More

    Tanggung Jawab Mahasiswa Ketika Berinteraksi di Ruang Digital

    Penulis: Randy Aprialdi*

    Ilustrasi.

    Ruang digital sudah menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa. Diskusi tugas berlangsung di WhatsApp, organisasi kampus berkoordinasi melalui Telegram atau Discord, sementara Instagram, TikTok, dan X menjadi tempat mahasiswa menyampaikan pendapat hingga membangun jejaring.

    Namun, kemudahan berkomunikasi di ruang digital juga membawa tanggung jawab yang tidak kalah besar. Apa yang ditulis dalam grup percakapan, komentar media sosial, unggahan, maupun pesan pribadi tetap memiliki konsekuensi, meskipun interaksi tersebut berlangsung di balik layar.

    - Advertisement -

    Hal ini kembali menjadi perhatian setelah kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) di sebuah grup percakapan mencuat ke publik pada April 2026. Kasus tersebut menunjukkan bahwa percakapan digital yang dianggap sebagai ruang privat tetap dapat menimbulkan persoalan serius ketika berisi komentar yang merendahkan dan mengobjektifikasi orang lain.

    Dari situ, ada satu hal penting yang perlu dipahami mahasiswa bahwa ruang digital bukan ruang tanpa aturan. Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam interaksi digital adalah menganggap percakapan di dalam grup sebagai sesuatu yang sepenuhnya privat.

    Alasannya sederhana, ada perasaan bahwa selama pesan hanya dibaca oleh teman sendiri, seseorang bebas mengatakan apa pun. Padahal, anggota grup tetap merupakan individu yang memiliki batas kenyamanan, martabat, dan hak untuk diperlakukan dengan hormat.

    Candaan yang dianggap lucu oleh satu kelompok belum tentu diterima dengan cara yang sama oleh orang lain. Komentar mengenai fisik, seksualitas, kondisi pribadi, latar belakang keluarga, agama, gender, atau kehidupan seseorang dapat berubah menjadi tindakan yang merendahkan ketika batas tersebut dilewati.

    Persoalannya bukan semata-mata apakah sebuah pesan ditulis sebagai candaan. Hal yang juga perlu diperhatikan adalah isi pesan, konteks, orang yang menjadi sasaran, serta dampak yang ditimbulkannya. Oleh karena itu, mahasiswa perlu membiasakan diri berhenti sejenak sebelum mengirim sesuatu. 

    Pertanyaan sederhananya adalah jika pesan ini dibaca oleh orang yang menjadi sasaran, apakah saya masih menganggapnya pantas?

    Jejak Digital Membuat Percakapan Tidak Benar-Benar Hilang

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here