More

    Kebersamaan Diakhir Semester

    Deasy Esterina

     

    Kebersamaan mahasiswa arsitektur angkatan 2008 Universitas Ciputra Surabaya. Mereka berjanji untuk menyelesaikan kuliah bersama-sama. FOTO : WILLY ALFIANTO.

    “Awale lumayan jumlahe. Metu sitok. Metu sitok. Lha suwe-suwe garek sitok sing lulus, hahaha.

    - Advertisement -

    Artinya, “Awal lumayan jumlahnya. Keluar satu. Keluar satu. Lha, lama-lama tinggal satu yang lulus, hahaha.” Kalimat ini pernah dilontarkan oleh Rudy Santoso (21), seorang mahasiswa Arsitektur Interior Universitas Ciputra Surabaya. Bersama sebelas temannya, mereka mungkin mengalami masa kuliah yang jarang ditemui di kampus lain. Dalam satu angkatan, hanya satu orang yang lulus tepat waktu. Tentunya bukan kedua belas orang ini.

    Eits, kelulusan tidak tepat waktu atau kemoloran yang dialami angkatan selusin ini bukan karena malas atau teralu bodoh. Tapi memang disepakati bersama-sama. Loh, kok bisa?

    Cerita ini diawali ketika mereka masih menjadi mahasiswa baru pada tahun 2008. Di kelas, tepatnya dalam satu angkatan, ada 17 mahasiswa. Memang termasuk jumlah yang sedikit, namun bila melihat umur universitas yang baru dua tahun, hal ini masih terbilang wajar.

    Di awal masa kuliahnya, 17 personil ini dicekoki dengan mata kuliah dasar dan tugas-tugas nirmana sulit. Apalagi diajar oleh dosen yang terkenal hobi marah. Mungkin karena tak tahan, Faldo, salah satu anggota angkatan ini keluar dari universitas saat pertengahan semester pertama.

    “Deloken yo, ngkok lak akeh sing metu teko interior iki. (Perhatikan ya, nanti akan banyak yang keluar dari (jurusan) interior ini),” kata seorang kakak kelas.

    Hal ini memang terjadi pada angkatan 2007 dan 2006. Banyak mahasiswa keluar dengan alasannya masing-masing. Dan 16 orang yang masih bertahan di angkatan ini saling memandang. Kira-kira siapa yang akan tetap bertahan atau keluar.

    Semester pertama berlalu. mereka memasuki semester kedua.

    Semester kedua berjalan lancar. Mereka akan masuk ke semester ketiga. Dua orang lagi, Femmy dan Yuriko, mengundurkan diri. Mereka memilih untuk pindah ke jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV).

    Tinggallah 14 orang pada angkatan ini untuk melanjutkan perjuangan. Tujuh perempuan dan tujuh laki-laki. Mengemban tugas yang tak jarang membuat mata menjadi lebam. Kerja kelompok sudah sering dilakukan. Pulang subuh menjadi hal yang biasa. Mengumpulkan tugas tanpa mandi pun dilakukan. Apalagi menjelang masa UAS.

    Semakin hari, keakraban di antara mahasiswa angkatan 2008 ini semakin kental. Tidak hanya membuat tugas yang dikerjakan bersama, makan, tidur, olah raga dan membolos pun sudah beberapa kali dilakukan. Tak terasa semester tiga pun terlewat. Ingin rasanya mempertahankan jumlah ini hingga lulus.

    Tapi keinginan itu hanya menjadi harapan belaka. Satu lagi mahasiswa angkatan ini kembali memisahkan diri. Ricky memutuskan untuk berhenti kuliah Arsitektur Interior dan belajar di Australia.

     

    Di Kelas Semakin Akrab

    Tiga belas. Inilah jumlah mahasiswa Arsitektur Interior Universitas Ciputra Surabaya 2008 setelah ditinggalkan Ricky. Meski ada yang menganggapnya sebagai angka sial, tapi angkatan ini justru merasa beruntung. Merasa menjadi spesial karena jumlah mahasiswa yang sedikit.

    Para mahasiswa tida bisa titip absen karena gampang ketahuan, setiap mahasiswa bisa lebih intens dengan dosennya, ketika presentasi tidak perlu antri lama, dan saat membuat kartu rencana studi (KRS) tidak perlu adu cepat, pasti dapat.

    Hari berganti hari, malam, bulan seiring musim berganti. Akhirnya setelah mengalami seleksi begitu ketat melalui tugas-tugas yang diemban, tiga belas orang ini berhasil mengakhiri semester enam bersama-sama.

     

    FOTO : WILLY ALFIANTO

    Lulus Atau Tetap Bersama

    Di sini mereka menghadapi sebuah pilihan.

    Pilihan pertama adalah mengambil semester pendek pada saat liburan, melakukan magang pada semester tujuh, dan mengerjakan tugas akhir (TA) pada semester delapan. Atau pilihan kedua, semester tujuh tetap mengambil mata kuliah seperti biasa, magang pada semester delapan, dan TA pada semester sembilan.

    Sempat terjadi konflik diantara mereka. Beberapa ingin lulus secepatnya, beberapa lagi ingin magang di luar kota, luar pulau, atau luar negeri.

    Karena memiliki keinginan yang sama, dua belas mahasiswa sepakat untuk mengambil pilihan kedua. Mereka memutuskan magang lebih lama dan mengambil risiko TA yang mundur satu semester. Namun karena keputusan ini diambil dengan kesadaran dan kesenangan, tidak ada masalah dengan keterlambatan kelulusan ini. Justru melahirkan banyak cerita dari pengalaman magang yang mereka lakukan di tempat yang berbeda. Sedangkan satu mahasiswa lainnya, Varick, memilih pilihan pertama agar bisa lulus tepat waktu.

    Jadi, Varick-lah satu-satunya mahasiswa Arsitektur Interior Universitas Ciputra yang kuliah tepat empat tahun. Dari 17 orang, hanya satu orang yang sudah lulus.

    “Lair kari, lulus disikan, haha. (Lahir terakhir, tapi lulus lebih dulu, haha.)” celetuk Rendi, salah seorang  dari mahasiswa angkatan 2008  yang sudah tinggal selusin ini.

    Sekarang angkatan selusin ini masih melanjutkan perjuangan TA. Semoga yang selusin ini akan tetap selusin hingga kelulusan. Dan yang satu, selamat! []

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here