More

    Mengintip Sisa Hidup di Gaza: Saat Kemanusiaan Bertahan di Antara Puing dan Angka

    Membaca di Antara Reruntuhan: Pendidikan sebagai Garis Perlawanan

    Bagaimana sebuah bangsa mempersiapkan masa depan ketika seluruh universitas mereka telah rata dengan tanah? Di Gaza, jawabannya adalah dengan terus belajar.

    Meskipun 250 sekolah hancur dan sisanya berubah menjadi kamp pengungsian, antusiasme pendidikan di Gaza tidak padam. Di bawah tenda-tenda sempit tanpa meja dan kursi, anak-anak duduk di atas tanah, mengeja huruf dan menghitung angka.

    - Advertisement -

    Karena keterbatasan fasilitas dan gugurnya lebih dari 1.200 tenaga pengajar, kurikulum dipangkas secara radikal. Pelajaran seni, olahraga, dan sejarah ditiadakan; fokus dialihkan sepenuhnya pada empat pilar: Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Matematika, dan Sains.

    Bagi mereka, pendidikan bukan lagi sekadar formalitas akademik, melainkan sebuah bentuk perlawanan budaya untuk menjaga identitas agar tidak terhapus dari sejarah.

    Kehilangan Harapan pada Negara, Percaya pada Manusia

    Bagi Prof. Ziad dan jutaan warga Gaza lainnya, janji-janji politik dari meja diplomasi internasional, resolusi PBB, maupun sikap diam negara-negara tetangga sudah lama kehilangan maknanya. Mereka merasa ditinggalkan oleh sistem politik global.

    Namun, di tengah keputusasaan terhadap pemerintah dan negara, mereka justru menemukan secercah harapan pada gerakan masyarakat sipil di seluruh dunia. Aksi-aksi solidaritas mahasiswa di kampus-kampus Barat dan demonstrasi jutaan manusia di jalan-jalan kota dunia adalah bahan bakar moral yang membuat warga Gaza merasa tidak sendirian.

    Setiap malam, setelah jam sepuluh, ketika seluruh pengungsi mulai terlelap di balik tenda, Prof. Ziad akan terbangun untuk menulis puisi dan mengirimkan kesaksian ke dunia luar. Menggunakan bahasa Prancis sebagai “pelindung batin” dari kebrutalan realitas, ia merekam senyum anak-anak yang masih bisa bermain di antara puing bangunan.

    “Pada akhirnya, kemanusiaan akan menang,” pungkasnya dengan keyakinan yang kokoh. Gaza mungkin sedang berada di titik nadir secara fisik, namun secara moral, ketangguhan manusianya sedang memberikan pelajaran terbesar bagi peradaban modern: bahwa ruang bisa dihancurkan, tetapi martabat tidak bisa dibeli.

    *Sekjen Free Palestine Network (FPN)

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here