More

    Menikmati Karya Foto Sibylle Bergemann

    Ahmad Fauzan Sazli

    22 02 2013 Pameran Foto karya Sibylle Bergemann_FZN SAZLI

    Seorang pengunjung mengamati foto seorang laki-laki Afrika berdiri di kedai kopi Nescafe Dakar Afrika karya Sibylle Bergemmann di Bentara Budaya, Jakarta, Jumar, (22/02/2013). FOTO : AHMAD FAUZAN SAZLI

    - Advertisement -

     

    Foto tak hanya sekedar citra tapi ia sebuah petunjuk.

    Meski nama Sibylle Bergemann masih awam di telinga publik fotografi Indonesia, karya-karya fotografer perempuan ini patut dicermati. Ia memaparkan secara cermat tentang pelbagai persoalan-persoalan di Jerman Timur.

    Di salah satu foto karya Bergemmann, tampak seorang pria mengenakan pakaian perang bak anak raja sedang menikmati suasana di salah satu kafe di Dakar, Afrika. Di foto itu, lugas memperlihatkan globalisasi yang tengah melanda Afrika. Kontras dengan sosok seorang anak muda Afrika yang mengalami situasi perang. Di foto itu, anak muda Afrika menikmati minuman kopi nescafe.

    Bergermann seperti mengetengahkan perihal “perang” yang tidak terlihat oleh anak muda itu. Sebuah perang yang menunjukkan kemenangan perusahaan multinasional atas masyarakat Afrika.

    Perang boleh saja memenjarakan, tapi minum di cafe (kedai) merasakan kebebasan.

    Masih di ruangan Bentara Budaya Jakarta, kita dapat menikmati lagi kecermatan Bergemann saat memotret kehidupan di Jerman Timur. Kita diajak berkelana dengan petunjuk-petunjuk hasil bidikannya. Ketekunannya memotret sebuah objek tak bisa diremehkan. Bayangkan, Bergermann memotret monumen Marx – Engels dari mulai pembuatan hingga peresmian monumen tersebut pada tahun 1986.

    Sembilan tahun lamanya ia memotret dua patung “agung” Jerman Timur saat itu.

    Reportase yang apik melalui fotografi juga dapat kita lihat di karya foto seorang gadis di atas ranjang, beruang di bawah rangkaian lampu, ruangan penuh barang bekas diantara surga dan neraka. Atau di karya foto-foto polaroidnya mengenai anak di ladang gandum, dinding tua menyerupai awan,dan tangga di rumah portugis, dan lainya.

    “Saya tertarik kepada bagian pinggir dunia, bukan tengahnya. Hal yang tidak tergantikan adalah penting bagi saya jika ada sesuatu yang tidak pas pada wajah atau pemandangan.” begitulah ungkapan Sibylle Bergemann tentang konsep fotografi yang ia tekuni hingga ajal menjemputnya di tahun 2010.

    Maka beruntunglah kita, khususnya publik fotografi di Jakarta, dapat menyaksikan langsung pelbagai karya Bergermann. Kita tidak hanya melihat hamparan visual, tapi juga melihat bagaimana seorang fotografer menginterpretasi dan menyikapi realitas. Lalu ia menghadirkannya dengan nuansa yang halus.

    Sibylle Bergemann lahir di Berlin (29 August 1941 – 2 November 2010). Pada tahun 1970-an ia bekerja untuk Majalah Das Magazin dan Sonntag. Selain memotret pelbagai peristiwa, ia juga memotret fashion. Dari sekian karya-karya Bergermann, foto-foto hitam putih yang memotret kehidupan Jerman Timur dianggap paling  dikenal hingga saat ini.

    Pameran karya Bergemann ini digelar oleh Goethe Institut di Galeri Bentara Budaya, Jakarta. Berlangsung dari tanggal 23 Feb-5 Maret 2013. []

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here