More

    Belum Ada Penelitian Populasi Surili di Luar Hutan Konservasi

    ENCEP SUKONTRA
    BANDUNG, KabarKampus-Surili atau Presbytis comate merupakan primata endemik Jawa Barat. Data jumlah populasi masih simpang siur. Sementara penelitian jumlah populasi lebih banyak dilakukan di hutan-hutan konservasi. Di luar hutan konservasi, jumlah surili belum terdeteksi.

    Sigit Ibrahim, Koordinator pengasuh satwa dari Pusat Rehabilitasi The Aspinall Foundation, Ciwidey, Bandung selatan, mengatakan penelitian terhadap populasi surili lebih banyak dilakukan di hutan-hutan konservasi.

    “Mahasiswa, peneliti, mereka lebih cenderung menghitung populasi di kawasan konservasi. Sedangkan di luar itu belum ada yang melakukan penelitian,” kata Sigit Ibrahim, di Bandung selatan baru-baru ini.

    - Advertisement -

    Untuk diketahui, sejak tahun 2014 badan dunia untuk perlindungan alam (International Union for Conservation of Nature/IUCN) telah memasukkan Surili ke dalam daftar satwa katagori terancam punah (endangered). Hal ini terjadi karena makin menurunnya jumlah populasi di habitatnya. IUCN mengkaji, populasi alami Surili saat ini diperkirakan tidak lebih dari 2.500 ekor.

    Sebenarnya, kata Sigit Ibrahim, posisi surili dengan primata lainnya seperti owa dan lutung saat ini sama-sama terancam. Namun karena surili sebagai hewan endemik hutan Jawa Barat, maka lebih dulu menyandang status endangered.

    Hal itu berdasarkan luasan hutan di Jawa Barat yang kian hari kian menyusut. “Masalah terancamnya sekarang yang banyak didokumentasikan itu dikawasan konservasi,” ujarnya.

    Di luar hutan konservasi, sambung dia, belum ada penelitian populasi surili. Contohnya, belum ada penelitian di hutan bukan konservasi Gunung Manglayang, antara Kabupaten Bandung dan Sumedang. Padahal di gunung tersebut disinyalir masih terdapat surili liar, terutama di tegakan-tegakan pinus. Daerah lainnya yang perlu diteliti adalah di Gunung Ciremai, di antara Kabupaten Kuningan dan Majalengka.

    Tetapi dengan adanya status endangered, Sigit Ibrahim menyatakan justru akan lebih baik bagi perlindungan surili.

    “Status itu membuat perhatian orang lebih bagus. Kaya lutung, misalnya, yang statusnya masih di bawah surili, biasanya orang kurang peduli, padahal itu sama posisinya jika tidak dikonservasi dari sekarang bisa habis,” terangnya.

    Selain belum terdatanya jumlah surili di kawasan hutan non-konservasi, ia menyebutkan belum adanya lembaga yang khusus menangani konservasi sekaligus pelepasliaran surili. Sedangkan untuk berkonsentrasi melakukan konservasi surili tidak mudah.

    Menangani surili memiliki kesulitan cukup pelik, terutama cara mendapatkan surili hasil tangkapan, perburuan atau perdagangan ilegal. Kesulitan ini tidak lepas dari sifat surili yang sensitif terhadap makanan.

    “Di pasar hewan kita juga sulit menemukan surili. Perdagangan banyak, termasuk perburuan, cuman perlakuan terhadap si surili ini harus spesifik terutama soal makanan. Salah makan dalam seminggu atau hitungan hari bisa mati. Mungkin itu masalahnya , jadi ada yang ngambil surili, besoknya mati,” tuturnya.

    Untuk mendapatkan Surili, The Aspinall Foundation harus menjalin kerja sama dengan kebun binatang luar negeri. Kerja sama ini misalnya terjadi saat melakukan pelepasliaran surili Lili dan Lala baru-baru ini. Lili dan Lala didapat The Aspinall Foundation setelah bekerja sama dengan sebuah kebun binatang dari Inggris. []

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here