Oleh: Randi Aprialdi

Dalam beberapa pekan terakhir, pemandangan yang sempat lama menghilang kembali terlihat di berbagai kota: mahasiswa turun ke jalan. Dari Bandung, Jakarta, Yogyakarta, hingga sejumlah daerah lain, mahasiswa menggelar demonstrasi, menyampaikan kritik, dan menuntut perubahan kebijakan pemerintah.
Bagi sebagian orang, fenomena ini terasa seperti kilas balik masa lalu. Setelah beberapa tahun terakhir gerakan mahasiswa tampak lebih banyak berlangsung di media sosial, ruang diskusi daring, atau forum akademik, kini jalanan kembali menjadi panggung utama.
Pertanyaannya, apa yang sebenarnya sedang diperjuangkan mahasiswa? Jawabannya mungkin lebih kompleks daripada sekadar menolak satu kebijakan tertentu.
Dari Harga BBM hingga Masa Depan Ekonomi
Jika memperhatikan berbagai tuntutan yang disampaikan dalam aksi-aksi mahasiswa belakangan ini, sebagian besar berangkat dari keresahan ekonomi. Kenaikan biaya hidup, melemahnya daya beli masyarakat, sulitnya lapangan kerja bagi lulusan baru, hingga berbagai program pemerintah yang dianggap membebani anggaran negara menjadi isu yang sering muncul dalam pernyataan sikap mahasiswa.
Banyak mahasiswa melihat bahwa persoalan ekonomi tidak hanya berdampak pada masyarakat umum, tetapi juga langsung menyentuh kehidupan mereka sendiri. Biaya kuliah terus meningkat di berbagai kampus. Harga kos, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari juga semakin mahal.
Sementara itu, prospek kerja setelah lulus dianggap tidak secerah beberapa tahun lalu. Bagi mahasiswa, masa depan yang sebelumnya terlihat menjanjikan kini terasa lebih tidak pasti.
Kampus Tidak Lagi Terpisah dari Realitas Sosial
Ada anggapan bahwa mahasiswa hanya fokus pada urusan akademik. Namun sejarah Indonesia menunjukkan hal yang berbeda. Sejak masa pergerakan nasional, reformasi 1998, hingga berbagai gerakan sosial setelahnya, kampus selalu memiliki hubungan erat dengan kondisi masyarakat.
Mahasiswa mungkin tidak merasakan langsung dampak kebijakan publik seperti petani, buruh, atau nelayan. Namun mereka sering kali melihat persoalan tersebut sebagai bagian dari masa depan yang akan mereka hadapi setelah lulus.
Karena itulah isu seperti pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, lingkungan, hingga tata kelola pemerintahan menjadi perhatian gerakan mahasiswa. Mereka tidak hanya berbicara tentang kehidupan di dalam kampus, tetapi juga tentang arah pembangunan negara.
Generasi yang Merasa Kurang Didengar
Salah satu faktor yang mendorong mahasiswa kembali turun ke jalan adalah munculnya perasaan bahwa aspirasi mereka tidak cukup didengar. Media sosial memang memberikan ruang untuk menyampaikan kritik. Namun banyak mahasiswa menilai bahwa diskusi digital sering kali berhenti pada perdebatan tanpa menghasilkan perubahan nyata.
Demonstrasi kemudian dianggap sebagai cara untuk menarik perhatian publik sekaligus menekan pengambil kebijakan agar memberikan respons. Dalam konteks ini, aksi turun ke jalan bukan semata-mata bentuk kemarahan, melainkan upaya agar suara mereka masuk ke ruang pengambilan keputusan.
Lebih dari Sekadar Politik
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






