More

    Mengenal Aikido

    Pengertian Ki (気)

    Berdasarkan komposisi bahasa, aikidō terdiri dari tiga kata dalam bahasa Jepang, yaitu: ai (合) yang berarti harmoni, ki (気) yang berarti energi universal alam semesta (chi dalam bahasa Mandarin, atau prana dalam bahasa Indonesia), dan dō (道) yang berarti falsafah jalan. Dalam berlatih aikidō, proses memahami ki (気) adalah hal yang penting. Konsep ki adalah pemahaman dari zaman klasik terhadap energi yang membentuk alam semesta serta juga berada di inti setiap manusia. Konsep ki di Jepang berasal dari Para Bijak dari Negeri Cina, yaitu: Lao-Tzu, Huai-nan-tzu, Mencius, Kuan-tzu, dan lain sebagainya. Ide dasar tentang ki menjadi berkembang sebagai prinsip metafisika dari beberapa perguruan pemikiran di Cina. Sebagai contoh sebagai berikut: ki adalah prinsip esensial dari keharmonisan, dan menjadi sumber kreativitas dalam bentuk kondisi dualistik yin dan yang (Lao Tzu), keutuhan yang vital dari kehidupan (Huai-nan-tzu), keberanian yang timbul dari kejujuran moral (Mencius), daya ilahi yang menembus segala hal (Kuan-tzu).

    Sebagai istilah, ki tidak pernah dideskripsi dengan batasan yang jelas. Seringkali dihubungkan dengan kondisi ruang ketiadaan (Lao-tzu), pada saat lain disebut sebagai energi pembentuk yang timbul dari chaos (Chuang-tzu). Oleh para bijak, ki dianggap pula sebagai prinsip dualistik yang membentuk alam semesta. Kondisi dualisme ini berevolusi menjadi ki yang bekerja dalam bentuk yin dan “yang atau in dan yo dari bahasa Jepang. Selanjutnya dari situ muncul teori Lima Unsur dan disusunnya Kitab Perubahan. Di Kitab Perubahan membahas yin dengan simbol garis terputus (–) dan yang dengan simbol garis tersambung (-). Kombinasi kedua simbol berlawanan tersebut menghasilkan delapan variasi trigram yang dapat dipakai untuk membaca tanda-tanda alam. Secara garis besar, prinsip ki berhubungan dengan bekerjanya dualisme yin-yang.

    Prinsip ki pertama kali diperkenalkan ke Jepang pada periode Nara (710-794) dan periode Heian (794-1185), kemudian pengenalan Buddhis dari India via Tiongkok juga memberi pengaruh makna. Ide tentang ki ini juga beradaptasi dengan kearifan lokal tentang alam dengan menganggap peran ki dalam proses tumbuh kembang, penyerbukan, bermekarannya bunga, dan layu serta gugurnya pohon dan tumbuh-tumbuhan lainnya. Banyak kata majemuk dalam bahasa Jepang yang dihubungkan sangat erat dengan proses-proses alam, seperti sebagai berikut: pemberdayaan energi, yo-ki; pulihnya kehidupan, kai-ki; energi batin, sei-ki; dan sebagainya. Ki juga dikenali sebagai energi yang kuat dalam hubungan cinta dan benci dalam hubungan interpersonal, serta diikutsertakan ke dalam kegiatan keagamaan yang magis dalam penggunaan yin-yang, Teori Lima Unsur, dan proses pensakralan, yang mana seringkali tertulis di berbagai literatur periode Heian, seperti Kisah tentang Genji.

    - Advertisement -

    Awal mula istilah aiki sebagai sebuah teknik bertarung dapat ditelusuri dari seni gulat kuno atau tegoi sebagai sebuah teknik tingkat lanjut. Tegoi ini kemudian menjadi asal muasal sumo. Tegoi pernah disebutkan dalam ‘Kojiki’ naskah tertua Jepang mengenai mitologi zaman purba yang disusun sekitar tahun 712 Masehi. Dikisahkan bahwa Dewa Takemikazuchi menangkap tangan Dewa Takeminakata, kemudian memegangnya seperti sebatang buluh, dipuntir, lalu melemparnya.

    Tegoi adalah asal muasal dari sumo, olahraga nasional Jepang di masa kini. Tegoi juga diceritakan dalam legenda Nomi no Sukune dan Taima no Kehaya di Nihon Shoki (Kronik Jepang yang disusun 720 M). Selama era Heian (sekitar 792-1192), tegoi menjadi hiburan resmi istana yang dikenal sebagai sumai no sechie, yang pada akhirnya berkembang menjadi sumo. Pertandingan sumai no sechie diikuti oleh pegulat-pegulat dari pelosok Jepang untuk bertanding di hadapan kaisar. Saat itu tegoi tidak seperti sumo modern karena tidak ada arena pertandingan, dan teknik yang digunakan lebih agresif daripada yang digunakan di sumo hari ini. Bahkan sifat agresif tegoi itu diperjelas oleh titah dari Kaisar Nimmyo (810-850) yang berkata bahwa, “Sumai no sechie bukan sekedar hiburan, tetapi adalah sarana yang ideal untuk menumbuhkan keterampilan seni bertempur secara nyata.”

