More

    Riset Kampus Jangan Berhenti di Jurnal

    Apa yang Dimaksud dengan Hilirisasi Riset?

    Hilirisasi pada dasarnya merupakan proses membawa hasil penelitian menuju tahap yang dapat dimanfaatkan. Bentuknya tidak selalu harus berupa produk yang dijual di pasar. Hasil riset dapat dikembangkan menjadi prototipe, teknologi yang digunakan industri, model bisnis, rekomendasi kebijakan, metode pelayanan, hingga solusi yang diterapkan di masyarakat.

    Kemdiktisaintek, misalnya, mendorong luaran penelitian yang tidak hanya berbentuk publikasi ilmiah melalui program Bestari Saintek. Program tersebut mengenalkan konsep Non-Traditional Research Output (NTRO), yang mencakup prototipe, model bisnis, kebijakan, serta inovasi yang siap diterapkan di masyarakat dan industri.

    - Advertisement -

    Dengan pendekatan seperti ini, penelitian tidak kehilangan fungsi akademiknya. Publikasi tetap menjadi bagian dari proses ilmiah, tetapi hasil penelitian juga diberi kesempatan untuk berkembang menjadi sesuatu yang bisa digunakan di luar kampus. Salah satu tantangan dalam menghasilkan riset yang berdampak adalah menentukan persoalan yang hendak diselesaikan sejak awal

    Penelitian yang dekat dengan kebutuhan masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk menemukan pengguna atau mitra setelah penelitian selesai. Karena itu, komunikasi antara peneliti dengan pemerintah daerah, industri, komunitas, maupun kelompok masyarakat dapat dilakukan sejak proses perumusan masalah.

    Kemdiktisaintek juga menekankan pentingnya keterhubungan antara perguruan tinggi dan kebutuhan industri. Dalam forum KSTI 2026, pemerintah mendorong kolaborasi kampus dengan industri agar hasil riset dapat ditransformasikan menjadi teknologi, produk, dan industri yang memiliki nilai tambah.

    Artinya, peneliti tidak harus menunggu penelitian selesai untuk mencari pihak yang akan memanfaatkannya. Kebutuhan pengguna dapat menjadi salah satu pertimbangan ketika menentukan arah penelitian. Membawa hasil penelitian ke masyarakat juga bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh peneliti seorang diri. 

    Sebuah temuan yang sudah terbukti di laboratorium masih membutuhkan proses pengembangan sebelum dapat digunakan secara luas. Produk mungkin membutuhkan pengujian tambahan, sertifikasi, perlindungan kekayaan intelektual, pembiayaan, mitra produksi, strategi pemasaran, atau dukungan regulasi.

    Oleh karena itu, perguruan tinggi membutuhkan ekosistem yang menghubungkan peneliti dengan berbagai pihak. alah satu contohnya adalah pengembangan Science Techno Park dan startup berbasis riset. Kemdiktisaintek mendorong ekosistem tersebut untuk mempertemukan akademisi, startup, investor, mentor, dan mitra strategis agar hasil penelitian dapat bergerak menuju tahap komersialisasi.

    Universitas Indonesia juga baru-baru ini menegaskan arah serupa melalui UI Innovation Festival 2026. UI menyebut sebanyak 40 startup telah dihasilkan melalui program Prime Step sepanjang 2026 dan diarahkan untuk mengembangkan kekayaan intelektual serta membawa hasil riset menuju tahap hilirisasi.

    Mahasiswa Juga Bisa Terlibat

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here