More

    Mengapa Spanyol Lebih Diinginkan Menjadi Juara Dunia 2026

    Ketika Palestina Ikut Hadir di Tribun Final

    Pada titik inilah final berhenti menjadi urusan bola semata.

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka menyatakan dukungan kepada Argentina. Ia menerima jersey Argentina dari duta besar negara itu dan mengaitkan pilihannya dengan hubungan baiknya bersama Presiden Argentina Javier Milei. 

    Bagi banyak pendukung Palestina, pernyataan itu menciptakan reaksi berlawanan. Netanyahu masih menjadi subjek surat perintah penangkapan Mahkamah Pidana Internasional. ICC menyatakan terdapat dasar yang masuk akal untuk menduga keterlibatannya dalam kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan, termasuk penggunaan kelaparan sebagai metode perang, pembunuhan, persekusi, dan tindakan tidak manusiawi lainnya. Ia belum menjalani persidangan, sehingga secara hukum lebih tepat disebut sebagai tersangka atau orang yang dicari ICC, bukan seseorang yang sudah dijatuhi vonis. 

    - Advertisement -

    Sebaliknya, pemerintah Spanyol di bawah Pedro Sánchez telah mengambil posisi yang sangat menonjol dalam persoalan Palestina. Spanyol resmi mengakui Negara Palestina pada 28 Mei 2024. Madrid kemudian memperkuat embargo senjata terhadap Israel, melarang perdagangan material pertahanan tertentu, membatasi transit yang mendukung operasi militer Israel, serta berulang kali menyerukan gencatan senjata permanen dan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza. 

    Ketegangan diplomatik itu terus meningkat hingga Spanyol secara permanen menarik duta besarnya dari Israel pada Maret 2026. Kedutaan Spanyol di Tel Aviv kemudian dipimpin oleh kuasa usaha. 

    Bagi masyarakat yang memandang solidaritas Palestina sebagai persoalan moral global, pilihan dalam final menjadi lebih mudah: Spanyol dipersepsikan mewakili negara Eropa yang berani mengambil risiko diplomatik untuk Palestina, sedangkan Argentina memperoleh dukungan terbuka dari Netanyahu.

    Tetapi penting untuk tidak menyeret seluruh rakyat Argentina atau para pemainnya ke dalam kebijakan pemerintah. Tim nasional bukan kabinet Presiden Milei. Messi dan rekan-rekannya juga tidak otomatis bertanggung jawab atas siapa yang mendukung mereka. Simpati terhadap Spanyol sebaiknya dibangun sebagai penghargaan terhadap sikap Madrid, bukan sebagai kebencian terhadap masyarakat Argentina.

    Spanyol Menawarkan Masa Depan, Argentina Membawa Keabadian

    Argentina tetaplah lawan paling berbahaya yang dapat dihadapi Spanyol. Mereka adalah juara bertahan, telah memenangi 14 pertandingan beruntun, dan memiliki generasi yang memahami bagaimana bertahan hidup dalam laga-laga penuh tekanan. Sebanyak 17 pemain dalam skuad Argentina pernah menjadi bagian dari tim juara dunia 2022. Messi sendiri datang ke final dengan kemampuan yang belum sepenuhnya ditaklukkan usia. 

    Justru karena itulah dukungan kepada Spanyol terasa memiliki makna khusus.

    Mendukung Spanyol bukan harus berarti membenci Messi. Itu dapat berarti menginginkan sepak bola bergerak maju. Menginginkan sebuah tim yang tidak terkalahkan dalam 37 pertandingan mendapatkan puncak yang pantas. Menginginkan rekor 650 menit Unai Simón berakhir dengan medali emas. Menginginkan juara Eropa mengukuhkan diri sebagai penguasa dunia. Menginginkan sepak bola putra dan putri berada dalam satu singgasana.

    Dan bagi mereka yang melihat sepak bola sebagai bagian dari percakapan kemanusiaan, dukungan kepada Spanyol juga berarti memberikan penghargaan simbolis kepada sebuah negara yang memilih berdiri lebih dekat kepada Palestina ketika banyak negara Eropa masih berbicara dengan bahasa yang samar.

    Argentina menawarkan akhir sempurna bagi seorang legenda, Spanyol menawarkan permulaan sebuah zaman.

    Karena itulah, ketika peluit pertama berbunyi di New Jersey, bukan hanya penduduk Madrid yang akan mengenakan merah. Di berbagai sudut dunia, banyak orang akan meminjam warna Spanyol untuk satu malam—sebagian karena Rodri, Yamal, dan Unai Simón; sebagian karena tidak ingin Messi memperoleh mahkota kedua berturut-turut; dan sebagian lagi karena dalam dunia yang dipenuhi kehancuran Gaza, bahkan sepak bola tidak pernah benar-benar dapat dipisahkan dari keberpihakan.

    *Penulis yang kehilangan selera nonton bola sejak Genosida di Palestina. Sama sekali tidak nonton Piala Eropa 2024. Dukung Spanyol di final Piala Dunia 2026 karena tidak ingin Netanyahu merayakan Argentina juara.

    - Advertisement -

    3 COMMENTS

    1. Lionel Messi mungkin membawa nostalgia dan keabadian individu, tapi Spanyol membawa sesuatu yang lebih kami butuhkan saat ini: integritas kolektif. Ketika tim lain sibuk menjaga citra ‘netral’ sambil terus memasok senjata, Spanyol tampil dengan sepak bola yang jujur dan sikap yang tidak munafik.

      Jadi, jika Argentina bertanya mengapa sorakan untuk La Roja terasa lebih lantang dari Jakarta hingga Rabat, jawabannya sederhana: Kami tidak hanya memilih juara dunia. Kami memilih tim yang tidak membuat kami merasa bersalah saat bersorak. Selamat datang di era baru, di mana sepak bola akhirnya kembali selaras dengan nurani kemanusiaan.

    2. Bola, spanyol dan Palestina menjadi satu tanda yang kemudian menguatkan kita bahwa siapapun yang berjalan didalamnta nya ada pembelaan terhadap kaum tertindas akan meraih kejayaan tanpa susah mengalisisnya dengan hal hal empiris logis macam kaum akademisi itu (ngomong doang).
      Semua partikel hingga atom kini bergerak dengan tabuhan yang sama menuju kemenangan yang hakiki atas kezaliman.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here