
AMERIKA SERIKAT, KabarKampus – Di tengah meningkatnya ancaman serangan rudal dan drone dari Houthi Yaman serta dinamika ketegangan kawasan, muncul satu pertanyaan krusial: Mengapa Amerika Serikat (AS)—dengan teknologi militer terhebat di dunia—seolah tak mampu memberikan perlindungan pertahanan udara yang memadai bagi sekutu utamanya, Arab Saudi?
Pengamat hubungan internasional papan atas dari Amerika Serikat yang pernah memberi pembekalan pada Kabinet Merah Putih di Hambalang, Prof. John Mearsheimer, memberikan analisis tajam terkait fenomena ini empat hari lalu. Menurutnya, kegagalan menangkal serangan tersebut bukan disebabkan oleh retaknya hubungan diplomatik atau kurangnya dana, melainkan adanya pergeseran mendasar dalam lanskap perang modern.
1. Ini Bukan Masalah Uang atau Komitmen
Arab Saudi adalah salah satu negara terkaya di dunia yang memiliki sumber daya finansial tanpa batas untuk membeli alutsista buatan Amerika Serikat. Di sisi lain, Washington tetap memandang Riyadh sebagai mitra strategis utama di Teluk Persia.
Banyak pihak menduga bahwa kelemahan sistem pertahanan Saudi disebabkan oleh penurunan komitmen AS. Namun Mearsheimer menegaskan, masalah utamanya jauh lebih teknis dan mendasar: di era perang modern saat ini, membangun sistem pertahanan udara yang sanggup menangkis seluruh gelombang serangan musuh hampir mustahil dilakukan.
2. Keunggulan Penuh di Pihak Penyerang
Dalam perang modern, serangan udara tidak lagi hanya mengandalkan jet tempur biasa, melainkan kombinasi dari:
- Rudal balistik berkecepatan tinggi,
- Rudal jelajah (cruise missile) yang terbang rendah, dan
- Kawanan drone (swarm drones) yang murah namun mematikan.
Ketika dikirim dalam jumlah besar (saturation attack), kombinasi senjata ini sangat mudah melumpuhkan (overwhelm) sistem pertahanan udara canggih seperti Patriot. Sebanyak apa pun rudal pencegat yang disiapkan, selalu ada rudal atau drone musuh yang lolos dan menghantam target.
3. Realitas yang Terjadi pada Israel dan Ukraina
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






