Faktor Utama Runtuhnya Sang Proyek Raya
Mengapa proyek yang disokong kekuatan finansial dan militer raksasa ini sekarang diprediksi kolaps? Sachs memetakan dua faktor penentu utama yang menjadi titik balik sejarah:
1. Matinya Efek Gentar (Military Deterrence) di Kawasan
Selama bertahun-tahun, strategi AS dan Israel bertumpu pada doktrin Neokonservatif: meredam perlawanan bukan dengan bernegosiasi, melainkan dengan menggulingkan rezim-rezim yang mendukung hak-hak Palestina. Perang Irak 2003 dan keterlibatan rahasia CIA di Suriah adalah contoh nyata dari upaya memutus mata rantai pasokan gerakan perlawanan. Namun, strategi ini mencapai jalan buntu ketika dihadapkan langsung pada Iran.
Konfrontasi langsung yang meletus membongkar fakta baru bahwa Iran saat ini adalah kekuatan militer yang canggih dengan populasi lebih dari 90 juta jiwa, dilengkapi teknologi misil hipersonik dan drone mutakhir. Kemampuan Iran untuk membalas secara asimetris, menutup Selat Hormuz, dan merontokkan stabilitas ekonomi global terbukti menciptakan efek getar yang nyata. Realitas ini memaksa kekuatan besar untuk menahan diri, memicu kesepakatan diplomasi yang rapuh, dan membuktikan bahwa superioritas militer absolut Israel-AS di kawasan itu telah berakhir.
2. Bergesernya Opini Publik Amerika Serikat
Runtuhnya proyek ini juga dipicu oleh keretakan internal dari dalam benteng penyokong utamanya sendiri. Tragedi kemanusiaan yang disiarkan langsung setiap hari dari Gaza telah mengubah lanskap kesadaran moral masyarakat dunia, termasuk warga Amerika Serikat. Dalam waktu singkat, opini publik di AS bergeser drastis dari dukungan buta terhadap Israel menjadi simpati mendalam terhadap hak-hak warga Palestina.
Sachs memberikan bukti empiris yang luar biasa dari New York City—kota dengan konsentrasi penduduk Yahudi terbesar di AS. Dalam pemilihan internal kongres, kandidat progresif yang secara tegas menentang ekstremisme pemerintahan Israel berhasil memenangkan keunggulan mutlak atas kandidat petahana pro-Israel konvensional. Fenomena ini mematahkan narasi lama bahwa kritik terhadap kebijakan Israel adalah bentuk anti-semitisme. Realitas politik baru menunjukkan: warga Amerika bersedia mendukung keberadaan negara Israel yang adil, tetapi mereka benar-benar menolak membiayai ambisi “Israel Raya”.
Menuju Solusi yang Adil dan Humanis
Pada akhirnya, matematika demografi tidak bisa dibohongi. Di atas tanah Mandat Palestina saat ini, hidup sekitar 8 juta warga Yahudi Israel dan 8 juta warga Arab Palestina. Opsi untuk melakukan pembersihan etnis, apartheid permanen, atau pembantaian massal secara moral dikutuk oleh hukum internasional dan secara praktis tidak akan pernah diterima oleh komunitas global di era multipolar ini.
Profesor Jeffrey Sachs menegaskan bahwa satu-satunya jalan keluar demi keselamatan bersama adalah kembali pada koridor hukum internasional yang telah digariskan sejak 1948 dan 1967. Opsi terbaik yang tersisa adalah realisasi Solusi Dua Negara (Two-State Solution) yang berdaulat secara berdampingan, atau transformasi radikal menjadi Satu Negara Binasional yang demokratis dengan hak setara bagi seluruh warganya, seperti model multi-etnis yang diterapkan secara damai di Belgia. Di luar jalur keadilan dan kesetaraan ini, yang tersisa hanyalah perang abadi yang merugikan semua pihak.
*Sekjen Free Palestine Network (FPN)






