
MALANG, KabarKammpus – Sebanyak 4.780 mahasiswa dari 49 perguruan tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA) mengikuti rangkaian penutupan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Helipad UMM, Senin (31/8). Penutupan yang dikemas melalui kegiatan fun walk tersebut tidak hanya menjadi akhir dari rangkaian pengabdian mahasiswa selama sebulan.
UMM juga memamerkan sekitar 120 produk inovasi dan teknologi tepat guna yang dikembangkan mahasiswa berdasarkan persoalan yang mereka temui di masyarakat. Program KKN tersebut melibatkan mahasiswa dari berbagai kampus PTMA di Indonesia. Mereka ditempatkan di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Malang dan beberapa daerah lain di Jawa Timur.
Selain itu, UMM juga menjalankan skema KKN internasional di Thailand dan Taiwan, KKN Emas PTMA se-Indonesia, KKN Berdampak, serta KKN Gentaskin yang berfokus pada upaya pengentasan kemiskinan ekstrem. Kepala Divisi Pengabdian Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UMM, Dr. Arina Restian, mengatakan kegiatan tersebut dirancang agar keberadaan mahasiswa dapat memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Salah satunya menjalankan amanah bagi Kemdiktisaintek bagaimana mahasiswa berdampak, sesuai dengan tagline dari KKN Mas dan juga tagline dari kampus UMM, Mandiri, Inovasi, Berdampak,” kata Arina seperti dikutip dari website resmi UMM.
Menurut Arina, meskipun pelaksanaan KKN berlangsung selama 30 hari, persiapannya telah dilakukan jauh sebelumnya. Mahasiswa bersama dosen pembimbing lapangan (DPL) melakukan perencanaan sekitar enam bulan sebelum turun ke lokasi. “Pameran itu hasil dari KKN satu bulan. Sebelumnya enam bulan sebelum kita rancang bersama DPL masing-masing, kemudian saat ini mereka dipamerkan karyanya,” kata Arina.
Hasil kegiatan mahasiswa kemudian ditampilkan melalui sekitar 120 stand dalam gelar produk. Kelompok KKN dibentuk dengan komposisi mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi sehingga mendorong terjadinya kolaborasi lintas kampus. Inovasi yang dihasilkan pun cukup beragam.
Sejumlah mahasiswa mengembangkan teknologi Internet of Things (IoT) untuk pertanian, mendampingi pelaku UMKM, mengembangkan kampung wisata, hingga membuat inovasi di sektor perikanan dan pengelolaan lingkungan. “Setiap produk itu mereka menyampaikan salah satunya teknologi tepat guna. Misalkan, itu melahirkan IoT, IoT di pertanian. Ada juga yang mendirikan UMKM di Pujon Batu, ada yang mendirikan kampung wisata,” jelas Arina.
Salah satu karya yang dipamerkan berasal dari Kelompok 36 Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla). Kelompok tersebut melaksanakan KKN di Dusun Jeding, Desa Junrejo, Kota Batu, dengan mengembangkan dua program utama, yakni budidaya maggot dan pembuatan biochar dari limbah kayu.
Mahasiswi Umla, Imelda Fiska Amelia, menjelaskan kedua program tersebut dirancang untuk memanfaatkan limbah sekaligus memberikan manfaat bagi sektor pertanian dan peternakan. “Program utama kami itu ada dua, yaitu budidaya maggot dan juga pembuatan biochar dari limbah kayu. Dari biochar kami akan membuatnya menjadi pupuk dan dimanfaatkan untuk petani,” ujar Imelda.
Dalam program budidaya maggot, mahasiswa memanfaatkan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) untuk mengolah limbah organik yang sebelumnya hanya dibuang. “Maggot itu adalah larvanya dari lalat BSF. Kami manfaatkan maggot untuk pengolahan limbah organik. Karena biasanya limbah organik cuma dibuang, kami manfaatkan menjadi makanan maggot,” katanya.
Tidak berhenti pada pengurangan sampah, hasil budidaya tersebut juga memiliki nilai guna lain. Residu yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, sementara maggot dapat dikeringkan untuk menjadi sumber tambahan protein bagi peternakan.
“Dampak dari maggot itu sendiri bisa mengurangi limbah organik. Dari residu yang dihasilkan dari maggot bisa dibuat pupuk untuk pertanian. Maggotnya sendiri kalau masih menjadi larva bisa dikeringkan dan juga menjadi tambahan protein di peternakan,” jelas Imelda.
Meski demikian, penerapan budidaya maggot dalam skala lebih besar membutuhkan pengelolaan dan kerja sama dengan pihak lain agar kapasitas pengolahan limbah dapat ditingkatkan. “Insyaallah bisa, tapi tidak dalam skala besar. Kalau dalam skala besar pastinya harus bekerja sama dengan TPS atau yang lainnya dan pekerjaan pengolahannya juga harus lebih besar lagi,” ujarnya.
Sementara itu, biochar dibuat dengan memanfaatkan sisa kayu yang diproses melalui pembakaran dan pengolahan tertentu sebelum digunakan pada tanah. “Ini biochar kami. Bentuknya dibuat dari bekas sisa kayu. Dibakar, kemudian ada pengolahan juga, lalu dicampur ke tanah. Lebih tepatnya untuk membantu kondisi tanah, bukan langsung untuk penyuburan tanaman,” kata Imelda.
UMM Dorong Inovasi Berlanjut Setelah KKN
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






