More

    Kenapa Mahasiswa Sekarang Semakin Sulit Menjadi Idealis?

    Oleh: Randy Aprialdi

    Soe Hog Gie, aktivis 66. (Foto: tionghoa.info)

    Ada masa ketika mahasiswa begitu identik dengan satu kata, yaitu idealisme. Mereka turun ke jalan ketika melihat ketidakadilan. Mereka memenuhi ruang-ruang diskusi hingga larut malam. Mereka berdebat soal arah bangsa, mengkritik kebijakan pemerintah, hingga menjadi kelompok yang paling lantang mempertanyakan kekuasaan. Kampus bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang untuk melahirkan gagasan dan keberanian.

    Hari ini, pemandangan itu tidak sepenuhnya hilang. Demonstrasi mahasiswa masih ada. Diskusi masih berlangsung. Organisasi kemahasiswaan tetap berjalan. Namun, ada satu perubahan yang sulit dipungkiri. Menjadi mahasiswa yang idealis terasa jauh lebih sulit dibanding satu atau dua dekade lalu.

    - Advertisement -

    Bukan karena generasi sekarang tidak peduli. Melainkan karena mereka sedang menghadapi tekanan yang jauh lebih rumit. Mahasiswa hari ini hidup di tengah situasi yang berbeda. Biaya kuliah terus meningkat. Harga kebutuhan hidup naik. 

    Persaingan kerja semakin ketat. Luluan perguruan tinggi bertambah setiap tahun, sementara lapangan pekerjaan tidak tumbuh dengan kecepatan yang sama. Dalam situasi seperti itu, banyak mahasiswa akhirnya memandang kuliah sebagai investasi yang harus segera menghasilkan.

    Mereka berpikir tentang magang sejak semester awal. Mereka sibuk membangun portofolio, mengejar sertifikasi, mempercantik LinkedIn, hingga mencari pekerjaan lepas untuk menambah pengalaman sekaligus pemasukan. Semua itu bukan sesuatu yang salah. Justru menunjukkan bahwa mahasiswa semakin sadar terhadap realitas setelah lulus.

    Masalahnya, ketika hampir seluruh energi dihabiskan untuk bertahan menghadapi masa depan, ruang untuk memikirkan persoalan sosial menjadi semakin sempit. Dulu, menjadi aktivis kampus sering dianggap sebagai bentuk pengabdian. Hari ini, banyak mahasiswa harus menghitung ulang setiap waktu yang mereka miliki.

    Satu sore yang digunakan untuk rapat organisasi mungkin berarti satu proyek freelance yang terlewat. Satu hari mengikuti aksi demonstrasi bisa berarti kehilangan kesempatan wawancara magang. Bahkan mengikuti kegiatan sosial sering kali harus bersaing dengan jadwal kerja paruh waktu.

    Pilihan-pilihan seperti ini membuat idealisme bukan lagi sekadar persoalan keberanian, tetapi juga persoalan kemampuan bertahan hidup. Tidak sedikit mahasiswa yang sebenarnya ingin aktif menyuarakan berbagai isu. Namun, mereka juga sadar bahwa biaya kuliah tetap harus dibayar, uang kos harus tersedia, dan setelah wisuda mereka harus segera mendapatkan pekerjaan.

    Dalam kondisi seperti itu, menjadi idealis sering terasa sebagai kemewahan.

    Kampus Juga Berubah Karena Media Sosial

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here