More

    Mengapa “Proyek Israel Raya” Berada di Ambang Keruntuhan?

    Oleh: Furqan AMC*

    Dunia sedang menyaksikan pergeseran tektonik dalam geopolitik Timur Tengah/Asia Barat. Narasi usang yang selama puluhan tahun mendikte dinamika wilayah tersebut kini menghadapi realitas baru yang tak terhindarkan. Dalam sebuah dialog mendalam bersama Glenn Diesen, Profesor Jeffrey Sachs, ekonom terkemuka sekaligus pakar hubungan internasional asal Amerika Serikat, memaparkan tesis yang mengejutkan namun sangat beralasan: The Greater Israel Project atau “Proyek Israel Raya” sedang menuju ambang keruntuhannya.

    Menelusuri Akar Ideologi Proyek Israel Raya

    Untuk memahami mengapa proyek ini goyah, kita harus terlebih dahulu mengupas definisinya. Proyek Israel Raya bukanlah sekadar konsep pertahanan, melainkan sebuah ambisi politik dan ideologis jangka panjang. Akar utamanya menguat pasca-Perang Enam Hari tahun 1967, saat Israel merebut kendali penuh atas wilayah sisa Mandat Britania Palestina, termasuk Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur. Esensi dari proyek ini adalah penolakan mutlak terhadap pembentukan negara Palestina yang berdaulat, dengan tujuan mempertahankan kontrol abadi atas seluruh tanah tersebut.

    - Advertisement -

    Dalam perkembangannya, ambisi ini meluas melalui dua narasi utama. Pertama, argumen keamanan sekuler yang mengklaim bahwa Israel secara militer hanya akan aman jika menguasai wilayah strategis di luar batas aslinya, seperti Dataran Tinggi Golan di Suriah hingga Lebanon Selatan. Kedua, doktrin teologis ekstremis yang dianut oleh kelompok religius radikal. Mereka menginterpretasikan teks biblika secara literal, mengklaim hak ilahi atas tanah yang membentang luas dari sungai di Mesir hingga Sungai Efrat di Mesopotamia.

    Sebagai seorang Yahudi Amerika, saya mendapati pandangan supremasi ini sangat menjijikkan dan bertentangan dengan ajaran Yudaisme rabi tradisional selama dua ribu tahun yang mengajarkan moralitas universal.” 

    Prof. Jeffrey Sachs

    Simbiosis Politik Dalam Negeri dan Sokongan Geopolitik AS

    Profesor Sachs menggarisbawahi bahwa pemerintahan di bawah Benjamin Netanyahu selama tiga dekade terakhir merupakan manifestasi paling radikal dari proyek ini. Di dalam koalisi internalnya, Netanyahu merangkul tokoh-tokoh ekstremis kanan seperti Bezalel Smotrich dan Itamar Ben-Gvir yang secara terbuka mengampanyekan supremasi etno-religius. Melalui kebijakan aneksasi de facto dan perluasan permukiman ilegal di Tepi Barat, mereka berusaha mengubah demografi wilayah secara permanen.

    Namun, agresi domestik ini tidak akan bertahan tanpa sokongan eksternal. Sejak pertengahan tahun 1990-an, kebijakan luar negeri Amerika Serikat seolah terkunci untuk mendanai dan melindungi proyek ini. Sachs menjelaskan bahwa fenomena ini digerakkan oleh aliansi lobi Zionis yang kuat di Washington serta puluhan juta pemilih Kristen Evangelikal radikal di AS. Bagi kelompok Evangelikal, penguasaan penuh Israel atas tanah tersebut dipandang sebagai prasyarat teologis demi nubuat keagamaan mereka sendiri—sebuah motivasi yang ironisnya tidak didasari oleh kepentingan murni geopolitik Amerika maupun keselamatan jangka panjang warga Yahudi.

    Faktor Utama Runtuhnya Sang Proyek Raya

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here