More

    Tasko, Solusi Tas Untuk Penyandang Skoliosis

    Tasko

    Tak semua orang bisa membawa tas dengan beban yang berat. Salah satunya orang-orang yang mengalami skoliosis atau kelainan tulang belakang. Bila ini dilakukan penderita skoliosis, maka kondisi tulang belakang, akan bertambah parah.

    Namun sayangnya kebanyakan penderita skoliosis, terutama para pelajar, sulit menghindari kebiasaan membawa beban menggunakan tas punggung. Oleh karena itu diperlukan perlakuan khusus bagi para penderita skoliosis yang kerap membawa beban berat agar akibat yang ditimbulkannya dapat diminimalisir.

    Hal ini mendorong empat orang mahasiswa ITB mengembangkan sebuah inovasi untuk membantu penderita skoliosis menerapkan kebiasaan hidup yang lebih baik. Para mahasiswa ini menamakannya dengan TASKO.

    - Advertisement -

    Mereka adalah Muhammad Dita Farel (Teknik Geodesi dan Geomatika 2015), Firdausi Zahara Gandes (Teknik Geodesi dan Geomatika 2015), Hana Alifiyanti (Teknik Geodesi dan Geomatika 2015), dan Lalu Rahmat Faizin (Teknik Geologi 2015). TASKO yang mereka rancang merupakan ide yang tawarkan dalam ajang Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2016.

    Menurut Dita, ketua tim, skoliosis merupakan kelainan tulang belakang yang menunjukkan kondisi deformasi tulang belakang ke arah lateral (samping). Sehingga menghasilkan kurvatura. Bila penderita skoliosis ini menggunakan tas punggung kurang benar dan distribusi beban yang salah, maka akan semakin memperburuk tulang belakang. Begitu juga dengan kelebihan beban juga dapat mengakibatkan rasa sakit pada bagian pinggang, punggung dan pundak disamping mengganggu sistem pernapasan dan keseimbangan postur tubuh.

    “Apabila kebiasaan ini dilakukan dalam jangka waktu yang cukup panjang, derajat kemiringan tulang belakang bisa semakin bertambah,” ungkap Dita.

    Sehingga menurut Dita, tulang belakang penderita skoliosis harus diubah agar tulang kondisi tulang belakangnya dapat kembali normal. Salah satu solusinya adalah dengan TASKO.

    Menurut Dita, TASKO merupakan sebuah tas dengan metode sensor berat yang dirancang untuk meminimalisir bertambahnya derajat kemiringan tulang belakang akibat tas punggung bagi para penyandang skoliosis. Tas ini juga dilengkapi dengan komponen-komponen khusus lainnya yang tidak dimiliki tas lain, seperti movable compartment, one strap, dan adjustable belt.

    “Komponen-komponen tambahan ini mampu memberikan kemudahan bagi para penyandang skoliosis dikala menggunakannya. Jangan lupakan juga desain TASKO yang menarik sehingga mampu meningkatkan rasa percaya diri bagi para penderita kelainan tulang belakang ini,” katanya.

    Dita menjelaskan, dampak spesifik penggunaan TASKO terhadap kesehatan tulang belakang para penggunanya memang masih belum dapat ditentukan secara presisi. Untuk dapat melihat dampaknya setidaknya diperlukan waktu hingga enam bulan sampai proses pengujian medis dapat dilakukan.

    Dita dan kawan-kawan sangat berharap ide yang mereka tawarkan dalam ajang Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) ini mendapat perhatian khusus dari pihak-pihak terkait. Mereka berharap agar para pegiat medis mau turut serta dalam mengembangkan TASKO agar layak diproduksi secara massal.[]

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here