More
    Home UTAMA PERISTIWA Membangun Masa Depan Berkelanjutan: Merubah Sistem, Bukan Merubah Iklim

    Membangun Masa Depan Berkelanjutan: Merubah Sistem, Bukan Merubah Iklim

    JAKARTA, KabarKampus – Perubahan iklim telah menjadi perhatian khusus para pemimpin dunia seiring dengan semakin parahnya intensitas bencana alam dan anomali cuaca yang diakibatkannya. Dampak negatif atas fenomena-fenomena ini telah memukul mundur pembangunan, sehingga perubahan iklim dianggap sebagai ancaman terbesar dalam progres pembangunan. 

    Dalam rangka merayakan HUT ke-3 serta melanjutkan giat dalam membumikan isu ekonomi dengan menjembatani awam dan ahli, Idekonomi mengadakan webinar bertajuk “Idetalks: Perubahan Iklim sebagai Ancaman Terbesar Pembangunan”. Tema besar ini dielaborasikan lebih dalam dari sudut pandang empat pembicara yang berkecimpung di bidang lingkungan, yaitu Ratu Vashti A. (Miss Earth Indonesia 2018), Novia Xu (Climate Researcher, CSIS Indonesia), Hendro Wicaksono (Production Director, Idekonomi), dan Albertus Prabu S. (Analyst, Climate Policy Initiative). Acara ini dimoderatori oleh Ade Nurul Safrina, Pembawa Berita Ekonomi sekaligus Host dari segmen CeritaPuan Idekonomi.

    Perubahan iklim menyebabkan kerugian baik dari segi aspek ekonomi maupun kesehatan. Novia Xu menyebutkan bahwa terdapat tiga poin penting dalam upaya menangani perubahan iklim. Pertama, structure policy yaitu pergeseran struktur hidup masyarakat, seperti bergeser dari sistem ekonomi non-sirkular menjadi ekonomi sirkular (mempertahankan nilai material sehingga dapat dipakai berulang). Kedua, sectoral policy yaitu upaya yang lebih spesifik sesuai sektor ekonomi, seperti penggunaan energi terbarukan di sektor industri. Ketiga, enabler yaitu hal-hal yang menjadi katalis dalam menangani perubahan iklim, seperti transformasi sistem ekonomi dan inovasi teknologi. Novia juga menambahkan bahwa peran riset merupakan integral dari upaya penanganan climate change. “Karena climate change merupakan on going fight terhadap existential issues, peran riset menjadi sangat penting karena terlalu banyak the unknown. Sementara, peran riset dan think tank adalah study the unknown.” tutur Novia. 

    - Advertisement -

    Selanjutnya, Ratu Vashti memaparkan inisiatif aksi penyelamatan lingkungan yang bisa digencarkan oleh masyarakat. Ratu mengajak masyarakat untuk mulai bertanya ke diri sendiri mengenai apa saja hal yang menjadi motivasi dalam melakukan aksi peduli lingkungan. Salah satu hal yang dapat menjadi motivasi individu adalah untuk menyediakan bumi yang sehat dan layak ditinggali untuk anak dan cucunya. Selain itu, Ratu juga mengampanyekan pola hidup sustainable living, seperti menggunakan produk ramah lingkungan saat beraktivitas sehari-hari. “Aku memilih untuk menyuarakan mengenai sustainable living karena ini aplikatif dalam kehidupan sehari-hari and it’s not that hard. It’s really as easy as matiin lampu, buang sampah ditempatnya dan mematikan keran.” tambahnya.

    Aksi masyarakat dan sektor privat dalam menangani perubahan iklim tentu harus didukung oleh Pemerintah, salah satunya melalui regulasi yang kuat dan searah. Saat ini, pemerintah mendorong program pembiayaan berwawasan lingkungan (Green Financing). Program ini dapat dikarakterisasikan sebagai penanaman modal pada proyek hijau, atau menginvestasikan uang pada proyek ramah lingkungan seperti listrik dengan tenaga terbarukan atau sustainable agriculture. Untuk mengakselerasi Green Financing di Indonesia, pemerintah dapat lebih selektif terhadap pembiayaan proyek, yaitu dengan memilih proyek yang berdampak besar terhadap penanganan perubahan iklim namun dengan cost APBN yang lebih kecil. “Green Financing tidak akan efektif apabila dibarengi dengan investasi pada Brown Financing (sektor yang tidak ramah lingkungan)” tambah Albertus. Selain Green Financing, Pemerintah Indonesia saat ini telah menyepakati aturan Pajak Karbon yang hingga saat ini masih berada pada tahap penyusunan. Hendro menyebutkan bahwa pada tahun 2022, pilot project Pajak Karbon akan mulai diberlakukan pada subsektor batubara dengan tarif Rp30.000/kg CO2.

    Sejak tahun 2018 Idekonomi terus bergerak dalam menyuarakan isu-isu ekonomi, termasuk isu ekonomi lingkungan dan perubahan iklim. Acara webinar yang diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT ke-3 Idekonomi merupakan sebuah momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai urgensi dari keadaan bumi yang sedang tidak baik-baik saja. Maka, diharapkan acara ini dapat meningkatkan kesadaran akan keadaan iklim bagi ratusan audiens yang hadir secara virtual dari seluruh penjuru Indonesia. Hal ini sangatlah penting karena aksi mitigasi dan penanganan terhadap perubahan iklim membutuhkan sinergi dari seluruh pihak tanpa terkecuali, baik dari masyarakat, pemerintah maupun sektor privat.

    Keseluruhan kegiatan Idetalks dapat disimak melalui tautan Youtube berikut: https://youtu.be/PCOdQ8FmeVw

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here