More

    Kompor Listrik Ramah Lingkungan Untuk Pembatik

    Ahmad Fauzan Sazli

    Astutik-Kompor Batik Listrik

    Auto-Electric Stove for Batik atau “Astutik”

    - Advertisement -

    Dicabutnya subsidi minyak tanah oleh pemerintah, menjadi masalah baru bagi pengerajin batik. Selain harganya melambung, minyak tanah mmenjadi langka.

    Persoalan ini membuat pengerajin batk beralih menggunakan kompor listrik. Namun energi listrik yang dibutuhkan tetap besar. Selain itu seringkali kompor tersebut konsleting karena malam cair yang ada di canting sering menetes ke kompor.

    Melihat hal itu, sejumlah mahasiswa dari fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta yakni Andreas E.A. Wijaya, Aris Setyawan, Rizky Hadi Oktiavenny dan Nova Suparmanto membuat inovasi kompor listrik untuk batik. Kompor tersebut diberi nama Auto-Electric Stove for Batik atau “Astutik”.

    Menurut Rizky, karya Astutik ini merupakan kompor listrik ramah lingkungan untuk para pembatik dan pecinta batik. Alat ini memanfaatkan sistem PID (Proportional Integral Derivative) Controller untuk mengatur panas pada elemen pemanas sehingga memperoleh suhu yang tepat untuk malam batik. Kompor ini membutuhkan input berupa jenis malam, meliputi malam tembokan, klowong, dan parafin.

    Keunggulan Astutik ini adalah saat alat mendeteksi jenis malam yang dipakai pada suhu tertentu dapat mengatur panas cairan agar tetap stabil. Saat proses pemanasan, malam (lilin) mencair tidak perlu mengecilkan pemanas secara manual. Hasil pengujian diperoleh data bahwa kompor Astutik lebih efisien sebesar 63% dibandingkan kompor batik listrik yang lain dan sebesar 95% dibandingkan dengan kompor berbahan bakar minyak tanah.

    Ada pun komponen utama dari produk ini adalah: Tungku Kompor, ATMega8, Sensor LM35, PCB & Komponen, Tombol, Elemen Pemanas, dan Lampu LED. Gambaran proses produksinya yaitu: perencanaan bahan baku, pencetakan rangkaian, perakitan komponen, pengujian alat (pengecekan kesalahan), perakitan alat dengan bodi kompor, finishing (perapian), dan packaging (kardus coklat),

    Produk “Astutik” ini merupakan jenis produk baru yang masih belum banyak digunakan oleh masyarakat sehingga tantangan utamanya adalah dalam proses edukasi masyarakat dan pemasaran. Tim berharap setelah acara tersebut, usaha ini berjalan dengan lancar dan dapat memberikan kebermanfaatan bagi perekonomian daerah, meningkatkan kecintaan terhadap batik sebagai budaya Indonesia dengan tetap menjaga lingkungan.[]

     

    - Advertisement -

    2 COMMENTS

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here