Aikidō Tidak Berkompetisi
Aikidō tidak berkompetisi dalam pertandingan. Prinsip dan teknik aikidō mengadopsi dari ilmu perang klasik (bujutsu) yang digunakan untuk tetap bertahan hidup dalam situasi pertarungan yang membahayakan hidup seseorang maupun peristiwa pertempuran di dalam perang. Ada beberapa teknik bantingan yang pada aplikasi di zaman perang bertujuan mematahkan tulang belakang atau leher seorang prajurit musuh yang memakai baju zirah lengkap. Dalam perkembangan aikidō sebagai budō (seni beladiri) ada aspek teknik berbahaya yang sudah tidak diajarkan, namun teknik-teknik yang masih dilatih saat inipun masih bisa memberi cedera parah jika dilakukan dalam suasana kompetisi yang memanas antara dua orang praktisi yang bertanding dengan sengit.
Sang pendiri aikidō, Ueshiba Morihei menyimpulkan bahwa semangat sejati dari budō tidak bisa ditemukan dalam suasana kompetitif di mana para praktisi mengalami tekanan untuk menang dan tekanan menghindari kekalahan dalam suatu pertandingan. Aikidō menolak kontestasi kompetisi dalam bentuk apapun, termasuk pembagian rangking berdasarkan jumlah kemenangan, pemisahan kelas berdasarkan bobot tubuh atau gender, atau masuknya logo-logo sponsor dalam kompetisi atau latihan rutin. Kesimpulan beliau adalah perlunya kesadaran sebagai manusia untuk melatih diri baik tubuh fisik maupun pikiran melalui latihan rutin setiap hari dengan semangat tinggi. Melalui latihan konstan terhadap tubuh dan pikiran seseorang dapat mengharmoniskan ki individu dengan ki alam semesta, dalam hal ini melatih nafas agar terlatih adalah tidak terpisahkan.
Keputusan aikidō untuk tidak berkompetisi tidak bermakdsud untuk mengkritik seni beladiri lain yang memutuskan menjadi olahraga beladiri yang kompetitif. Dalam sejarahnya, dapat dipahami bahwa arah seni beladiri menjadi sebuah sport adalah langkah untuk bertahan agar tetap lestari, terutama di Jepang pasca Restorasi Meiji dan setelah Perang Dunia II. Seperti ilmu berpedang atau kenjutsu yang dimodifikasi menjadi kendō atau jujutsu yang menjadi judō. Demikian hal tersebut dapat dipahami, tetapi aikidō mengambil jalan yang berbeda dari tren kompetisi dalam kegiatan penyebarluasannya.
Kekalahan Jepang pada Perang Dunia II menyebabkan banyak cabang seni beladiri yang sempat dilarang oleh otoritas Allied Occupation terutama yang menjadi alat militerisme Perang Pasifik. Dalam hal ini aikidō terbebaskan dari pelarangan pasca Perang Dunia II karena keengganan Master Ueshiba Morihei untuk bergabung dalam sebuah badan yang mendukung militerisme Jepang sebelumnya.
Konsep Berlatih Aikidō
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






