More

    Mengapa Spanyol Lebih Diinginkan Menjadi Juara Dunia 2026

    Oleh: Dero*

    Ilustrasi.

    Bayangkan jutaan layar menyala secara bersamaan dari Madrid hingga Jakarta, dari Rabat sampai Santiago. Di satu sisi berdiri Argentina, juara bertahan dengan Lionel Messi yang sedang memburu akhir sempurna bagi kariernya. Di sisi lain ada Spanyol, sebuah mesin sepak bola yang datang bersama generasi baru, pertahanan nyaris tak tertembus, dan—di luar lapangan—citra politik yang membuat sebagian publik dunia merasa lebih nyaman berdiri di belakangnya.

    Final ini memang mempertemukan dua tim terbaik turnamen. Namun ia juga mempertemukan dua cerita besar. Argentina menawarkan nostalgia, keabadian Messi, dan kemungkinan gelar dunia kedua secara beruntun. Spanyol membawa cerita tentang pergantian zaman: dari Messi kepada Lamine Yamal, dari romantisme individu menuju kekuatan kolektif, serta dari dominasi sang juara bertahan menuju lahirnya sebuah dinasti baru.

    - Advertisement -

    Tidak ada survei global yang membuktikan bahwa mayoritas penduduk dunia mendukung Spanyol. Akan tetapi, dari statistik pertandingan, percakapan media sosial, rivalitas penggemar, sampai politik Palestina, terbentuk kesan kuat bahwa La Roja bukan hanya favorit di atas kertas. Mereka juga menjadi pilihan emosional bagi banyak orang.

    Spanyol Datang sebagai Tim yang Lupa Caranya Kalah

    Angka pertama yang membuat Spanyol begitu menakutkan adalah 37 pertandingan tanpa kekalahan. Rentetan itu menyamai rekor Eropa yang sebelumnya dicatat Italia. Selama lebih dari dua tahun, berbagai lawan datang dengan sistem, kualitas, dan karakter berbeda, tetapi tidak satu pun mampu menundukkan pasukan Luis de la Fuente. Argentina sendiri tiba dengan modal luar biasa berupa 14 kemenangan beruntun, tetapi kestabilan Spanyol berlangsung dalam periode yang jauh lebih panjang. 

    Rekor tersebut bukan dibangun dengan penguasaan bola yang sekadar indah. Spanyol sekarang jauh lebih lengkap dibandingkan generasi tiki-taka yang kadang terlalu sibuk mengoper tanpa membunuh pertandingan. Mereka dapat menguasai bola, menekan tinggi, bertahan dalam blok rapat, menyerang lewat sayap, dan menciptakan gol dari pemain yang berbeda-beda.

    Rodri menjadi pusat gravitasi. Dani Olmo dan Fabián Ruiz menghubungkan lini. Lamine Yamal membawa imajinasi. Mikel Oyarzabal menyediakan ketenangan di kotak penalti. Sementara para pemain belakang tidak hanya menjaga wilayah pertahanan, tetapi juga menjadi pemulai serangan.

    Opta bahkan memberikan Spanyol peluang sekitar 45 persen untuk menang dalam waktu normal, sementara kemungkinan kemenangan Argentina diperkirakan sekitar 26 persen. Angka itu bukan ramalan mutlak, tetapi cukup menjelaskan mengapa Spanyol memasuki lapangan sebagai favorit statistik. 

    Benteng Unai Simón dan Rekor 650 Menit

    Di tengah sepak bola yang semakin memuja penyerang, Spanyol mencapai final dengan sesuatu yang lebih elementer: mereka nyaris tidak bisa dibobol.

    Sampai semifinal, La Roja mencatatkan enam clean sheet dalam tujuh pertandingan dan hanya kemasukan satu gol sepanjang turnamen. Dalam semifinal, barisan penyerang Prancis yang dihuni Kylian Mbappé, Ousmane Dembélé, dan Michael Olise dibuat kehilangan daya ledaknya. Spanyol menang 2-0 dan melaju ke final tanpa memberi Prancis ruang untuk mengubah pertandingan. 

    Di balik tembok itu berdiri Unai Simón. Kiper Athletic Bilbao tersebut mencatatkan 650 menit tanpa kebobolan dalam pertandingan Piala Dunia, dihitung sejak penampilan terakhirnya pada edisi 2022 hingga perempat final 2026. Rekor itu melampaui catatan Walter Zenga yang bertahan sejak Piala Dunia 1990. Jika dikonversi, 650 menit sama dengan 10 jam 50 menit menjaga gawang dari gol lawan. 

    Namun kehebatan Spanyol bukan semata-mata hasil penyelamatan Simón. Data menunjukkan lawan mereka hanya menghasilkan total sekitar 2,15 expected goals dalam tujuh pertandingan, atau 0,31 per laga. Artinya, bahkan sebelum bola mencapai sang kiper, struktur pertahanan Spanyol telah lebih dahulu mematikan sebagian besar peluang. 

    Argentina memiliki Messi, Julián Álvarez, Lautaro Martínez, dan pemain-pemain yang dapat mengubah pertandingan hanya dalam beberapa detik. Tetapi mereka harus melakukan sesuatu yang hampir tidak pernah berhasil dilakukan lawan-lawan Spanyol: menciptakan peluang bersih secara berulang.

    Juara Eropa yang Belum Selesai Menulis Sejarah

    - Advertisement -

    2 COMMENTS

    1. Lionel Messi mungkin membawa nostalgia dan keabadian individu, tapi Spanyol membawa sesuatu yang lebih kami butuhkan saat ini: integritas kolektif. Ketika tim lain sibuk menjaga citra ‘netral’ sambil terus memasok senjata, Spanyol tampil dengan sepak bola yang jujur dan sikap yang tidak munafik.

      Jadi, jika Argentina bertanya mengapa sorakan untuk La Roja terasa lebih lantang dari Jakarta hingga Rabat, jawabannya sederhana: Kami tidak hanya memilih juara dunia. Kami memilih tim yang tidak membuat kami merasa bersalah saat bersorak. Selamat datang di era baru, di mana sepak bola akhirnya kembali selaras dengan nurani kemanusiaan.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here