3. Realitas yang Terjadi pada Israel dan Ukraina
Keterbatasan teknologi defensif ini tidak hanya dialami oleh Arab Saudi, tetapi juga oleh negara-negara lain:
- Israel: Meski memiliki sistem pertahanan berlapir-lapis (Iron Dome, David’s Sling, Arrow) dan didukung penuh oleh militer AS, Israel tetap kewalahan saat menghadapi gelombang rudal dan drone massal dari Iran. Dalam konflik intensif, banyak rudal yang berhasil menembus pertahanan Israel, sementara persediaan rudal pencegat mereka terkuras habis dalam waktu singkat.
- Ukraina: Ukraina juga kehabisan sistem dan pasokan rudal pencegat (seperti Patriot) untuk menangkal serangan udara Rusia secara terus-menerus.
4. Rasio Biaya yang Sangat Tidak Seimbang (Cost-Exchange Ratio)
Salah satu kelemahan terbesar sistem pertahanan udara adalah faktor ekonomi perang:
- Murah untuk menyerang: Kelompok seperti Houthi Yaman atau negara seperti Iran hanya membutuhkan biaya puluhan ribu hingga ratusan ribu dolar untuk memproduksi sebuah drone atau rudal jelajah sederhana.
- Sangat mahal untuk bertahan: Untuk menjatuhkan satu drone murah tersebut, AS dan sekutunya harus meluncurkan rudal pencegat canggih seperti Patriot PAC-3 yang harganya mencapai jutaan dolar per unit.
Perbedaan biaya yang terlampau jauh ini membuat strategi bertahan secara ekonomi mustahil untuk dipertahankan dalam jangka panjang.
Kesimpulan: Pergeseran Geopolitik di Teluk Persia
Analisis Mearsheimer menyimpulkan bahwa keunggulan strategi militer saat ini berpihak secara signifikan kepada pihak Houthi Yaman dan Iran.
Kondisi ini membawa implikasi besar bagi masa depan geopolitik: Amerika Serikat diperkirakan akan makin kesulitan mempertahankan pangkalan militernya di Teluk Persia maupun menjamin keamanan total bagi sekutu-sekutunya. Selama teknologi pertahanan belum menemukan cara murah dan efektif untuk menghentikan kawanan rudal serta drone, negara mana pun akan terus menghadapi risiko besar. [Pembeda]






