More

    Unnes Wajibkan Mahasiswa Berseragam

    Ilustrasi / mahasiswa Unnes kenakan seragam hitam putih. Foto. Unnes
    Ilustrasi / mahasiswa Unnes kenakan seragam hitam putih. Foto. Unnes

    SEMARANG, KabarKampus – Universitas Negeri Semarang (Unnes) mewajibkan mahasiswa baru angkatan 2016 menggunakan seragam. Ketentuan berpakaian mahasiswa Unnes tersebut tertuang dalam aturan Rektor No. 30 Tahun 2016, tentang  pakaian mahasiswa mulai angkatan 2016 Unnes.

    Dalam aturan tersebut, Unnes mengharuskan mahasiswa pada hari Senin wajib menggunakan baju berwarna putih, celana panjang atau rok gelap dan rapi. Kemudian pada hari Selasa hingga Jumat mahasiswa diwajibkan menggunakan batik Indonesia dan rapi. Selanjutnya hari Jumat dan Sabtu mahasiswa boleh menggunakan pakaian bebas dan rapi.

    Hendi Pratama, Kepala UPT Pusat Humas Unnes menjelaskan, ada beberapa alasan Unnes menerapkan seragam khususnya bagi mahasiswa baru tahun 2016. Pertama Unnes menganggap seragam adalah simbol kebanggaan.

    - Advertisement -

    “Seragam memiliki fungsi legitimasi juga. Bayangkan anda ditangkap orang yang mengaku polisi tapi tidak memakai seragam polisi. Anda pasti tidak akan percaya.  Seragam memiliki makna positif secara intrinsik. Oleh karena itu sebagai universitas yang dulunya adalah institut keguruan, seragam merupakan bentuk kebanggaan kita pada institusi dan para pendahulu kita,” jelas Hendi.

    Selanjutnya, kata Hendi, Unnes beranggapan, seragam bukan simbol pengekangan. Hal itu karena, pengekangan pikiran itu ada di dalam jiwa bukan pada raga.

    “Mengapa begitu takut terkekang pikir hanya karena selembar kain. Apalagi selembar kain itu membantu kita untuk fokus pada apa yang sedang kita lakukan. Mahasiswa UNNES secara alamiah lebih bangga saat memakai pakaian yang merefleksikan profesionalisme yang mereka dapat selama proses perkuliahan,” ungkap Hendi.

    Kemudian alasa selanjutnya adalah seragam adalah simbol kesetaraan. Selama pelaksanaannya diatur dengan baik dan diterapkan secara konsisten, seragam menjadi pemersatu persahabatan mahasiswa.

    “Pengekangan tidak selalu terjadi melalui seragam. Pengekangan lebih bisa terjadi pada ‘baju bebas’. Terbentuknya grup-grup sosio-ekonomik yang kurang menguntungkan dapat terbentuk dengan identifikasi pakaian bebas yang dipakai mahasiswa. Yang berpakaian ‘glamor’ akan berkumpul dengan yang glamor. Yang berpakaian ‘bersahaja’ hanya akan berkumpul dengan yang bersahaja. Semua itu dapat dicegah dengan seragam yang diterapkan dengan peraturan yang konsisten dan sangat mudah dilaksanakan,” katanya.

    Menurut Hendi, peraturan ini bukan dibuat untuk mengekang, tapi untuk memberdayakan. Perlu pikiran yang jernih serta komitmen yang kuat agar kita dapat memetik manfaat dari peraturan ini.[]

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here