More

    Sutradara “Brush with Danger” Bagi Pengalaman di Telkom University  

     

    14 11 2015 Livione
    Livi Zheng. FOTO : Theatersatu.com

    Livi Zheng, sutradara film “Brush With Danger” mengunjungi kampus Telkom University. Gadis kelahiran Blitar April 1983 ini berbagi pengalaman soal kesuksesan menembus Hollywood dan memperoleh Oscar.

    Film “Brush With Danger” berhasil masuk ke dalam seleksi nominasi Oscar untuk kategori Best Picture pada Academy Award ke-87. Tentunya prestasi ini didaat Livi Zheng dengan Mudah.

    - Advertisement -

    Livi Zheng mengaku proses pembuatan skenario film Brush with Danger mencapai 32 kali revisi hingga layak untuk diproduksi. Perjuangan tersebut akhirnya terjawab, setelah dua minggu tayang di bioskop Amerika, ia mendapat panggilan untuk masuk ke dalam seleksi nominasi Oscar.

    Ketertarikan Livi terhadap dunia film sebenarnya sudah ada sejak kecil. Namun ia mulai terjun langsung ke dunia film sejak kuliah di Universitas Washington.

    “Mulai terjun langsung saat saya masih kuliah S1 Jurusan Ekonomi di Universitas Washington dengan menjadi pembantu umum seperti asisten wardrobe, asisten sutradara, asisten produser dalam film-film pendek,” ujar Livi dalam “Seminar Menembus Hollywood” yang di Aula Gedung Kawalusu Telkom University (FKB Tel-U), Jumat (13/11/2015).

    Livi bercerita, mimpinya menjadi sutradara Hollywood pernah dianggap remeh oleh teman sekaligus pembimbingnya di dunia perfilman. Karena tidak banyak sutradara Hollywood orang Asia dan perempuan.

    “Tapi saya tetap yakin dengan keinginan saya, karena kesuksesan diawali dengan keinginan,” tambahnya.

    Dalam kesempatan itu Livi mengajak mahasiswa Tel-U tidak menyerah dalam meraih mimpi. “Saya ditolak sampai 32 kali itu biasa dalam bidang seni. Tapi hasilnya bisa saya rasakan setelah film ini ditayangkan di Amerika, apresiasi dari masyarakat dan media massa di sana sangat bagus,” katanya.

    Selain itu gadis yang menguasai beladiri Wushu ini juga mengajak anak muda di Indonesia untuk terus memperkenalkan Indonesia di mata dunia. Dia merasakan bagaimana warga Amerika masih ada yang belum mengenal Indonesia bahkan ada yang mempertanyakan apakah di Indonesia sudah ada teknologi internet dan toilet.

    “As long as you do the best for yourself, nasionalisme pasti akan terbawa dengan sendirinya karena kita adalah Warga Negara Indonesia,” katanya.[]

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here