
Pada kesempatan yang sama, Deputi Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, Slamet Aji Pamungkas, mengatakan bahwa penguatan kapasitas menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan ekonomi digital nasional.
“Pemanfaatan teknologi digital yang semakin luas perlu diimbangi dengan peningkatan kemampuan dalam menghadapi berbagai risiko siber. Upaya ini membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan agar ruang digital Indonesia dapat tumbuh secara sehat, aman, dan terpercaya,” kata Slamet.
Sementara itu, Ketua Umum ADIGSI, Firlie Ganinduto, mengatakan bahwa peningkatan kesadaran mengenai keamanan siber perlu menjangkau lebih banyak daerah dan sektor industri.
“Banyak organisasi sudah menyadari pentingnya keamanan siber, namun tantangan berikutnya adalah bagaimana menerjemahkan kesadaran tersebut menjadi tindakan nyata. Melalui GNKS, kami ingin menghadirkan forum yang praktis sehingga para peserta dapat saling belajar dan membawa hasil yang bisa diterapkan di organisasi masing-masing,” ujar Firlie.
Menurutnya, Makassar memiliki posisi strategis sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia sehingga menjadi lokasi yang tepat untuk memperluas gerakan ini.
Gerakan Nasional Ketahanan Siber merupakan inisiatif yang dijalankan ITSEC Asia bersama ADIGSI sepanjang tahun 2026 untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapan menghadapi ancaman siber di berbagai sektor. Setelah Banten dan Makassar, rangkaian kegiatan ini akan berlanjut ke Pontianak, Bali, Yogyakarta, dan Medan.
“Kami berharap semakin banyak organisasi yang terlibat dalam gerakan ini. Ketahanan siber pada akhirnya merupakan kepentingan bersama yang akan mendukung tingkat kepercayaan terhadap ekonomi digital Indonesia,” tutup Patrick.






