More

    Menjadikan Malam Minggu Tidak Sekedar Nongkrong

    Kegiatan Perpustakaan Jalanan di Taman Cikapayang, Bandung. Foto : Frans
    Kegiatan Perpustakaan Jalanan di Taman Cikapayang, Bandung. Foto : Frans

    BANDUNG, KabarKampus – Buku-buku yang bertebaran di Taman Cikapayang Bandung sudah menjadi pemandangan setiap malam Minggu bagi warga Bandung. Buku-buku ini dihadirkan, bukan hanya untuk dipajang, namun bisa dibaca secara gratis.

    Para penggagas lapak buku gratis ini menamakan aktivitas mereka dengan “Perpustakaan Jalanan”. Aktivitas Perpustakaan Jalanan ini digagas oleh mahasiswa dan anak muda Bandung sejak tahun 2010 lalu.

    “Buku-buku ini adalah buku pribadi yang dipajang di kosan. Kemudian kami berpikir untuk menghadirkannya ke publik biar ada yang baca. Ngga ada niat mencerdaskan, namun hanya ingin orang bisa mengakses pengetahuan dengan mudah,” kata Agus Setiawan, salah satu pegiat Perpustakaan Jalanan kepada KabarKampus, Senin, (22/08/2016).

    - Advertisement -

    Menurut Agus, mereka sengaja memilih membuka Perpustakaan Jalanan pada malam Minggu. Karena pada waktu siang, teman-teman banyak yang kuliah dan bekerja. Selain itu mereka juga ingin menjadikan malam Minggu menjadi lebih bermanfaat, tidak hanya sekedar nongkrong.

    “Di Perpustakaan Jalanan tidak hanya menghadirkan buku, kami  sharing apapun, bisa bertukar buku, barter buku, dan berdiskusi. Ini gerakan literasi yang bisa kami lakukan,” ungkap Agus.

    Agus menceritakan, mereka bisa bertahan selama hampir enam tahun, karena mendapat antusias dari warga. Buku-buku mereka dibaca. Bahkan Perpustakaan Jalanan Kota Bandung menginspirasi teman-teman di kota lain untuk membuat hal yang sama.

    “Ada perpustakaan-perpustakaan yang berdiri setelah kami buat,” ungkap Agus.

    Selanjutnya Agus menjelaskan, berjalannya waktu, buku-buku yang mereka hadirkan bertambah banyak. Buku-buku tersebut diperoleh dari donasi teman-teman. Tidak hanya buku, ada juga news letter, zine, komik, dan sebagainya.

    “Bukunya apa saja, mulai dari tuntutan shalat hingga tuntunan jihad,” ungkap Agus sambil tertawa.

    Agus menceritakan, selama hampir enam tahun berdiri, baru pertama kali mereka mendapat perlakuan represif dari anggota TNI. Bagi mereka, perlakuan tersebut sangat tak pantas, karena selama mereka berdiri, tidak pernah merugikan orang lain.

    “Tapi bila kami ingin dibubarkan, berilah kami penjelasan, jangan main kekerasan,” terang Agus.

    Agus menambahkan, meski mereka dibubarkan paksa oleh TNI dengan kekerasan, mereka akan tetap melanjutkan kegiatan Perpustakaan Jalanan di malam Minggu. Bagi Agus bila kehadiran mereka selama ini salah harus dijelaskan kesalahannya seperti apa.[]

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here