UMM Dorong Inovasi Berlanjut Setelah KKN
Bagi UMM, hasil KKN tidak seharusnya berhenti setelah mahasiswa kembali ke kampus. Sejumlah karya mulai diarahkan untuk memiliki keberlanjutan, termasuk kemungkinan mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Salah satu contohnya adalah teknologi mesin pengolah air yang dikembangkan mahasiswa di kawasan Malang Selatan.
Produk tersebut kini tengah diarahkan untuk memperoleh perlindungan paten dengan pendampingan dari DPL. “Di Malang Selatan itu ada yang membuat teknik mesin pengolah air dan itu sama DPL-nya juga sudah diarahkan untuk hak patennya, sedang proses. Karena paten itu sangat selektif sekali, harus didampingi kepakaran DPL dan juga harus ada tindak lanjut dari produk, kontinuitas dari alat tersebut,” katanya.
Selain teknologi, pendampingan mahasiswa terhadap UMKM juga berpotensi dikembangkan lebih jauh. “Di Pujon itu kan mereka mendampingi UMKM. Jadi mulai karya-karya keripik yang inovasi, ada hal yang berbeda yang kemudian ini ke depan bisa kita sandingkan,” ujarnya.
Di Pujon, misalnya, mahasiswa membantu pelaku usaha menghasilkan berbagai inovasi produk makanan yang dapat dikembangkan melalui jejaring UMM. Langkah tersebut menunjukkan bahwa KKN tidak hanya menjadi kegiatan akademik yang berlangsung sementara.
Dengan pendampingan dan jejaring yang tepat, gagasan mahasiswa dapat dikembangkan menjadi inovasi yang memberikan manfaat lebih panjang bagi masyarakat. Semangat membawa hasil pembelajaran kampus ke masyarakat juga terlihat dalam rencana pengembangan kerja sama UMM dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Dalam pertemuan antara Rektor UMM dan Gubernur NTB di Kantor Gubernur NTB, Rabu (26/8), kedua pihak membahas sejumlah program yang dapat ditindaklanjuti melalui pengalaman dan sumber daya yang dimiliki UMM. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi MPsi PhD, mengatakan terdapat beberapa sektor yang menjadi perhatian, mulai dari pemberdayaan desa hingga ketahanan pangan dan perikanan.
”Ada beberapa aspek yang akan ditindaklanjuti UMM. Pertama, pendampingan desa melalui konsep desa berdampak atau desa berdaya. Kedua, pengembangan padi organik di NTB dengan mengadopsi pengalaman UMM dalam pengembangan padi organik di Bondowoso. Ketiga, ada potensi kerja sama di bidang perudangan melalui CoE Kelas Profesional udang yang dimiliki UMM,” ujarnya.
Pendampingan desa akan diarahkan agar masyarakat dapat mengembangkan potensi lokal sesuai karakteristik wilayah masing-masing. UMM juga akan membawa pengalaman dari sejumlah program yang sebelumnya telah dijalankan di daerah lain, termasuk pengembangan pertanian organik dan penanganan persoalan sosial seperti stunting serta kemiskinan ekstrem.
Sektor pariwisata turut masuk dalam penjajakan kerja sama. UMM berencana memetakan sejumlah kawasan potensial untuk melihat peluang pengembangan wisata yang melibatkan masyarakat serta mengoptimalkan sumber daya lokal. Di bidang perikanan, UMM dapat memanfaatkan pengalaman dan fasilitas Center of Excellence (CoE) Kelas Profesional Udang yang dimiliki kampus.
”Tahap awalnya kami akan melakukan survei di beberapa daerah potensial. Setelah itu dilakukan pemetaan dan perencanaan untuk menentukan bagaimana implementasi program kerja yang paling sesuai dengan kondisi dan potensi masing-masing daerah,” jelas Salis.
Survei dan pemetaan tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan wilayah prioritas serta bentuk program yang paling sesuai. Setelahnya, UMM bersama pemerintah daerah akan menyusun tahapan pelaksanaan agar kerja sama dapat diwujudkan dalam program yang konkret.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana perguruan tinggi dapat mengambil peran lebih luas dalam menjawab persoalan masyarakat. Melalui KKN, mahasiswa belajar mengenali kebutuhan di lapangan dan merancang solusi.
Sementra melalui kerja sama kelembagaan, pengalaman dan inovasi tersebut dapat dikembangkan dalam skala yang lebih luas. Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut juga menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat bukan sekadar kewajiban akademik. Ketika gagasan, pengetahuan, dan inovasi mampu menjawab kebutuhan nyata, kegiatan kampus dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan perubahan yang berkelanjutan.






