dari 4 kata): “Saat minum aku merenung, seberapa lama hidup kita?” Pula, masih ada lagi bentuk metrum lainnya seperti metrum pentasilabel (setiap baris terdiri dari lima kata), metrum sektasilabel (setiap baris terdiri dari enam kata), metrum heptasilabel (setiap baris terdiri dari tujuh kata), dll. Puisi-puisi Cina klasik itu biasanya mengambil bentuk yang ketat dalam baitnya. Bentuk baitnya ada yang berupa kuatrin (satu bait terdiri dari 4 baris) atau oktaf (satu baris terdiri dari 8 baris). Bentuk yang populer dari puisi Cina klasik pada jaman dinasti Song adalah berbentuk “Ci” dan memiliki aturan yang ketat soal bait dan metrum seperti yang saya sebutkan di atas.

    Dalam perkembangan berikutnya ada juga dikenal bentuk puisi “San-Qu” pada era dinasti Yuan. San-Qu merupakan semacam perlawanan terhadap bentuk “Ci” yang terlalu ketat dan anggun. San-Qu bergerak lebih bebas dan mengambil bentuk dari lagu-lagu rakyat. Bentuk puisi San-Qu ini ada dua jenis yaitu berbentuk “Xiao Liang” yaitu baris bernada tunggal, dan “Tao-Shu” yaitu baris bersambung berdasarkan dua nada. Contoh terbaik dari puisi jenis San-Qu dengan mengambil bentuk Tao-Shu, satu larik atau baris terdiri dari dua nada (kata) yang bersambung dengan pasangan untaian nada berikutnya, adalah seperti puisi karya Ma Zhiyuan (1250 – 1324 masehi) berikut ini:

    ——————————————–
    LAGU RENUNGAN MUSIM GUGUR
    ——————————————–

    Rotan lapuk pohon tua gagak terantuk
    Titian kecil air mengalir rumah penduduk
    Jalanan purba angin barat kuda meringkuk
    Matahari senja turun ke barat
    Hati patah di tepian jagat

    ………………………………..

    Perhatikan bahwa dalam bentuk aslinya, puisi Ma Zhiyuan di atas membiarkan saja jeda yang ada di setiap klausa (terdiri dari dua kata) pada setiap baris tanpa diberi grafem tanda baca koma. Misalnya pada baris pertama itu: “Rotan lapuk (JEDA) pohon tua (JEDA) gagak terantuk (JEDA).” Pola klausa dua kata itu terus berulang pada setiap barisnya dengan menggunakan campuran metrum 6 kata pada 3 baris pertama dan 4 kata pada dua baris terakhir (kata “ke” dan “di” sebagai kata depan tergabung dalam kata berikutnya).

    Bentuk San-Qu ini lebih bebas daripada bentuk “Ci” pada dinasti sebelumnya, oleh sebab dapat menggabungkan beberapa metrum pada setiap baitnya. Teknik penghilangan tanda baca (koma atau titik koma), atau penghilangan kata sambung (dan, atau, yang), atau penghilangan kata depan (di, ke, pada, dari) pada senarai klausa tersebut kelak akan dipakai di dalam sastra modern dunia seperti pada novel “Ulyses”, satu novel yang dikenal menggunakan teknik “arus-kesadaran”, karya James Joyce. Sintaksis model ini dalam sastra barat dikenal sebagai teknik “run-on sentences” (laju kalimat). Teknik “laju kalimat” ini sebenarnya terkait dengan kepentingan irama dalam sintaksis puitik.

    Di dalam perpuisian modern Indonesia, teknik “laju kalimat” ini banyak digunakan oleh penyair Sapardi Djoko Damono, misalnya pada puisi bergaya imajisme berikut ini:

    ——————————-
    PADA SUATU PAGI HARI
    ——————————-

    Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

    Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

    ………………………………

    Secara umum, puisi-puisi Cina klasik sangatlah visual, artinya lebih menekankan agar pesan atau rasa yang ada “dilukiskan” dalam bentuk citraan-citraan visual. Tekanan visual pada puisi-puisi Cina klasik inilah yang kelak menjadi cikal bakal puisi modern seperti imajisme di AS dengan memunculkan konsep “jukstaposisi”. Konsep ini, menurut Ezra Pound, salah satu pelopor puisi imajisme dunia, ia temukan setelah dirinya melakukan studi intensif terhadap puisi-puisi klasik Cina dan haiku Jepang.