    Perubahan dramatis dalam penafsiran dan aplikasi ki mulai berlangsung pada saat munculnya kelas samurai dari periode Heian. Proses berlanjut melewati periode Kamakura (1185-1336), periode Muromachi (1336-1573), periode Azuchi-Momoyama (1568-1603), dan mencapai puncaknya pada permulaan periode Tokugawa (1603-1868). Para samurai, yang terbiasa menghadapi ancaman kematian pada zaman perang saudara, menggunakan kata ki ke dalam istilah sebagai berikut: nyali, shi-ki; tekad, i-ki; bugar, gen-ki; keberanian, yu-ki; ketenangan, hei-ki; penghematan energi, shu-ki; dan persoalan hidup-mati, ki-soku.

    Sekarang saatnya menyimak pandangan tentang ki dari sang pendiri aikidō Ueshiba Morihei. Pandangan beliau tentang ki, lahir dari pemahaman intuitif tentang kerja alam semesta. Seringkali ucapan beliau sulit dimengerti, tetapi dengan membaca ucapannya secara meditatif akan memberikan kita beberapa petunjuk mengenai pemahaman tentang ki. Berikut adalah ucapan beliau dalam terjemahan bebas, “Melalui budō saya melatih tubuh dengan tekun dan memahami rahasia yang ada, tetapi saya juga menyadari jika ada kebenaran yang lebih besar. Yakni, ketika saya menggapai sifat alami dari alam semesta melalui budō, saya memandang dengan jelas bahwa manusia mesti menyatukan pikiran, tubuh, dan ki yang memadukan keduanya sehingga tercapainya harmoni dengan semua kerja alam semesta.

    Dengan sifat dan kerja sunyi dari ki, kita mengharmoniskan pikiran dan tubuh serta hubungan antara seorang individu dengan alam semesta. Ketika kerja sunyi dari ki tidak sehat, maka dunia akan jatuh ke dalam kebingunan dan alam semesta menjadi kacau. Mengharmoniskan kesatuan ki-pikiran-tubuh dengan kerja alam semesta adalah hal kritis untuk tatanan dan perdamaian di dunia.

    Bekerjanya ki dengan senyap adalah sumber induk yang memengaruhi perubahan halus di nafas. Itu juga menjadi sumber dari seni bertempur sebagai welas asih. Ketika seseorang menyatukan pikiran dengan tubuh melalui manfaat ki dan memanifestasikan ai-ki (ki yang harmonis), maka perubahan halus dari kekuatan nafas akan terjadi secara spontan dan waza, teknik, akan mengalir dengan bebas.

    Perubahan nafas itu berhubungan dengan ki dari alam semesta, berinteraksi, dan saling menembus dengan semua kehidupan. Pada saat yang sama kekuatan nafas yang halus akan memasuki semua bagian tubuh, terserap masuk sehingga mengisi seseorang dengan vitalitas, menghasilkan gerakan spontan yang dinamis secara alami. Dengan cara ini seluruh tubuh, termasuk organ dalam, menjadi satu dengan panas, cahaya, dan tenaga. Tercapainya penyatuan pikiran dan tubuh serta menyatu dengan alam semesta akan membuat gerakan yang segera tanpa hambatan dari kehendak seseorang.

    Perubahan halus dari nafas akan menyebabkan gerakan senyap dari ki di dalam ruang kosong. Seringkali gerakan menjadi sengit dan ampuh, pada saat lain menjadi lambat dan diam. Dengan perubahan-perubahan tersebut seseorang dapat melihat tingkat kesadaran dari penyatuan pikiran dan tubuh, kekuatan nafas menjadi satu dengan alam semesta, lembut, dan secara alami berkembang menuju batas maksimal, tetapi pada saat yang sama seseorang akan semakin mandiri dan otonom. Melalui cara ini esensi spiritual menjadi nyata dalam diri seseorang, melingkupi, melindungi, serta mempertahankan diri seseorang. Ini adalah pengantar untuk memahami esensi ai-ki.”

    Pada tahap awal latihan, seorang pemula sudah diperkenalkan dengan konsep ki. Penting sekali untuk menyadari titik sentral tubuh yang sangat kuat yaitu berada sekitar dua atau tiga ruas di bawah pusar. Titik ini secara alami menjadi pusat gravitasi dari berat badan seseorang dalam kondisi berdiri tegak dengan rileks. Titik ini disebut dengan seika tanden dalam bahasa Jepang. Pada permulaan ini, ki dibayangkan mengalir dari tanden ke arah tangan hingga ujung jari agar tangan kosong ini menjadi senjata yang disebut te-gatana atau tangan pedang. Kemudian kekuatan nafas dilatih dalam posisi berdiri atau duduk. Metode latihan nafas ini disebut kokyu-ho. Setelah itu pembelajaran awal dilanjutkan dengan membentuk jarak yang tepat (ma-ai) antara seorang praktisi dengan partner latihannya.

    Menurut Kisshomaru Ueshiba (1984: 30), sulit sekali mencari terjemahan kata dalam bahasa Barat yang memiliki makna sepadan dengan ki. Terjemahan yang ada akan menyesuaikan sesuai dengan dimensi berbeda dari ki. Jika penekanan pada aspek spiritual maka bisa diterjemahkan sebagai spirit, soul, ethos dalam bahasa Inggris; atau esprit dalam bahasa Perancis; atau geist dalam bahasa Jerman. Jika penekanan pada aspek afektif maka bisa diterjemahkan sebagai sense, intuition, feeling, intention dalam bahasa Inggris; atau stimming dalam bahasa Jerman. Jika penekanan pada aspek psiko-fisiologi maka bisa diterjemahkan sebagai breathing, breath, ether dalam bahasa Inggris; atau psyche dalam bahasa Yunani.

    Aikidō Tidak Berkompetisi

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here