Bantuan Kampus Menjangkau Berbagai Wilayah
Keterlibatan perguruan tinggi dalam penanganan gempa juga berlangsung di sejumlah wilayah lain di NTT. Beberapa kampus membentuk posko layanan, di antaranya Universitas Nusa Nipa, Universitas Flores, Universitas Muhammadiyah Maumere, STIPER Bajawa, Politeknik Cristo Re, Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, Institut Nasional Flores, STKIP Citra Bakti, dan STIKes St. Elisabeth Keuskupan Maumere.
Universitas Nusa Nipa juga bekerja sama dengan Universitas Padjadjaran dalam menyalurkan sembako dan layanan pengobatan gratis kepada masyarakat di Pulau Palue. Dari luar NTT, Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar mengirim relawan medis ke Desa Lalong, Kecamatan Waeri’i, Kabupaten Manggarai.
Tim tersebut melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap 78 warga sekaligus menyalurkan berbagai kebutuhan seperti tenda, selimut, obat-obatan, dan perlengkapan dasar. Universitas Warmadewa Bali juga mengerahkan sekitar 50 mahasiswa melalui program KKN di Desa Macang Tanggar dan Desa Warlokasi Pesisir, Manggarai Barat.
Sementara itu, Universitas Syiah Kuala mengirim Tim USK Peduli Manggarai NTT ke RSUD Komodo, Manggarai Barat. Selain pelayanan kesehatan, tim tersebut melakukan asesmen kebutuhan, surveilans epidemiologi, dukungan logistik dan sistem informasi, serta membantu penguatan kapasitas tenaga kesehatan.
Perguruan tinggi lain seperti Universitas Negeri Malang, Universitas Brawijaya, Universitas Hasanuddin, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Sebelas Maret juga turut mengirimkan bantuan maupun tenaga untuk mendukung proses penanganan dan pemulihan.
Berbagai aksi tersebut memperlihatkan bahwa kampus memiliki sumber daya yang dapat dimobilisasi ketika terjadi bencana. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai penerima bantuan, tetapi juga dapat terlibat langsung dalam proses asesmen, pelayanan masyarakat, distribusi logistik, hingga kegiatan pemulihan.
Kemdiktisaintek juga menyiapkan Program Mahasiswa Berdampak melalui skema Aksi Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (Aksara Mahasiswa). Program tersebut diarahkan agar kontribusi mahasiswa dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di lokasi bencana.
Menurut Brian, informasi yang dikumpulkan sivitas akademika dari lapangan dapat membantu pemerintah menentukan lokasi yang masih membutuhkan intervensi. “Jadi tadi kami mendapatkan beberapa informasi, nantinya kita akan menyerahkan kepada Kepala LLDIKTI untuk mengoordinasikan titik-titik mana yang masih belum terjangkau. Itu mungkin akan didahulukan seperti yang dicontohkan oleh Unram dan Undana,” kata Brian seperti dikutip dari Info Publik.
Koordinasi tersebut menjadi penting karena kondisi di setiap wilayah tidak selalu sama. Ada daerah yang membutuhkan layanan medis, sementara daerah lainnya lebih membutuhkan air bersih, tempat tinggal sementara, logistik, atau dukungan psikologis.
Pendidikan Tetap Harus Berjalan
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






