More

    Politik Hijau Untuk Bumiku

    Nandatama Erda Pradana
    Sudah menjadi rahasia umum jika bumi ini mulai rusak. Hal ini karena banyaknya negara berkembang hingga negara maju yang melaksanakan kepentingan negaranya seperti industri dan kepentingan perseorangan tanpa memperhatikan lingkungan. Indonesia pun tidak luput sebagai negara yang kurang sadar akan kepentingan lingkungan. Berjalannya industri negara semata-mata hanya demi kelancaran ekonomi negara. Bahkan negara memegang penuh atas berjalannya ekonomi negara. Namun negara hanya menjalankan kegiatan ekonomi dengan mengesampingkan kelestarian lingkungan.

    Banyak contoh di Indonesia yang dapat kita ambil, salah satu contoh yakni perkebunan kelapa sawit di Sumatra. Perkebunan ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun dan sudah banyak hutan di Sumatra yang dibakar secara besar-besaran untuk digantikan sebagai perkebunan kelapa sawit. Akibatnya sempat terjadi kabut asap besar-besaran yang mengganggu masyarakat di Riau beberapa waktu lalu. Bukan hanya tumbuhan yang menjadi dampak perkebunan ini, tapi fauna seperti orang utan dan gajah asli Sumatra pun menjadi korban perkebunan kelapa sawit.

    Seperti beberapa minggu yang lalu, terjadi peristiwa orang utan terbakar ketika para pekerja kebun yang melihat orang utan itu hendak mengusirnya dengan cara dibakar. Ini membuktikan bahwa kesadaran manusia akan perlindungan lingkungan masih sangat minim. Kurangnya pembekalan tentang pentingnya menjaga lingkungan menjadi faktor utama krisis lingkungan yang ada di Indonesia. Padahal seharusnya negara paling tidak dapat memberikan sedikit penyuluhan. Sehingga beberapa industri yang merusak lingkungan seperti perkebunan kelapa sawit di Sumatra dan Kalimantan serta proyek pertambangan luar negeri di Papua dapat teratasi.

    - Advertisement -

    Penyebab utama negara kurang memperhatikan pelestarian lingkungan adalah karena negara hanya fokus pada kepentingan politik semata, terutama pada tahun-tahun pemilu seperti sekarang ini. Pada saat-saat kampanye seperti ini para kaki tangan negara terlalu fokus untuk kemenangan politiknya masing-masing. Bahkan beberapa kegiatan demi kesuksesan kemenangan partai politiknya seperti pemasangan baliho di sembarang tempat, penempelan poster-poster partai di pohon-pohon, serta konvoi kendaraan yang cenderung sangat mengganggu.

    Padahal seharusnya para calon pemimpin seperti capres dan cawapres serta calon anggota legislatif dapat memanfaatkan moment ini dengan tetap menjaga lingkungan, bukan justru memperburuk. Hal-hal seperti pemasangan baliho dan poster di pohon seharusnya dapat diatur agar berada pada tempat yang tepat dan tidak mengganggu serta merusak lingkungan. Begitu pula dengan konvoi kendaraan yang sangat cenderung mengganggu dapat dialihkan menjadi kegiatan sosial seperti kerja bakti, penghijauan, dan politik hijau dapat diterapkan di negara ini.

    Hak untuk menikmati lingkungan yang bersih, jauh dari ancaman pencemaran, keracunan akibat bahan tambang berbahaya dan lainya adalah bagian yang selama ini di perjuangkan para aktivis LH ini. Kegigihan mereka sering berhadapan dengan penguasa yang mengeluarkan kebijakan anti lingkungan hidup. Negara kadang mengabaikan semangat Lingkungan Hidup karena berhadapan dengan pemodal besar yang punya banyak uang. Harapannya Politik Hijau demi keadilan lingkungan yang lestari itu kedepannya bias terwujud.

    Negara Indonesia adalah jantungnya dunia. Apabila kelestarian lingkungan di Indonesia tidak dijaga dan di lestarikan maka akan berdampak besar pada dunia. Resolusi Sidang Umum PBB No. A/RES/49/115 Tahun 1994 mendeklarasikan tanggal 17 Juni sebagai Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia (The World Day to Combat Desertification and Drought). Deklarasi ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dunia akan bahaya degradasi lahan bagi keberlangsungan hidup manusia. []

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here