Kampus yang Semakin Hati-Hati
Alasan lain mengapa demonstrasi mahasiswa terlihat berkurang dalam beberapa tahun terakhir adalah perubahan karakter kampus itu sendiri. Banyak perguruan tinggi kini lebih fokus membangun reputasi akademik, meningkatkan akreditasi, memperkuat kerja sama internasional, dan mengejar berbagai indikator kinerja institusi.
Tidak ada yang salah dengan itu. Namun konsekuensinya, ruang-ruang diskusi kritis yang dulu menjadi denyut kehidupan kampus perlahan menyusut. Sebagian mahasiswa merasa aktivitas organisasi tidak lagi mendapat tempat yang sama seperti sebelumnya.
Di beberapa kampus, demonstrasi bahkan dianggap sebagai aktivitas yang berpotensi mengganggu citra institusi. Akibatnya, gerakan mahasiswa tidak hilang, tetapi bergerak lebih hati-hati. Mereka memilih diskusi daring, kampanye media sosial, atau advokasi melalui berbagai platform digital.
Sayangnya, bentuk-bentuk gerakan seperti itu sering kali tidak terlihat oleh publik sehingga muncul kesan bahwa mahasiswa telah berhenti bersuara.
Media Sosial Tidak Bisa Menggantikan Jalanan
Selama bertahun-tahun, media sosial dianggap mampu menggantikan demonstrasi. Hashtag bisa menjadi viral seperti #ReformasiDikorupsi #PeringatanDarurat #IndonesiaDarurat dan lainnya. Petisi digital dapat ditandatangani ribuan orang.
Kritik kepada pemerintah bisa ditulis dalam hitungan detik. Namun ada satu hal yang tidak bisa diberikan media sosial, yaitu simbol. Turun ke jalan selalu memiliki makna yang berbeda. Kehadiran fisik ribuan orang di ruang publik menunjukkan bahwa suatu persoalan telah melampaui batas percakapan digital.
Karena itu, ketika mahasiswa memutuskan kembali berdiri di depan gedung pemerintahan, membawa spanduk, berorasi, dan menghadapi panas matahari, pesan yang ingin disampaikan jauh lebih kuat dibanding unggahan media sosial mana pun.
Mereka ingin menunjukkan bahwa ada persoalan yang menurut mereka tidak cukup diselesaikan melalui kolom komentar.
Bukan Sekadar Soal Pemerintah
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






