More

    Kapitalisme dan Harga Pangan di Indonesia

    Oleh: Ken Budha Kusumandaru[1]

    Ilustrasi Tanaman Padi. (Foto: Oryza Sativa via mediatani.co)

    Sebuah paradigma Jaring Kehidupan 

    Pendahuluan: Kehidupan dan Alam Semesta 

    Kehidupan. 

    - Advertisement -

    Sudah menjadi kebiasaan kita untuk memisahkan antara “hidup” dan “tidak hidup”. Sejak dini, kita diajari bahwa benda-benda di dunia ini terbagi antara “benda hidup” dan “benda mati”. Dan, di antara “benda-benda hidup”, manusialah mahluk yang tertinggi, yang menjadi penguasa atas seantero bumi—baik yang “hidup” maupun “tak hidup”. Entah diistilahkan sebagai “khilafah” atau “masters of the universe”, manusia ditempatkan sebagai pusat alam semesta, poros di mana bumi berputar. 

    Cara pandang seperti ini telah menghasilkan sebuah krisis yang terjadi di depan mata kita. Krisis ini terjadi serempak di berbagai bidang: krisis iklim, krisis ekonomi, krisis sosial, dan krisis politik. Konflik bersenjata, melonjaknya kejahatan berbasis kebencian, dan ketidakpastian dalam lapangan pekerjaan terjadi parallel dengan perubahan iklim yang menghasilkan banyak kerusakan dan pergerakan lempeng bumi yang menimbulkan banyak korban. Krisis Alam dan Krisis Sosial berjalan beriringan, berpotongan, atau bahkan bertumburan. 

    Dalam bukunya Capitalism in the Web of Life, Jason Moore (2015) menawarkan satu paradigma untuk membantu kita memahami krisis multidimensional yang terjadi di hadapan kita—baik secara global maupun secara nasional. Tulisan singkat ini mencoba memperkenalkan paradigma Web of Life sebagai cara pandang kita atas krisis ganda (kerusakan dan degradasi lingkungan) dan krisis ekonomi-politik (lonjakan harga pangan) yang saat ini melanda negeri kita. 

    Alam dan Manusia sebagai Kesatuan Dialektik 

    Moore menawarkan konsep double internality (internalitas berganda) (Moore, 2015: 5), di mana sebuah interaksi bolak-balik (interpenetration) antara alam dan manusia adalah sepasang gerak sejarah yang membentuk baik alam maupun masyarakat manusia sepanjang sejarahnya. Paradigma Jaring Kehidupan melihat bahwa alam membentuk manusia beserta sistem sosialnya, sebaliknya dan pada saat bersamaan, manusia dan sistem sosialnya membentuk alam. 

    Dalam sebuah analisa, kita dapat memfokuskan diri pada salah satu aspek dari dualitas Alam/Sosial ini. Namun, sepanjang proses, kita tidak boleh melupakan bahwa proses yang lain berjalan bersamaan dan mempengaruhi proses yang tengah kita bahas. 

    Sistem sosial dominan di mana kita hidup saat ini adalah kapitalisme. Nyaris 24/7 kita berhubungan dengan sebuah sistem sosial yang memberi penekanan pada pengejaran profit. Sebuah sistem sosial didefinisikan oleh apa yang dianggap berharga (dengan kata lain, sistem nilai) dalam sistem bersangkutan. Dan, dalam kapitalisme, hal yang paling dianggap berharga adalah produktivitas tenaga kerja (Moore, 2015: 38). 

    Sistem nilai bertindak sebagai semacam pusat gravitasi yang membuat segala hal lain berputar di sekitarnya. Sistem keluarga, pendidikan, hukum, keagamaan, moral, semua menghamba atau diperhambakan oleh “produktivitas tenaga kerja”. Produktivitas tenaga kerja ini juga yang membentuk relasi manusia dengan alam, antar manusia, dan antar manusia dengan religiositasnya. 

    Permasalahannya, menurut Moore, “produktivitas tenaga kerja” ini dilakukan untuk satu tujuan tertentu, yakni akumulasi di tangan segelintir pemilik modal. Karenanya, metode untuk terus-menerus menghasilkan peningkatan produktivitas tenaga kerja adalah Empat Murah: tenaga kerja murah, energi murah, sumber daya alam murah, dan pangan murah. Untuk mendapatkan Empat Murah inilah pemilik modal terus-menerus mengadakan ekspansi geografis (untuk mencari sumber murah baru) dan reorganisasi internal (mencari cara-cara baru untuk menekan biaya di pasar-pasar yang sudah dalam genggaman) (Moore, 2015: 39-40). 

    Yang perlu digarisbawahi adalah bahwa “murah” dalam Empat Murah bukanlah dari sudut pandang konsumen (atau rakyat secara keseluruhan), melainkan hanya dari sudut pandang pemilik modal. Jadi, misalnya, bukan murahnya harga pangan di Pasar Induk yang jadi perhatian kapitalisme melainkan murahnya harga pangan untuk keperluan industri. 

