
BANJARMASIN, KabarKampus – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) kembali menegaskan komitmennya sebagai kampus berdampak melalui penguatan kolaborasi dengan pemerintah dan pengembangan inovasi di bidang lingkungan hidup. Hal ini ditandai dengan kehadiran Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq, dalam rangkaian Wisuda ke-129 ULM sekaligus pencanangan program “Sampah Kampus, Selesai di Kampus”, Kamis (9/4).
Momentum tersebut juga diisi dengan pengukuhan 275 Mahasiswa Penggerak Pilah Sampah sebagai langkah awal membangun budaya pengelolaan sampah berbasis partisipasi civitas akademika. Rektor ULM, Ahmad Alim Bachri, menegaskan pentingnya gerakan kolektif dalam menciptakan perubahan berkelanjutan.
“Sebanyak 275 mahasiswa dari seluruh fakultas kami kukuhkan sebagai penggerak pilah sampah. Ini merupakan modal awal untuk membangun budaya pengelolaan sampah yang berkelanjutan, tidak hanya di lingkungan kampus, tetapi juga di masyarakat,” ujarnya seperti dikutip dari situs ULM.
Ia menambahkan bahwa ULM akan terus memperluas gerakan ini hingga ke tingkat program studi guna memperkuat sinergi internal. “Kami berkomitmen untuk mendorong inovasi dan implementasi pengelolaan sampah berbasis riset agar ULM benar-benar menjadi kampus yang berdampak, khususnya dalam menjawab persoalan lingkungan,” tambahnya.
Sejalan dengan gerakan tersebut, ULM juga menghadirkan solusi berbasis riset melalui inovasi teknologi pengolahan sampah. Di bawah koordinasi Kepala LPPM ULM, Sunardi, tim dosen lintas disiplin mengembangkan reaktor pelelehan sampah plastik residu yang mampu mengubah limbah menjadi material komposit bernama ecowood.
“Melalui proses pelelehan dengan suhu terkontrol, sampah plastik residu dapat dikonversi menjadi produk komposit berkualitas tinggi yang memiliki nilai ekonomi. Satu ton sampah dapat menghasilkan hingga satu meter kubik ecowood dengan nilai jual yang kompetitif,” jelasnya.
Teknologi ini dirancang untuk mengolah sampah plastik campuran tanpa perlu pemilahan yang kompleks. Prosesnya berlangsung pada suhu di bawah 250 derajat Celsius, sehingga relatif aman dan tidak menghasilkan emisi berbahaya seperti dioksin.
Hasilnya berupa material padat yang dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk, seperti furnitur dengan ketahanan terhadap rayap, asam, dan api. Inovasi yang telah dikembangkan selama empat tahun ini juga telah dipatenkan atas nama ULM dan mulai diproduksi secara massal melalui mitra.
Selain memberikan solusi lingkungan, teknologi tersebut juga memiliki nilai ekonomi, dengan potensi hasil olahan mencapai jutaan rupiah per ton sampah. Menanggapi hal tersebut, Menteri Lingkungan Hidup memberikan apresiasi terhadap langkah ULM dalam mengintegrasikan gerakan sosial dan inovasi teknologi.
“Gerakan ‘Sampah Kampus, Selesai di Kampus’ merupakan langkah strategis dalam membangun budaya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Kampus memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran lingkungan yang berkelanjutan,” ujarnya.Ia juga menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah memerlukan komitmen jangka panjang serta dukungan kepemimpinan yang kuat. Melalui sinergi antara gerakan mahasiswa dan inovasi berbasis riset, ULM tidak hanya berperan sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai pusat solusi terhadap persoalan lingkungan. Ke depan, kampus ini juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai daerah guna memperluas implementasi teknologi pengolahan sampah berkelanjutan.






