Oleh: Randy

Ada satu pertanyaan yang belakangan kembali muncul setiap kali foto-foto demonstrasi mahasiswa memenuhi linimasa media sosial, “Ke mana saja mahasiswa selama ini?” Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, gerakan mahasiswa di ruang publik terasa minim.
Kampus dianggap semakin sunyi. Organisasi kemahasiswaan dinilai kehilangan daya dobrak. Demonstrasi yang dulu menjadi bagian penting dari kehidupan kampus terasa semakin jarang terdengar. Oleh karena itu, ketika ribuan mahasiswa kembali turun ke jalan di berbagai kota pada Juni 2026, banyak orang terkejut.
Dari Jakarta hingga Bandung, mahasiswa membawa tuntutan yang beragam. Ada yang menyoroti kondisi ekonomi, tata kelola pemerintahan, kenaikan biaya hidup, hingga berbagai program pemerintah yang dianggap tidak tepat sasaran. Namun pertanyaan yang lebih menarik sebenarnya bukanlah apa tuntutan mereka.
Pertanyaan yang lebih penting adalah, mengapa mahasiswa kembali turun ke jalan setelah bertahun-tahun terlihat sepi?
Mahasiswa Tidak Pernah Benar-Benar Hilang
Ada anggapan bahwa mahasiswa selama beberapa tahun terakhir menjadi apatis. Mereka dianggap lebih sibuk membuat konten media sosial, mengejar sertifikat, mengikuti magang, atau berburu peluang karier dibanding memikirkan persoalan publik.
Anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Mahasiswa sebenarnya tidak pernah benar-benar menghilang. Mereka hanya berubah. Generasi mahasiswa saat ini tumbuh dalam situasi yang berbeda dengan generasi Reformasi 1998 atau bahkan generasi demonstrasi 2019.
Mereka lahir di era internet, dibesarkan oleh algoritma, dan hidup dalam budaya kompetisi yang jauh lebih ketat. Jika mahasiswa era sebelumnya menghabiskan waktu berdiskusi di sekretariat organisasi, mahasiswa hari ini harus membagi energi untuk menjaga IPK, mengikuti program magang, membangun portofolio, mengurus sertifikasi, hingga mempersiapkan diri menghadapi pasar kerja yang semakin tidak pasti.
Bukan berarti mereka tidak peduli pada isu publik. Mereka hanya memiliki lebih banyak beban yang harus dipikirkan.
Ketika Masalah Ekonomi Menjadi Terlalu Dekat
Ada satu hal yang membedakan gelombang demonstrasi kali ini dengan banyak aksi sebelumnya, yaitu ketika isu ekonomi terasa sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa. Kenaikan harga kebutuhan pokok mungkin terdengar seperti isu rumah tangga.
Namun bagi mahasiswa perantauan, harga makan siang yang naik, biaya kos yang meningkat, dan ongkos transportasi yang semakin mahal adalah persoalan yang dirasakan setiap hari. Bagi mahasiswa tingkat akhir, situasinya bahkan lebih mengkhawatirkan.
Mereka melihat dunia kerja yang tidak lagi menjanjikan kepastian seperti dulu. Lapangan kerja semakin kompetitif, sementara biaya hidup terus meningkat. Dalam kondisi seperti itu, isu ekonomi tidak lagi menjadi pembahasan abstrak yang hanya muncul di televisi atau ruang kuliah. Ia hadir di dompet mahasiswa.
Ketika persoalan publik mulai memengaruhi kehidupan pribadi, kemarahan biasanya lebih mudah tumbuh.
Kampus yang Semakin Hati-Hati
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