    Jukstaposisi adalah teknik sastra yang menggunakan dua atau lebih ide, tempat, karakter dan tindakan para tokoh yang diletakkan berdampingan dalam sebuah teks prosa atau puisi untuk membangun perbandingan dan kontras.

    Dalam sastra, jukstaposisi adalah perangkat yang berguna bagi penulis untuk menggambarkan karakter dengan sangat rinci demi menghadirkan ketegangan dan mencapai efek retoris. Begini jelas suatu upaya kreatif manusia untuk memahami satu hal secara cepat melalui perbandingan dengan hal lain. Sehingga, oleh karenanya, penulis sastra dapatlah membuat pembaca merasakan “kebaikan” dalam karakter tertentu dengan menempatkannya berhadap-hadapan tetapi juga saling berkelindan dengan karakter yang didominasi oleh “kejahatan”. Dampaknya, kebaikan dalam satu karakter tertentu akan semakin nampak jelas oleh sebab gelapnya kejahatan dalam karakter lainnya. Penjajaran begini bisa sangat berguna dalam pengembangan karakter atau gagasan, baik pada prosa maupun puisi.

    Meski begitu teknik jukstaposisi tidak hanya digunakan pada puisi-puisi modern dunia, melainkan telah digunakan juga pada puisi-puisi era praromantik dan romantik, misalnya di dalam puisi dan teks drama karya William Shakespeare. Sebagai contoh, teknik jukstaposisi digunakan dalam teks drama “Romeo dan Juliet”. Kita bisa menemukan jukstaposisi antara “cahaya” dan “kegelapan” secara berulang, misalnya, dalam satu dialog Romeo pada Babak I, Adegan V, begini:

    …………………………….

    O, betapa wajahnya mengajari obor tetap menyala!
    Nampak cerlang ia pada pipi malam begini gelapnya
    Seperti permata mewah di telinga orang Ethiopia;

    …………………………….

    Pada dialog puitis itu, wajah berseri Juliet disandingkan dengan kulit gelap orang Ethiopia. Romeo mengagumi Juliet dengan mengatakan bahwa wajahnya tampak lebih terang ketimbang obor yang menyala di aula. Dia mengatakan bahwa pada malam hari wajah Juliet bersinar laksana permata di kulit gelap orang Ethiopia.

    Penulis sastra biasanya menggunakan teknik jukstaposisi untuk mengejutkan pembaca dengan cara mengembangkan perbandingan antara dua hal yang berbeda melalui penjajaran langsung pada suatu teks prosa atau puisi. Perbandingan yang kontras itu sengaja dihadirkan demi menambah kejelasan akan gambaran yang diekspresikan di dalam teks, mengontrol alur kisah atau gagasan di dalam prosa atau puisi, serta menyediakan koneksi logis antara dua konsep yang ambigu.

    Munculnya konsep jukstaposisi dalam puisi-puisi imajisme sebenarnya untuk menjawab dua pertanyaan klasik: Apa yang membedakan bahasa sastra dan bahasa nonsastra? Serta, apa yang membedakan antara bahasa puisi dengan bahasa prosa? Dua pertanyaan itulah yang sejak masa Yunani kuno, tepatnya sejak Horace menulis “Ars Poetcia” sekitar tahun 19 – 18 SM, hingga masa Alexander Pope menulis “puisi esai” berjudul “An Essay on Criticism” di Inggeris pada tahun 1709, terus dicari jawabannya oleh para penyair klasik di Eropa. Mereka percaya bahwa ada perbedaan mendasar antara “bahasa sastra” dibandingkan dengan “bahasa lainnya”. Pula, tentu saja, ada perbedaan mendasar antara “bahasa prosa” dibandingkan dengan “bahasa puisi”.

    Menurut Horace, yang menjadi hal pembeda substansial antara bahasa puisi dengan bahasa prosa adalah “irama” atau “musik” yang ada di dalam teks puisi. Irama dimaksud meliputi banyak unsur, mulai dari rima hingga metrum. Namun, masih menurut Horace, yang paling penting dalam konteks irama pada bahasa puisi adalah metrum. Metrum bukanlah perkara remeh pada puisi, karena menurut Horace setiap pola-pola metrum pada puisi selalu didasarkan pada metrum natural, metrum yang dianggap melekat pada keberadaan alam itu sendiri, sekaligus, secara imanen, keberadaan Ilahi. Dengan demikian, Horace telah meletakkan pandangan klasik bahwa upaya menulis puisi merupakan suatu upaya profetik untuk menghadirkan kembali “musik alam” atau musik Ilahi melalui bahasa. Upaya yang dilakukan oleh Horace ini setara dengan upaya dilakukan oleh Phytagoras saat mengangkat matematika menjadi semacam jalan mistis, sebagai jalan untuk menemukan substansi Ilahi. Pula begitu dengan Horace. Ia berupaya mencari hal yang paling “mendasar”, begini memang sangat tipikal pada pemikiran para filsuf Yunani, dari bahasa puisi. Dan Horace menemukannya dalam irama, khususnya metrum, yang merupakan substansi dari bahasa puisi.