    Interpenetrasi Alam/Sosial terjadi ketika, dalam pengejarannya terhadap “produktivitas tenaga kerja” ini, kapitalisme juga mengejar akumulasi dan Empat Murah. Tidak ada jalan untuk mendamaikan “akumulasi” dan “murah” kecuali lewat diskriminasi (Moore, 2015: 8). Lewat diskriminasi—terutama berbasis kelas, ras, dan gender—kapitalisme menciptakan situasi sosial yang perlu agar dapat menekan upah, merampas wilayah/tanah, mendorong orang menjual murah, atau membenarkan terjadinya ketidakadilan pada orang lain. 

    Kelas, misalnya, merupakan formasi sosial yang muncul lewat konversi lahan pedesaan menjadi lahan industri—baik melalui perampasan lewat kekerasan ataupun pengambilalihan legal. Kaum tani yang tidak lagi memiliki lahan, atau kehilangan masa depan akibat kerusakan tanah atau jatuhnya nilai tukar petani, berbondong-bondong mengadu nasib ke kota-kota sebagai buruh murah. 

    Ras, sebagai contoh lain, merupakan diskriminasi sosial yang diperlukan untuk membenarkan perdagangan budak. Budak-budak inilah yang menjadi tenaga kerja utama pada perkebunan-perkebunan kolonial, yang menghasilkan profit setinggi langit bagi kongsi-kongsi dagang Eropa. Ras juga dipergunakan sebagai alasan untuk menghancurkan pesaing bisnis, seperti yang dilakukan terhadap Yahudi Eropa oleh Nazi Jerman. Nyatanya, nyaris semua pola kerusuhan rasial mulai abad ke-20 menunjukkan sentiment kecemburuan bisnis di belakangnya. 

    Dan gender. Gender sudah terlalu lama digunakan untuk mendiskriminasi perempuan. Kapitalisme hanya mengambil oper sistem diskriminasi gender ini untuk membenarkan pemberian upah lebih murah bagi buruh perempuan. Diskriminasi berbasis gender juga membuat perempuan bersedia melakukan kerja tak dibayar untuk memelihara ketersediaan tenaga kerja produktif bagi pemilik modal—a.k.a. kerja domestik. 

    Agar diskriminasi dapat menjadi basis pembagian kerja dan akumulasi dalam masyarakat, kapitalisme perlu melakukan reorganisasi atas struktur kekuasaan, struktur kapital, dan alam (Moore, 2015: 15). Reorganisasi itu dilakukan baik dalam rangka ekspansi geografis (Moore menyebutnya frontier areas, atau “wilayah tapal batas”) maupun secara internal (“zona komoditi”). Di “zona komoditi”, kapitalisme akan berusaha untuk mencari cara baru untuk menekan upah dan biaya energi, sementara di “wilayah tapal batas” kapitalisme akan mencari cara paling efisien untuk menguras Sumberdaya Murah (Moore, 2015: 81). 

    Dalam hal ini, dualitas Alam/Sosial kembali bekerja. Misalnya, dalam hal minyak bumi. Ketika ekspansi geografis untuk mencari energi murah masih berlangsung, perusahaan-perusahaan minyak multinasional jor-joran membuka ladang minyak di mana-mana. Begitu produksi turun, mereka bisa segera loncat ke ladang lain yang masih segar. Di tahun 1970-90an, “anak-anak minyak” terkenal sebagai jutawan-jutawan yang menikmati fasilitas kenyamanan hidup nomor satu di seluruh dunia. Namun kini, ketika cadangan minyak dunia telah mulai habis,[2] mulailah jaminan benefit bagi pekerja minyak dipangkas, banyak pekerjaan mulai di-outsourcing dengan upah murah, tidak ada lagi kompleks-kompleks mewah besar yang disediakan bagi pekerja minyak dan keluarganya. Dan, yang terpenting, sumur-sumur minyak yang sudah turun produksinya pun masih saja dikuras dengan teknik-teknik produksi baru. Secara sosial, “anak-anak minyak” di dekade terakhir abad ke-20 terkenal merupakan poster boys/girls dari “gaya hidup Amerika” sementara sekarang, barangkali kita bisa sebut, “anak-anak minyak” ini sudah jauh lebih konservatif dalam cara pandang mereka atas kehidupan.[3]

    Sementara kapitalisme (sebagai sistem sosial dominan saat ini) mengubah alam, alam juga mengubah kapitalisme (baik secara teknis dan metode kerja maupun sistem moralnya). Inilah dualitas Alam/Sosial. 

    Jadi, bagaimana paradigma Jaring Kehidupan dapat membantu kita memahami gejala melonjaknya harga pangan di Indonesia? 

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    1 COMMENT

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here