More

    PTS Jabar Punya Peran Besar Terhadap Pembangunan Indonesia

    ENCEP SUKONTRA
    BANDUNG, KabarKampus-Jumlah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) jauh lebih besar dari jumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Sehingga peran PTS sangat besar dalam membangun SDM melalui pendidikan, meski ada juga pihak yang meragukan kualitas PTS-PTS.

    Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengungkapkan, saat ini 97 persen perguruan tinggi di Indonesia adalah PTS. Hanya 3 persen PTN. Sehingga jumlah mahasiswa yang kuliah di PTS jauh lebih banyak, yakni 70 persen, sedangkan mahasiswa yang kuliah di PTN 30 persen.

    Dengan demikian, kata dia, PTS telah berperan besar terhadap perkembangan dunia pendidikan di Indonesia. Menurutnya peran negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sebagian besar dikerjakan PTS.

    “Perguruan Tinggi Swasta telah mengambil peran negara begitu besar. Termasuk tingkat APK (Angka Partisipasi Kasar) di Jabar juga bisa naik berkat swasta,” kata Ahmad Heryawan melalui siaran pers yang diterima KabarKampus beberapa waktu lalu.

    - Advertisement -

    Gubernur yang kerap disapa Aher itu berbicara dalam sambutan pembukaan Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-5 Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) untuk Wilayah IV A Jawa Barat di Gedung Aptisi Wilayah IV A Jabar, Jl. Cipadung Indah, Bandung, Selasa (18/10/16) lalu.

    Kalaupun banyak kelemahan dan kekurangan yang ada pada PTS, Aher merlanjutkan, maka mutu kampus-kampus swasta tersebut harus ditingkatkan. Sehingga negara harus membantu perbaikan kualitas PTS.

    “Pendidikan harus terus kita perbaiki terutama pada tingkat perguruan tinggi,” tandasnya.

    Ia juga mengakui peran PTS di Jawa Barat. “Tanpa PTS Jawa Barat akan terpuruk,” tandasnya.

    Menurutnya negara harus memiliki fokus pengembangan terhadap PTS. Sehingga kualitas PTS setara dengan PTN.

    “Ketika negara sudah diuntungkan dengan hadirnya PTS mewakili peran negara, maka sekarang tinggal negara mengokohkan peran PTS tersebut dengan cara memprogramkan dan mengokohkan kesetaraan perlakuan untuk kesetaraan kualitas demi masa depan bangsa,” katanya.

    Ketua Aptisi Wilayah IV A Jawa Barat sekaligus Ketua Aptisi Pusat, Budi Djatmiko menyoroti strategi pengembangan pendidikan di Indonesia yang salah. Akibatnya, pendidikan di Indonesia jauh tertinggal dari negara lain.

    Pengembangan perguruan tinggi di Indonesia dinilai hanya fokus pada bidang akademik dan tidak mengedepankan bidang vokasinya atau keterampilan/teknik. Ia mengungkapkan negara-negara maju seperti seperti Jerman, Jepang, dan Korea justru membuka porsi yang besar untuk pengembangan pendidikan tinggi bidang vokasional.

    Di negara-negara tersebut, kata dia, pendidikan vokasi sebesar 15 persen dan akademik 85 persen. Sementara dunia kerja saat ini lebih besar membutuhkan tenaga-tenaga teknik 95 persen, dan tenaga akademik seperti dosen dan riset hanya 5 persen saja.

    Sedangkan di Indonesia saat ini terdapat 4.500 PTS dan PTN dengan rincian 170 PTN dan 4.330 PTS. Perguruan tinggi tersebut memiliki 2.370 program studi. Dari jumlah itu sebanyak 95 persen mengandalkan pendidikan akademik dan hanya lima persen vokasi.

    “Harus ada perubahan yang dilakukan. Rencananya tahun depan pemerintah pun akan moratorium pembukaan Prodi S-1 tetapi hanya untuk Diploma III dan IV Spesilias 1 dan 2,” katanya.

    Muswil Aptisi Wilayah IV A Jawa Barat tersebut dihadiri ratusan utusan dari 360 PTS di Jawa Barat. Agenda utama Muswil ini yaitu memilih pengurus Aptisi Wilayah IV A Jawa Barat periode 2016-2020. []

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here