    Pola-pola metrum yang dirumuskan oleh Horace itu sangat ketat, seperti rumus matematika, semacam hukum “bahasa puisi” yang nyaris tak bisa dilanggar bila puisi ingin dimaksudkan sebagai puisi. Itulah sebabnya, tidak sembarang orang pada masa Horace bisa disebut penyair, oleh sebab sulitnya menulis puisi yang mesti berpatokan pada pola-pola metrum “natural” seperti yang dirumuskan oleh Horace. Penyair pada masa itu bisa dianggap sebagai “pemusik Ilahi” atau sebagai penyampai pesan profetik oleh sebab kemampuannya dalam menulis puisi. Hal ini terus bertahan hingga masa sastra klasik dan romantik di Eropa.

    Namun, pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, dengan munculnya gerakan puisi simbolisme di Prancis, dan, lebih lagi, gerakan objektivisme dan imajisme di Amerika Serikat, pembedaan yang ketat antara bahasa puisi dengan bahasa prosa mulai digugat. Ezra Pound, penyair imajisme dari Amerika Serikat, pada awal abad ke-20 menyatakan bahwa sesungguhnya “metrum natural” itu tidak ada. Semua metrum itu buatan manusia dan disepakati oleh manusia. Lalu, ia bersama rekan-rekan penyair Amerika Serikat sejamannya memperkenalkan apa yang sekarang dikenal sebagai metrum berkaki bebas. Dengan munculnya “metrum berkaki bebas” ini bahasa puisi pun menjadi lebih “cair”, menjadi lebih prosais, dalam arti tidak lagi berpatokan pada pola-pola metrum natural yang ketat itu. Batasan yang tegas antara bahasa puisi dengan bahasa prosa, yang ditandai oleh metrum natural itu, mulai pupus. Para penyair modern mulai memunculkan imaji-imaji atau simbol-simbol visual sebagai substansi puitik. Namun, ini bukan berarti para penyair modern itu sama sekali mengabaikan irama atau aspek prosodi lainnya. Irama masih tetap menjadi hal yang vital dalam puisi modern, namun bukan lagi menjadi hal mendasar yang menjadi pembeda antara bahasa puisi dengan bahasa prosa.

    Dengan pupusnya metrum natural dan hadirnya metrum berkaki bebas, pula beralihnya substansi puitik kepada “gambaran-gambaran”, maka puisi-puisi karya Ezra Pound, William Carlos Williams, T. S. Eliot, Wallace Stevens, hingga John Ashbery tampil menjadi pemuka gerakan “bahasa visual” di dalam khasanah puisi modern pada abad ke-20. Dan, jukstaposisi menjadi salah satu teknik kunci yang ditawarkan oleh Ezra Pound dalam merumuskan “kalimat puitik”, seperti puisi yang ditulisnya dan dianggap oleh para kritikus sebagai pemula dari puisi modern ini:

    ————————————–
    PADA SATU STASIUN METRO
    ————————————–

    Penampakan wajah-wajah ini di kerumunan;
    kelopak-kelopak di dahan basah, dan hitam.
    ……………………………

    Jukstaposisi yang ada dalam puisi Ezra Pound itu adalah membandingkan antara kelopak-kelopak bunga dan dahan hitam dengan wajah-wajah penumpang dan kereta api di dalam satu stasiun metro. Perbandingan yang mengejutkan itu menimbulkan kesan emosi yang kuat dalam benak pembaca tentang wajah-wajah penumpang yang mungkin lelah setelah perjalanan, wajah-wajah yang seperti kelopak-kelopak bunga yang basah di dahan hitam. Namun, puisi ini juga membuka ruang lain bagi pembaca untuk menafsir, misalnya: wajah-wajah para penumpang itu merupakan wajah-wajah kaum pekerja yang lelah setelah menghadapi kerasnya kehidupan di kota yang dipenuhi persaingan dan dominasi modal—seperti kelopak-kelopak bunga pada sebatang dahan hitam. Begitulah, sejak saat itu, puisi modern dunia telah bertransformasi menjadi semacam lukisan dengan bahasa.

