Oleh: Furqan AMC*

Di tengah dunia yang perlahan-lahan mulai memalingkan wajah dari Jalur Gaza, sebuah suara dari dalam reruntuhan mengingatkan kita bahwa di sana, kehidupan tidak benar-benar berhenti—ia dipaksa bertahan dengan cara yang paling perih.
Prof. Ziad Medoukh, seorang pengajar bahasa Prancis dan penyair yang memilih menolak opsi evakuasi ke Eropa demi mendampingi anak-anak di tanah kelahirannya, membagikan realitas getir ini dalam sebuah wawancara mendalam di kanal Neutrality Studies (6/7/2026).
Gaza hari ini bukan sekadar wilayah yang luluh lantak; ia adalah sebuah ruang hidup yang sengaja dipersempit hingga batas psikologis dan fisik yang nyaris mustahil bagi manusia.
Menolak Pergi dari Tanah yang Menyusut
Bagi masyarakat luar, istilah “gencatan senjata” mungkin terdengar seperti akhir dari badai. Namun bagi dua juta warga Palestina di Gaza, kesepakatan yang dimulai sejak akhir tahun lalu hanyalah sebuah jeda dari intensitas tinggi, bukan akhir dari teror.
Pengeboman udara dan serangan skala kecil masih menjadi sarapan sehari-hari. Angka korban telah menyentuh batas yang mengerikan: hampir 73.000 jiwa melayang, dan belasan ribu lainnya hilang terkubur di bawah beton.
Lebih jauh lagi, Gaza kini mengalami apa yang disebut “penyusutan wilayah”. Pihak militer pendudukan telah menguasai sekitar 64% wilayah daratan dan menetapkan zona terlarang yang ketat.
Akibatnya, jutaan manusia kini berjejal di atas sisa 36% wilayah yang sudah hancur. Sebanyak 87% warga Gaza kini terpaksa menghabiskan hari-hari mereka di dalam tenda-tenda darurat, bertarung melawan cuaca ekstrem tanpa perlindungan infrastruktur yang layak.
Situasi Terkini di Gaza: Pencekikan Ekonomi dan Kelaparan Terstruktur
Salah satu aspek paling kejam dari situasi Gaza saat ini adalah pembatasan bantuan kemanusiaan yang menyerupai taktik pencekikan perlahan. Dari kesepakatan awal yang menjanjikan 600 truk bantuan per hari, hanya sekitar 150 truk yang diizinkan melintas.
Tragisnya, muatan truk-truk ini didikte oleh otoritas pendudukan. Alih-alih membawa gandum, daging, sayuran, atau susu formula, truk-truk tersebut sering kali justru dipenuhi oleh barang-barang non-esensial seperti keripik, cokelat, dan minuman bersoda.
Dampaknya adalah kelaparan terstruktur. Sebanyak 98% warga Gaza kini berada dalam jerat krisis pangan akut. Harga barang-barang pokok melonjak ke angka yang tidak masuk akal bagi wilayah konflik:
- 1 liter susu dihargai mencapai €13 (sekitar Rp268.000)
- Satu baki telur menyentuh angka €40 (sekitar Rp825.000)
- 1 kilogram tomat dihargai hingga €10 (sekitar Rp206.000)
Sektor lokal yang dahulu menjadi urat nadi ekonomi, seperti perikanan, juga dilumpuhkan secara sistematis. Dari 750 nelayan yang dahulu menghidupi pesisir Gaza, kini hanya tersisa sekitar 120 orang yang berani melaut di bawah bayang-bayang tembakan angkatan laut Israel.
Membaca di Antara Reruntuhan: Pendidikan sebagai Garis Perlawanan
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






