More

    Melepaskan Beban Petani dan Mengembalikan Kedaulatan Pangan

    Oleh: Andrezal*

    Buruh tani tua sedang melakukan negosiasi dengan pemilik sawah dalam menentukan pembagian hasil panen. (Foto: Andrezal)

    Majelis Kritis yang diselenggarakan Geostrategy Study Club (GSC) dan Kabarkampus.com pada hari Minggu (29/01/2023) secara daring, turut menghadirkan Prof. Dwidjono Hadi menjadi narasumber. Beliau adalah Guru Besar Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM).

    Menjawab pertanyaan yang tertuang pada tema Majelis Kritis “Kenapa harga beras di Indonesia termahal di ASEAN?”, Prof. Dwidjono Hadi memaparkan alasan melonjaknya harga beras. Dua penyebab utama kenaikan harga beras adalah upah buruh tani yang mahal dan biaya input yang mahal.

    - Advertisement -

    Upah buruh tani setiap tahun terdongkrak karena kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) menyesuaikan standar kebutuhan fisik minimum. Di saat yang sama jumlah petani menyusut disebabkan regenerasi petani Indonesia yang lambat. Akibatnya yang tersisa hanya petani usia tua yang jumlahnya semakin menurun. Sensus Petani 2013 memperlihatkan bahwa petani pemilik lahan sudah keluar dari sektor pertanian sekitar 18%. Sedangkan buruh tani sudah keluar dari sektor pertanian sekitar 34%. Kelangkaan tenaga kerja petani ini semakin memicu kenaikan upah. Sementara upah buruh tani merupakan 60% komponen biaya produksi tani di Indonesia.

    Berbeda dengan negara ASEAN lainnya, tenaga kerja manusia sudah banyak digantikan oleh tenaga mesin. Pertanian modern dengan mesin pengolah tanah hingga mesin pemupukan dan mesin panen yang serba modern dengan menggunan “remote control”. Salah satu contohnya, Thailand menggunakan pembangkit listrik tenaga angin untuk memompa air ke permukaan lahan yang kering. Ini telah dimulai Thailand sejak 2011, sedangkan Indonesia belum memulai terobosan dalam pengembangan teknologi pertanian tepat guna.

    Faktor lain yang membuat harga beras menjadi tinggi adalah biaya imput yang mahal. apa sebab? karena mekanisme subsidi benih dan pupuk yang tidak tepat. Sejak pemerintahan Soeharto subsidi pertanian tidak langsung ke petani tapi ke perusahaan pupuk dan benih. Sementara negara-negara ASEAN lainnya memberi subsidi pupuk langsung ke petani. 

    Selain itu penerapan kebijakan IMF membuat rantai produksi beras menjadi semakin panjang. Sebelum IMF masuk tahun 1998 dan melarang Bulog melakukan monopoli stok serta impor, rantai produksi beras masih pendek. Namun setelah pemberlakuan larangan IMF rantainya menjadi panjang dan menambah banyak biaya produksi.

    Dalam mengedarkan pupuk dan benih misalnya, perusahaan akan menggunakan alat transportasi sedangkan harga BBM semakin naik. Saat sampai di petani harga pupuk dan benih menjadi lebih mahal karena tambahan biaya transportasi. Beban biaya produksi petani tentu juga akan semakin berat bagi petani. Di beberapa negara Asean lain penyaluran pupuk dan benih dilakukan lewat jalur air dengan menggunakan transportasi non-mesin. Langkah tersebut bermanfaat untuk menekan biaya. Kemudian di negara seperti Vietnam irigasi dari sungai lancar dan petani tidak dibebankan pada iuran perbaikan irigasi. Karena itu ongkos produksi petani tidak bertambah. 

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here