More
    HomeRUPAREKTORRektor Maranatha : Radikalisme Terjadi, Karena Pendidikan Digiring Layani Pengusaha

    Rektor Maranatha : Radikalisme Terjadi, Karena Pendidikan Digiring Layani Pengusaha

    Prof. Ir. Armein Z. R. Langi, M.Sc., Ph.D., Rektor Universitas Kristen Maranatha. Foto : Fauzan

    BANDUNG, KabarKampus – Akhir-akhir ini banyak kampus di Indonesia mendeklarasikan sebagai kampus anti radikalisme. Kampus-kampus tersebut pun tak segan akan menindak faham radikalisme bila ada di kampus.

    Namun soal radikalisme yang marak di kampus, Prof. Ir. Armein Z. R. Langi, M.Sc., Ph.D., Rektor Universitas Kristen Maranatha memiliki pandangan yang berbeda. Ia menilai radikalisme yang marak di kampus itu, karena kampus terlalu mengedepankan pendidikan skill untuk bekerja.

    “Dimana seluruh resource pendidikan digiring untuk melayani pengusaha,” kata Prof Armein pada peringatan hari Sumpah Pemuda di Bandung, Kamis, (01/06/2017) kemarin.

    - Advertisement -

    Sehingga tambahnya, banyak yang kosong di kampus. Padahal pendidikan itu harus lengkap. Seperti pendidikan skill, pendidikan kecintaan terhadap masyarakat, pengetahuan, dan juga nilai nilai ketuhanan yang diketahui dengan baik.

    “Kombinasi ini yang menurut saya yang hilang. Jadi kampus harus menilai ulang bagaimana mereka menjalankan pendidikan,” ungkap Prof Armein yang juga Guru Besar di ITB ini.

    Selanjutnya, kritik Prof Armein terhadap dunia pendidikan adalah soal keragaman dalam mendidik. Keragaman yang dimaksud adalah pendidikan tinggi tidak mencetak mahasiswanya hanya dengan satu pola.

    “Saya ingin usul secara pribadi, pendidikan satu pola itu dijadikan pelangaran hukum. Hal itu berbahaya bagi kemajuan Indonesia, karena mencetak orang dengan satu tipe,” ungkap Prof Armein.

    Jadi kata Prof Armein, dunia pendidikan harus melarang untuk meyamakan setiap anak bangsa, meskipun resikonya anak bisa berbeda dengan cara berpikir orang tua. Apalagi sekarang adalah era baru memasuki abad 21 yang situasinya serba baru. Sementara keragaman berpikir adalah modal bangsa Indonesia untuk masuk abad 21.

    “Bila cara 100, 200, 1000 tahun lalu yang masih digunakan dalam mendidik, maka Indonesia tidak akan ada masa depan, karena ilmu pengetahuan sudah baru semua,” jelasnya.

    Ke depan tambah Prof Armein, semua kampus harus membangun keragaman. Karena ia percaya setiap orang punya talenta masing-masing.

     

    “Saya percaya setiap anak adalah Sukarno kecil dan Ki Hadjar Dewantara kecil.[]

     

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here