More

    Menengok Festival Media Kreatif di Kota Kembang

    Suasana Bandung Zine Festival, di Spasial, Gudang Selatan, Bandung, Sabtu, (24/11/2018). Foto : Fauzan

    BANDUNG, KabarKampus – Bandung Zine Fest kembali di gelar di Kota Bandung, tepatnya di Spasial, Jalan Gudang Gudang Selatan No.22 Bandung, Sabtu, (24/11/2018). Di lokasi yang merupakan bekas gudang militer tersebut ada sebanyak 72 partisipan, mulai dari zinemaker, self publishers dan independent artists ikut meramaikan Bandung Zine Festival 2018 kali ini.

    Para partisipan, tak hanya dari Kota Bandung, mereka juga ada yang berasal dari Surabaya, Yogyakarta, bahkan dari Pontianak, Kalimantan Barat. Karya yang dihadirkan seperti karya foto, puisi, kartu pos,  cerpen, poster, komik, artikel,  dan sebagainya.

    Salah satunya adalah “Wawbaw” dengan zine mininya yang diberinama EarringsZine 1.0 ‘Locked’. Earrings Zine ini dibuat sepasang dengan berukuran 2.5 x 2 cm dan di dalamnya terdapat 32 halaman print art work berbeda di setiap halamannya.  Zine mini ini dapat digunakan sebagai anting.

    - Advertisement -

    Kemudian adalah karya dari Amenkcoy dengan fanzine yang diberi judul Sleborz. Fanzine volume edisi ke-8 ini berisi manuskrip kesehariannya dalam membuat sketsa, menulis serta membuat gambar yang dicetak dengan teknik xeroxgraphy dan dibuat khusus untuk acara Bandung Zine Festival 2018.

    Selain itu ada karya dari Zulfikar dengan judul SPRSOSTRY, yang merupakan tulisan dan gambar yang dibuatnya  saat berada di kedai kopi. Di dalamnya merupakan cerita pengalaman pribadi Zulfikar.

    Menurut Zulfikar, SPRSOTRY merupakan zine karya pertamanya. Begitu juga dengan keikutsertaannya sebagai partisipan di Bandung Zine Fest 2018, juga merupakan yang pertama.

    “Dari dulu saya suka zine dan baru sekarang memiliki kesempatan,” kata Zulfikar.

    Karyawan swasta ini mengaku, dengan zine tersebut ia benar-benar bisa menuangkan ide dan memvisualiasikannya menjadi nyata. Seperti zine SPRSOTRY yang diantaranya isinya  adalah puisi perjalanan hidunya.

    “Di sinilah kita bisa mengeluarkan ide dan bisa melihat ide orang lain dan tentunya karya tersebut ada yang mau menghargai,” terang Zulfikar.

    Selain menganghadirkan, karya pribadi, Zulfikar juga pada lapaknya menghadirkan karya foto, cerpen milik teman-temannya. Selain menjualnya, Zulfikar juga menerima barter zine miliknya.

    Sementara itu, Ichan, organizer acara mengatakan, Bandung Zine Festival merupakan acara yang digelar secara kolektif dan non profit. Lewat acara ini mereka ingin mempertemukan antar zinemaker dengan pembaca, zine maker dengan zine distributor  dan sebagainya.

    “Untuk Bandung ini acara keempat setelah sebelumnya digelar tahun 2012, 2013, 2016 dan 2018. Jadi bersama zine maker kita bareng bikin festival ini,” kata Ichan.

    Menurut Ichan, semangat yang dibawa kegiatan ini adalah sama seperti fenomena kaset tape. Meski saat ini akses platform music digital mudah, tapi esensinya, ketika seseorang tertarik dengan zine dan bila tidak memegangnya, maka dia tidak akan puas.

    Selain itu tambahnya, zine tidak sebarkan secara massal. Kemudian isinya juga tidak ada di dalam majalah mainstream dan lebih bersifat personal.

    “Jadi membuat semacam culture tandingan,” ungkapnya.

    Selain bisa melihat, membeli, atau barter zine, di Bandung Zine Festival, kegitan ini juga menghadirkan talkshow bersama Tomi Wibisono dari warning magz, subzinefest, ykzzinefest, dan bandungzinefest. Kemudian terdapat juga artis talk bersama Bandung Zine Fest Artworker dengan pembicara, phosphenous.jpg, trioberdua, dan peryode.[]

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here