    Pergulatan para penyair dari segi “teknik”, sejak masa Yunani kuno hingga modern (mungkin pula pascamodern), adalah pergulatan untuk menemukan “bahasa puitik”, pergulatan antara “irama puitik” dengan “lukisan puitik” sebagai pilihan atas bentuk-bentuk artistik. Dan, bagi pembaca, memahami pergulatan para penyair dalam menemukan bahasa puitik adalah jalan terlempang untuk memahami puisi sebagai karya sastra, sebagai salah satu bentuk terpurba dari seni yang pernah diciptakan oleh manusia.

    Berikut ini empat puisi imajisme karya Ezra Pound yang saya terjemahkan beberapa tahun lalu.

    SEBAB

    Aku bergabung dengan kata-kata ini demi empat orang,
    Mungkin pula ada orang lain yang mendengarnya,
    O dunia, aku turut bersedih,
    Kau tak mengenal keempat orang ini.

    ——————————————————

    GAMBAR

    Mata perempuan mati ini bicara padaku,
    Karena di sini cinta tak akan tenggelam.
    Dan di sini hasrat tak akan dicium.
    Mata perempuan mati ini bicara padaku.

    ——————————————————

    SEORANG GADIS

    Pohon itu telah memasuki tanganku,
    Getah pun naik ke lenganku,
    Pohon itu tumbuh di payudaraku–
    Ke bawah,
    Cabang-cabang tumbuh dariku, seperti setiap lengan.

    Pohonlah kau,
    Lumutlah kau,
    Kau bunga-bunga violet dengan angin di atasnya.
    Seorang anak–begitu tinggi–itulah kau,
    Dan semua ini adalah kebodohan bagi dunia.

    ——————————————————

    SATU LAGU TENTANG TINGKATAN

    I
    Aku istirah dengan warna-warna Cina,
    Karena kupikir kaca itu jahat.

    II
    Angin bergerak di atas gandum–
    Dengan satu pecahan perak,
    Semacam dentam suara yang tipis.

    Aku tahu perihal cakram emas,
    Aku melihatnya meleleh di atasku.
    Aku tahu tempat batuan-berkilau,
    Semacam aula warna yang jelas.

    III
    O kaca halus nan jahat, O warna-warna membingungkan!
    O cahaya terikat dan tertunduk, jiwa dari tawanan,
    Kenapa aku diperingatkan? Kenapa aku diusir?
    Kenapa kilaumu penuh rasa ingin tahu yang mencurigakan?
    O kaca halus dan licik, O bubuk emas!
    O filamen amber, permainan warna dengan dua-muka!

    ——————————————————
    ——————————————————

    IN A STATION OF THE METRO

    The apparition of these faces in the crowd;
    petals on a wet, black bough.

    ——————————————————

    CAUSA

    I join these words for four people,
    Some others may overhear them,
    O world, I am sorry for you,
    You do not know these four people.

    ——————————————————

    THE PICTURE

    The eyes of this dead lady speak to me,
    For here was love, was not to be drowned out.
    And here desire, not to be kissed away.
    The eyes of this dead lady speak to me.

    ——————————————————

    A GIRL

    The tree has entered my hands,
    The sap has ascended my arms,
    The tree has grown in my breast–
    Downward,
    The branches grow out of me, like arms.

    Tree you are,
    Moss you are,
    You are violets with wind above them.
    A child–so high–you are,
    And all this is folly to the world.

    ——————————————————

    A SONG OF THE DEGREES

    I
    Rest me with Chinese colours,
    For I think the glass is evil.

    II
    The wind moves above the wheat–
    With a silver crashing,
    A thin war of metal.

    I have known the golden disc,
    I have seen it melting above me.
    I have known the stone-bright place,
    The hall of clear colours.

    III
    O glass subtly evil, O confusion of colours!
    O light bound and bent in, soul of the captive,
    Why am I warned? Why am I sent away?
    Why is your glitter full of curious mistrust?
    O glass subtle and cunning, O powdery gold!
    O filaments of amber, two-faced iridescence!

    ——————————————–
    Esai @ Ahmad Yulden Erwin, 2015
    ——————————————–

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here