Pertumbuhan Ekonomi Harus Berdampak pada Masyarakat
Pandangan tersebut juga disampaikan Prof. Jomo ketika menjawab pertanyaan mengenai liberalisasi ekonomi India sejak 1991.
Ia mengakui adanya peningkatan pertumbuhan ekonomi India setelah reformasi, tetapi mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak secara otomatis berarti peningkatan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
“Kalau kita lihat dari segi pertumbuhan ekonomi, perkembangan ekonomi, tidak boleh dinafikan India telah tumbuh. Tetapi kalau kita lihat dari segi nasib orang biasa, ceritanya lain sekali,” katanya.
Menurutnya, kebijakan pembangunan harus dinilai berdasarkan dampaknya terhadap masyarakat luas, bukan hanya melalui indikator pertumbuhan ekonomi.
Ia juga mengingatkan bahwa liberalisasi dapat menciptakan peluang besar bagi kelompok yang telah memiliki modal. Karena itu, distribusi manfaat pembangunan menjadi persoalan penting yang tidak boleh diabaikan.
“Perkembangan ekonomi sepatutnya memberi manfaat kepada orang ramai. Itu sepatutnya menjadi prioritas,” tegas Prof. Jomo.
Prof. Jomo kembali menekankan pentingnya sikap kritis terhadap berbagai teori dan model pembangunan. Pengalaman Tiongkok, India, Brasil, Jepang, maupun negara-negara Asia Timur dapat menjadi referensi penting, tetapi penerapannya harus disesuaikan dengan konteks nasional masing-masing.
“Belajar daripada India, belajar dari mana-mana saja, tetapi jangan menganggap ini semua memberi apa yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai ‘magic bullet’,” tuturnya.
Konteks Indonesia dan Asia Tenggara
Dalam konteks Indonesia dan Asia Tenggara, pendekatan berbasis konteks tersebut menjadi penting karena setiap negara memiliki pengalaman kolonial, sistem politik, institusi, bahasa, serta tradisi intelektual yang berbeda.
Prof. Jomo menjelaskan bahwa perkembangan pemikiran ekonomi Indonesia, misalnya, turut dipengaruhi oleh jaringan pendidikan internasional, termasuk pengaruh universitas di Amerika Serikat, Australia, Jepang, dan negara-negara lainnya.
Hal tersebut menunjukkan bahwa sejarah pendidikan dan jaringan intelektual turut membentuk cara suatu negara memahami ekonomi dan merumuskan kebijakan.
Melalui kuliah umum ini, Program Doktor Ilmu Manajemen dan Bisnis Universitas Paramadina menegaskan pentingnya menghadirkan ruang dialog akademik yang terbuka, kritis, dan kontekstual. Diskusi mengenai liberalisme dan sejarah ekonomi diharapkan tidak berhenti pada perdebatan mengenai teori, tetapi dapat memperkaya perspektif dalam memahami pilihan kebijakan ekonomi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan karakter masing-masing negara.






