Di sisi lain, pandangan berbeda terkait dinamika konflik juga disampaikan oleh tokoh nasional Amien Rais. Ia menilai terdapat kejanggalan dalam cara sebagian pihak memandang konflik di Timur Tengah, khususnya terkait Israel, Iran, dan peran Amerika Serikat.
Menurut Amien, terdapat kecenderungan sebagian kalangan untuk terlalu mengagungkan kekuatan Israel, bahkan hingga mengabaikan realitas yang lebih kompleks di lapangan. “Manusia yang sangat lihai dan licin dalam urusan tipu-menipu. Ya, itulah Trump,” jelasnya seperti dikutip dari Suara Islam.
Ia juga menyoroti bagaimana persepsi tersebut dapat dipengaruhi oleh mentalitas tertentu yang cenderung merendahkan kemampuan bangsa sendiri dibandingkan pihak luar. “Jadi seolah-olah, kata Amien, bangsa berkulit sawo matang dan berambut hitam ditakdirkan kalah menghadapi mereka yang berkulit putih dan berambut pirang.” tuturnya.
Dalam pandangannya, penilaian yang terlalu menyederhanakan kekuatan suatu negara dapat menyesatkan, terutama jika tidak didasarkan pada analisis objektif. Amien turut mengingatkan bahwa konflik yang terjadi tidak bisa dilepaskan dari berbagai pelanggaran kemanusiaan yang telah disorot oleh lembaga internasional.
Ia kemudian mengajak masyarakat, khususnya kalangan intelektual, untuk bersikap kritis dan tidak terjebak pada narasi yang dinilai bias. “Nah, Netanyahu itu manusia yang sangat bengis sehingga Badan Kemanusiaan PBB mengeluarkan peringatan yang sangat tajam pada 16 September 2025 yang menjelaskan ada lima langkah genosida Netanyahu.” tegasnya.
Melalui berbagai pernyataan tersebut, baik Hidayat Nur Wahid maupun Amien Rais sama-sama menekankan pentingnya perhatian global terhadap isu kemanusiaan dan keadilan di Timur Tengah. Mereka juga mengingatkan bahwa peran masyarakat internasional sangat dibutuhkan untuk mendorong terciptanya perdamaian yang berkelanjutan di kawasan tersebut.






