More

    Capres-Cawapres 2019 Tak Peduli Nasib Penyandang Disabilitas

    Para penyandang tunanetra Kota Bandung melakukan aksi jalan mundur menuju Gedung Sate, Bandung, Kamis, (31/01/2019). Dok. Fauzan

    BANDUNG, KabarKampus – Penyandang tunanetra di Kota Bandung merasa kedua pasang calon presiden dan wakil presiden 2019 tak memiliki komitmen terhadap kelompok disabilitas. Mereka menilai dalam debat Capres-Cawapres pertama tak ada satupun pasangan yang menyinggung kelompok disabilitas.

    Hal ini seperti disampaikan Charisma Nurhakim, mahasiswa penyandang tunanetra saat melakukan aksi jalan mudur bersama sekitar 50 penyandang disabilitas di Kota Bandung, Sabtu, 31/01/2019). Dalam aksi tersebut, mereka memerotes keluarnya Peraturan Kementerian Sosial Nomor 18 Tahun 2018 yang mengubah Panti Sosial menjadi Balai yang melakukan pendidikan vokasional.

    “Dalam debat Capres-Cawapres pertama mengenai HAM, tidak ada satu calon pun yang membahas tentang kesejahteraan dan komitmen kepada kami, kelompok disabiltas. Padahal persoalan yang ada belum tertangani dengan baik,” kata mahasiswa yang akrab disapa Aris ini di sela-sela aksi.

    - Advertisement -

    Seharusnya kedua Capres, kata Aris, masing-masing memiliki gagasan soal komitmen mereka terhadap kelompok disabilitas. Seperti disabilitas tunanetra, yang masih banyak memiliki masalah di pendidikan dan kesejahteraan.

    Diantaranya tambah Aris adalah perubahan status panti menjadi balai. Jumlah penghuni panti yang sebelumnya 175, kemudian dikikis menjadi 50. Pendidikan di panti yang seharusnya dua tahun, juga dikikis menjadi hanya enam bulan.

    “Karena mereka juga belajar dan pintar, makanya akan menjadi aneh apabila panti yang seharusnya menampung banyak orang untuk disabilitas netra, dikikis menjadi 50 orang,” tambahnya.

    Sehingga menurut Aris, mereka melakukan aksi jalan mundur ini, agar pemerintah atau Capres dan Cawapres 2019 peka terhadap persoalan disabilitas. Mereka ingin pemerintah atau Capres tersebut memperhatikan dan memberikan perlindungan terhadap mereka, dengan membentuk komisi disabilitas nasional.

    “Kami mendesak pemerintah agar segera bentuk Komisi Disabilitas Nasional, sesuai UU No.8 Tahun 2016,” ungkap Aris.

    Dalam aksi ini para tunanetra ini berjalan mundur dengan memegang pundak temannya. Aksi ini pun berlangsung lancar hingga tiba di Gedung Sate Bandung.[]

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here